
Alifa membiarkan Akmal memeluknya.Tak di pungkiri Alifa membutuhkan bahu untuk bersandar.Kepalang sudah di ketahui,Alifa membiarkan Akmal menenangkan dirinya.
Benar,apa yang di katakan Akmal tak seharusnya dia menyimpan masalah sendirian ada baiknya dia berbagi dengan orang lain.Dengan bercerita memang tidak akan mengurangi masalah,tapi dengan bercerita kita bisa sedikit melepas beban di hati.
"Aku malu menceritakan masalah ku dengan orang lain".Ucap Alifa, membuka suara.
Akmal merenggangkan pelukannya,menatap wajah cantik Alifa yang tertutup awan kelabu."Jika kamu malu,ingat kata ku.Masih ada Allah SWT tempat my berkeluh kesah". Akmal menyentuh dagu Alifa, mengangkat wajahnya.
"Aku terlalu malu.Aku yang datang padaNya saat ada butuhNya saja".Ucap Alifa,serak.
"Jangan malu, justru Dia akan senang bila hambaNya datang kepadaNya.Saat kamu tertimpa masalah,Dia akan berbisik padamu.Kemarilah wahai hamba Ku,berkeluh kesah lah pada Ku niscaya akan aku ringankan beban my".Ucap Akmal, menasehati Alifa.
"Benarkah?".Alifa reflek memegang lengan Akmal.
"Iya Alifa.Berbagi lah,jangan menyimpan sendirian.Jangan berlari terus, hadapilah Alifa".Akmal mengusap puncak kepala Alifa.
__ADS_1
Hening,tak ada satupun yang memulai kembali pembicaraan.Hanya suara isakan Alifa yang sesekali terdengar.Akmal memposisikan diri menjadi berhadapan dengan Alifa.Memandang lekat-lekat sosok yang terlihat kuat namun,rapuh itu.
"Salahkah aku bila aku membenci ayah kandung ku?,salahkah aku yang menentang keputusan nya?".Tanya Alifa, memberanikan diri bertanya.
"Tergantung".
Alifa memberanikan diri untuk menatap pria yang ada di hadapannya."Maksudnya?".Tanyanya tak mengerti
"Tergantung,kamu membenci ayah mu karena apa?jika memang ayah mu mengajarkan kamu yang tidak benar.Maka,kamu berhak untuk membencinya dan untuk pertanyaan yang kedua,apa kamu berhak untuk menentang ayah mu?,jawabannya adalah sangat boleh jika memang ajarannya tak sesuai dengan keyakinan yang kamu yakini ".
Akmal menarik napas dalam-dalam,lalu menghembuskan."Alifa,maaf kan aku yang dengan lancang aku secara diam-diam menyelidiki masalah mu.Aku tau,Alifa".Akmal menjeda ucapannya, menguatkan diri sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku tau,kamu adalah seorang mualaf.Ayah mu menentang keras keputusan mu yang memilih menjadi mualaf.Memisahkan paksa dengan keluarga mu,memiskinkan diri mu,dan mengucilkan kamu.Lalu,apa yang kamu lakukan.Kamu lebih memilih untuk membenci ayah kamu sendiri, menasbihkan diri untuk membalaskan rasa sakit itu.Kamu bahkan berlari sejauh mungkin,untuk menghindari masalah.Tapi untuk apa itu semua,Alifa".Jelas Akmal
Alifa tercengang dengan kata-kata Akmal,tak pernah ada dalam pikirannya bahwa orang lain sampai tau dengan masalah keluarga nya.
__ADS_1
"Amy tidak tau apa yang aku rasakan,luka hati yang bersemayam selama bertahun-tahun.Tapi,apakah ayah ku mencari ku selama aku pergi?,apa ayah ku peduli dengan kehidupan ku di luaran sana?. Nyatanya tidak.Selama ini dia tidak pernah mencarinya bahkan peduli dengan ku.Semua yang dia lakukan hanya sekedar pencitraan saja".Sentak Alifa, keadaan nya sekarang sudah membaik.Otaknya bekerja dengan cepat,tak lagi terlena oleh kata-kata manis Akmal.
Alifa bangkit dari duduknya,mundur beberapa langkah untuk menciptakan jarak diantara keduanya."Jangan mencoba menasehati ku,sebab kamu tidak tau apa yang aku rasakan".Gertak Alifa,nada bicaranya meninggi.Tsk ingin lagi bersikap lemah lembut.
"Aku tau Alifa".
"Tau apa,bahkan kamu sama pecundangnya seperti Deon.Tega,menyakiti wanita dengan alasan mendidik wanita itu untuk menjadi wanita kuat.Cuih,alesan saja".Sambar Alifa,tak tahan untuk menumpahkan rasa sesal dan amarahnya yang selama ini dia berusaha tahan.
"Jangan pernah ikut campur dengan masalah ku.Kamu dan deon,hanya melihat masalah dari sudut pandang kalian sendiri.Lupa,kalau aku lah yang menjadi korbannya disini".Alifa menepuk-nepuk dada,merasa sesak akibat rasa sakit yang menggunung.
"Al, dengarkan aku".
"Tak ada yang perlu di dengarkan lagi.Kalian sama aja".Sambar Alifa,berlalu pergi begitu saja dengan membawa rasa sakit di hatinya.
Menyesal rasanya,Alifa membiarkan Akmal masuk ke dalam hidupnya.Jika,pada akhirnya akan bernasib sama.Hanya ceramah,ceramah dan ceramah yang menyudutkan dirinya sendiri.Tapi,tak ada yang mau memahami kepedihan hatinya.
__ADS_1
"Tau begini,mending aku resigh aja dari dulu".Gerutu Alifa, membanting pintu secara kasar.