
Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah-celah pada lubang kecil yang sengaja di buat sebagai ventilasi,bau disinfektan menyerbak memenuhi lubang hidung,ruangan yang bercat putih dan banyaknya alat medis disana-sini.
Alifa mengerjakan mata,linglung menatap sekitar.Lupa akan kejadian semalam,mahkotanya yang telah di jaganya hampir di renggut paksa oleh orang asing.Beruntung,ada orang yang datang tepat saat semua akan menjadi hitam dalam hidupnya.
"Kau sudah sadar".Suara berat dari seorang laki-laki,menyapa Alifa saat matanya baru terbuka.
Di lihatnya orang yang tengah duduk di sofa sembari menatap layar smartphone yang ada di genggaman tangannya."Akmal?".
Akmal yang merasa terpanggil,menghampiri brankas Alifa."Yah ini aku.Aku yang menyelamatkan kamu di malam naas itu".
Alifa teringat akan kejadian semalam,dimana kesuciannya hampir terengut,ingat betul ada seorang pria yang menolongnya tapi tak dapat melihat dengan jelas pria yang menolongnya.
Alifa menundukkan pandangannya,merasa malu."Terimakasih pak Akmal.Jika,tidak ada bapak entah apa yang akan terjadi pada diri saya".Setetes cairan bening lolos di pipinya yang putih.
Akmal menatap sendu,rasa geram menyeruak dalam hati.Tak habis pikir jika. bilamana kakak perempuan,adik perempuan atau saudari-saudari perempuannya mengalami hal yang serupa dengan Alifa.
"Sama-sama Alifa.Jangan kamu mengingat malam itu lagi.Tersenyumlah walau dunia begitu keras".Akmal kembali lagi ke sofa,mengambil berkas penting bahan untuk meeting.
"Alifa sebelum aku pergi,maukah kau menceritakan tentang kejadian semalam".
Alifa menatap Akmal sekilas,sebelum pada akhirnya harus kembali menunduk."Haruskah aku menceritakannya?".
Akmal kembali menghampiri brankas Alifa."Yah,itu sangat penting bagiku.Aku ingin membuat laporan atas kasus pelecehan yang menimpa kamu".
Alifa menghela napas,mencari kekuatan untuk kembali menceritakan kejadian malam yang sesungguhnya tak ingin dia ceritakan.
__ADS_1
"Alifa aku mohon".Akmal tetap setia berdiri,menanti Alifa menjelaskan kronologi kejadian.
"Baiklah,akan aku ceritakan sebagai bentuk rasa terimakasih ku".
"Terimakasih Alifa,aku akan mendengarkan nya dengan baik dan akan menyimpan rapat-rapat kejadian kemarin malam".
"Jadi begini pak.."Alifa menceritakan kembali pada malam sebelum kejadian itu di mulai.Kenapa dia pulang malam,hingga harus naik angkot untuk mengantarkannya pulang.Dan berakhir dia harus berada di rumah sakit ini
Akmal mengepalkan tangan.Bisa- bisanya ada seorang CEO yang begitu tega membiarkan karyawati perempuannya harus pulang malam.
"Apakah kamu bekerja di Perusahaan Artama Group dan pemimpin nya bernama Deon Artama".Akmal langsung berbicara pada intinya.
Alifa kembali menatap Akmal.Seketika pandangan mereka beradu.Memancarkan pandan yang berbeda.Akmal dengan sorot mata nyalang, seperti orang yang sedang menahan emosi.Sedangkan Alifa memancarkan sorot keprihatinan."Yah".Alifa memutus tatapan mata mereka.
"Oh ya ampun,aku punya pekerjaan penting yang harus aku selesaikan hari ini.Sebab besoknya akan di laksanakan meeting".Alifa di Landa kekhawatiran berlebih sebab baru teringat dengan pekerjaannya yang terbengkalai.
"Sebab itu adalah kewajiban saya.Saya menerima haknya,maka saya pula harus memenuhi kewajiban saya".Kilah Alifa
"Hebat,wanita yang bertanggung jawab".Akmal bertepuk tangan,merasa kagum dengan sosok wanita yang ada di hadapannya.
Akmal menunjukkan panggilan yang tak terjawab dari CEO yang di sebutkan ya tadi."Pantas dia terus menghubungi mu terus".Di kembalikannya smartphone itu pada pemiliknya.
Alifa menerima smartphonenya."Oh ya ampun,celaka aku".Alifa menepuk jidatnya.Ingin pergi kerja,tapi kepalanya masih terasa pusing.Tidak masuk,itu akan mengubah reputasinya.
"Kau mau pergi?".Akmsl menginterupsi Alifa yang hendak menurunkan kakinya.
__ADS_1
"Aku harus menyelesaikan pekerjaan ku dulu".
"Kamu,bisakan mengerjakannya di rumah aja.Gak usah datang ke kantor".
"Tapi.."
"Bertanggung jawab bukan berarti harus membahayakan nyawamu bahkan kamu hampir kehilangan kehormatan mu itu akibat keegoisan atasan mu.Kau hubungi saja atasan mu.Bilang kalau kamu tidak bisa datang.Sebab, kesehatan kamu untuk sekarang jauh lebih penting".Akmal memberikan ide yang tak pernah terpikirkan oleh Alifa.
"Aku pergi dulu.Kau,ingat tetap disini.Sebentar lagi sarapan mu akan di bawakan oleh perawat yang jaga.Assalamualaikum ".
Akmal benar-benar pergi, meninggalkan Alifa yang masih di Landa kebingungan.Antara menyetujui usulan Akmal.Atau tetap nekat pergi ke kantor.
Sementara itu,di ruang kerja milik CEO Artama Group.Deon tak henti-hentinya mengumpati Alifa.Sudah beberapa kali dia menghubungi nomer Alifa,tapi selalu suara operator yang menjawab.
"Sial,kemana cewek itu berada.Semua berkas penting ada padanya".Deon mengebrak meja,geram dengan wanita yang satu itu.Lupa akan rasa cinta yang pernah ada untuknya tergantikan oleh rasa kecewa.
Deon yang masih di runding,rasa kecewa bercampur khawatir.Akhirnya bisa bernapas lega.Saat pintu di ketuk oleh seseorang.Menampakkan sosok wanita yang telah di tunggu-tunggu nya.
Yah,Alifa lebih memilih untuk datang ke kantor.Menyelesaikan pekerjaan yang di embankan kepadanya.Mungkin,ini juga adalah pekerjaan yang terakhir yang harus dia kerjakan.
"Darimana saja kau?,apa lembur semalam,bisa membuat kamu seenaknya datang ke kantor?".Deon langsung mengomeli Alifa begitu Alifa sampai di ruangannya.
"Maaf pak".Alifa menundukkan kepala.Sakit,Alifa rasakan bukannya bertanya alasan kenapa dia datang terlambat.Malah cacian yang dia dapatkan.
"Sudah,kembali bekerja sama".Deon mengarahkan telunjuk tangannya,mengusir Alifa secara kasar.
__ADS_1
Alifa menyeret kakinya, melangkah keluar dari ruangan nistanya.