Cinta Datang Terlambat

Cinta Datang Terlambat
BAB 36 (TIGA PULUH ENAM)


__ADS_3

Di lorong Rumah sakit. Ozy, Atria dan Riki berlari dengan tergesa-gesa. Fikiran Ozy terus di hantui oleh Elfi sedangkan Riki dan Atria memikirkan ketiga teman nya yang lain.


Sesuai informasi pak satpam sebelum mereka keluar sekolah, Zahra juga ivan pulang karna Zahra sakit. Tapi, mereka tidak tau kabar Rita dan Farel.


"Mah." Igau Elfi, saat tubuhnya di letakan di brankar Rumah sakit oleh Ozy.


"Sakit mah, pah. Maafin Elfi nyembunyiin ini semuanya dari kalian." Igau nya lagi


"Dokter Maria." Panggil salah satu suster yang ikut mendorong brankar milik Elfi.


"Iya,sus?" Tanya Dokter Maria mendekat.


"Elfi?" Ucapnya dengan kaget.


"Bagaimana bisa, harusnya..." tidak melanjutkan Ucapan nya, Dokter Maria menghapus darah yang terus mengalir di hidung milik Elfi.


"Bawa ke IGD!" Ucap Dokter Maria


"Baik!"


Ozy mondar-mandir di depan pintu ruang IGD, 45 menit sudah Dokter di dalam. Tapi, tidak ada tanda-tanda Dokter ingin menunjukkan batang hidungnya.


"Zy, tenanglah! Semuanya akan baik baik saja. Sekarang, lebih baik lo hubungan orang tua Elfi.


Tanpa berucap dan hanya di jawab anggukan, Ozy merongkah saku celananya mencari benda pipih di dalamnya.


Drr drr handphone milik Atria begetar.


Rita sayang❤


+6283687++++++


Atria segera menekan Icon berwarna hijau.


'Assalamualaikum.'


'Waalaikumsalam.'


'Atria, lo dimana?' Ucap suara Rita di sebrang sana.


'Di Rumah sakit' jawab Atria


'Siapa yang sakit? Lo?'


'Elfi!'


'Apa? Gue ke situ sekarang, kirim aja alamat rumah sakit nya lewat chat.'


'Lo lebih baik cari Zahra dulu, Rit. Tadi kata pak satpam Zahra sakit, terus dia pulang. Pastiin dia baik-baik aja. Gue belum bisa ya Rit.'


'Siap-siap, alamat rumah sakitnya tetep harus lo kirim'


'Iya'


Tut panggilan pun terputus


"Rita?" Tanya Riki, manatap Atria dengan mimik wajah khawatir.


Atria mengangguk pelan. "Kamu pucet banget, sayang. Minum obat dulu yah." Ucap Riki, mengelus kedua pipi Atria lembut.


Atria menggeleng. "Elfi lagi engga baik-baik aja, kak." Ucap Atria lirih


"Gapapa, tri. Makan aja dulu! Udah itu minum obat. Elfi kan ada gue, udah lo makan balik lagi sini, lo mau, lo juga ikut sakit lagi terus di rawat dan lo engga bisa jagain Elfi?" Ujar Ozy panjang lebar tapi dengan nada lirih.


Atria menggeleng, "gak mau!"


"Yaudah sekarang makan terus minum obat yah." Ucap Riki lembut


"Obatnya mana?" Tanya Atria polos

__ADS_1


"Ya beli, di sini ada farmasi sayang." Jawab Riki, "ada resep yang di kasih dokter tadi." Tambahnya.


Atria hanya mengangguk pelan, "beri kabar Elfi akan baik-baik saja, kak." Ucap Atria lirih


Ozy hanya tersenyum getir


"Kenapa?" Tanya Farel setelah Rita mengakhiri telepon dengan Atria.


"Elfi sakit. Atria, Riki dan Ozy ada di rumah sakit. Zahra juga sakit tapi dia pulang kata Atria." Jelas Rita


"Terus kita kemana dulu?" Tanya Farel


"Cek keadaan Zahra dulu." Jawab Rita


"Yaudah jangan buang-buang waktu."


Rita hanya mengangguk


Untung nya sekolah mereka sedang sibuk mempersiapkan untuk pramuka. Jadi murid-murid yang tidak berkepentingan bisa kesana-kemari kecuali keluar dari lingkungan sekolah. Bisa keluar dari area lingkungan sekolah jika benar-benar mendesak.


'Ting nung', Rita menekan bell rumah orang tua Elfi


"Sebentar." Ucap seseorang dari dalam


'Ckelet' pertanda knop pintu di buka


"Eh, non Rita. Ada apa?" Tanya Seorang wanita paruhbaya.


"Zahra ada bi?" Tanya Rita


"Non Zahra? Belum pulang non, emang kenapa?"


"Apa? Belum pulang?" Teriak Rita, matanya menatap Farel. Menyiratkan ke khawatiran di sana.


"Belum non. Emangnya kenapa?"


"Oke bi makasih. Jangan kasih tau orang tua Zahra yah, kita akan cari Zahra." Ucap Rita


"Iya bi." Ucap Rita, "yaudah kita pergi dulu, assalamualaikum." Tambahnya


"Waalaikumsalam."


"Kita harus kemana, kak?" Tanya Rita setelah mereka berada di luar gerbang rumah Zahra.


"Ke rumah ivan." Jawab Farel


"Boleh." Ucap Rita


Ozy mengacak-acak rambutnya frustasi. Bagaimana tidak, dokter telah keluar tapi tidak memberikan tahu-menahu tentang keadaan Elfi.


Dokter mengatakan bahwa Elfi baik-baik saja tapi sorot matanya menunjukkan kebohongan. Bagaimana Ozy bisa percaya."


Ozy menatap Elfi dari luar ruangan IGD, karna belum di pindahkan atau memang tidak akan karna akan melakukan sesuatu. Dan Ozy tidak di Izinkan untuk masuk.


"De." Ucap Seorang suster menepuk bahu Ozy.


"Iya sus?" Tanya Ozy


"Jika orang tua nya sudah ada tolong katakan temui dokter Maria."


"Iya sus!"


"Yasudah." Ucap Suster itu lalu pergi.


'Ting nung' Farel menakan bell rumah ivan


Tidak ada jawaban atau sautan


'Ting nung' untuk kedua kalinya Farel menekan bell

__ADS_1


"Iya." Ucap seseorang dari dalam rumah


'Ckelet' pertanda pintu di buka


"Den Farel yah?"


"Iya bi!" Jawab Farel


"Ada apa?" Tanya nya


"Ivan ada?" Tanya Farel


"Den Ivan? Belum pulang tuh, den."


"Serius bi?" Tanya Farel


"Iya den, emangnya kenapa?"


"Engga papa, yaudah bi kita pergi dulu." Pamit Farel


"Iya den."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Kemana lagi kak?" Jawab Rita, menghembuskan nafasnya kasar


"Apartemen Ivan." Ucap Farel, "itu yang terakhir kita kunjungi." Tambahnya


Rita mengangguk pasrah.


Pasalnya Handphone milik Zahra dan Ivan tidak aktif, padahal selama di perjalanan Rita terus mencoba menghubungi Ivan dan Zahra.


"Udah, nih minum obatnya." Ucap Riki menyerahkan empat pill jenis obat pada Atria.


Atria menerima pill itu dan menatapnya melas, "gede-gede lagi obatnya." Ucap Atria pelan


"Resiko, suruh siapa sakit." Ujar Riki


"Ish, gapapa lah Atria yang sakit asal jangan kak Riki aja." Ucap Atria. Mulai memasukan satu persatu obat kedalam mulutnya.


"Malah aku harap aku aja yang sakit jangan kamu." Ucap Riki, menatap Atria lembut lalu tersenyum penuh arti.


Atria menggeleng, "jangan. Nanti kalau kakak yang sakit siapa yang jagain aku?" Bantah Atria


Riki diam


"Yaudah yuk, kak." Ucap Atria, Riki hanya mengangguk pelan. "Gue takut kak Ozy bunuh diri kalau di tinggal sendiri." Kekeh Atria


Riki tersenyum simpul


"Ivan buka." Teriak Farel dari luar Apartemen milik Ivan


"Ivan." Teriak Farel


"Sabar yang." Ucap Rita, "dobrak aja kalau bisa, kalau ada kerusakan ya itu urusan, Ivan." Kekeh Rita


Farel tersenyum, kekasih nya ini ada-ada saja orang lagi emosi juga, tapi untung lah Rita sendiri bisa mengendalikan nya.


Farel mendobrak pintu apartemen sampai akhirnya terbuka.


"Sakit yah, yang?" Tanya Rita, Farel hanya tersenyum lalu mengangguk pelan.


"Ivan!" Teriak Farel, mulut nya menganggang, menunjukkan keterkejutan di sana.


Sama hal nya dengan Farel, Rita tak kalah terkejutnya dengan Farel.


Melihat Ivan bertelanjang dada dengan seorang wanita, dan berselimut barengan dengan posisi Ivan memeluk seorang wanita, siapa yang akan berfikir mereka tidak melakukan apa-apa?

__ADS_1


Next or stop?


__ADS_2