Cinta Datang Terlambat

Cinta Datang Terlambat
Part 171


__ADS_3

Brian yang sudah terbiasa dengan sikap Akmal,dia terlihat biasa saja malahan dia dengan santai nya menarikan kursi untuk dia duduki dan dengan santai pula dia menyandarkan kakinya keatas meja Akmal.


"Apa kau tidak bisa lebih sopan?".Tanya Akmal.


"Bisa aja,asal_".


"Asal apa?".Tanya Akmal, penasaran.


Brian tersenyum licik, mengangkat tangannya lalu mempertahankan jari jempol dan juga jari telunjuk, dinaikkan turunkan nya kedua jarinya."Money". Ucapnya lantang.


"Kalau sama duit aja,cepet".Gertak Akmal,sembari memukul kaki Brian.


"Uang bukan segalanya tapi segalanya pake uang".Sahut Brian.


"Oh begitu".


"Yah".Ucap Brian."Selama ini aku sudah memenuhi perintah mu dengan tepat dan cepat waktu.Sekarang,mana imbalannya". Ucapannya lagi sembari menengadahkan tangan.


Ingin rasanya Akmal menoyor kepala Brian,tapi dia urungkan.Takut otak cerdas asistennya itu berjalan lelet.


"Kamu kayak baru bekerja dengan saya aja.Berapa yang kamu minta, nanti saya akan transfer ke rekening mu".


"Cash".Timpal Brian."Aku inginnya cash bukan transfer dan harus hari ini pula".Gertak Brian.


"Belagu amat loe,di kasih hati minta jantung.Sudah minta jantung,mau minta apa lagi?".Tanya Akmal,sembari memukul meja.


Brian juga ikut berdiri,tak menyangka reaksi tuannya akan berlebihan seperti ini."Eits,sabar pak bos".Ucap Brian lembut.


"Sabar kata mu?,orang seperti kamu itu sudah tak bisa lagi di Sabari, mestinya di kasari".

__ADS_1


"Hehe..Sorry".Brian malah menyengir kuda.


Dia berjalan mendekat kearah Akmal."Aku punya berita bagus".Bisiknya tepat di telinga Akmal.


"Apa?".Tanya Akmal penasaran.


Lagi Brian tersenyum jahil."Tapi kamu jangan marah".


"Yah".


"Tapi bohong".Teriak Brian, sembari berlari.


Akmal sudah habis kesabaran nya,dia lepas sepatunya dan melemparkannya kearah Brian.


"Wlee".Ucap Brian, menjulurkan lidahnya.


Akmal dan Brian memang suka bercanda,lebih tepatnya Brian lah yang suka bercanda, padahal dia tau sendiri bahwa Akmal tak bisa diajak bercanda.


Hubungan mereka pun tak seperti hubungan antara atasan dan bawahan pada umumnya, hubungan mereka layaknya kakak dan adik.


....


Lama-lama Alifa bosan juga terus memandang deburan ombak pantai pasir putih.Belum lagi ada Deon yang di temui secara tidak sengaja.


Tak ingin menimbulkan fitnah diantara keduanya.Alifa memilih pergi, meninggalkan Deon yang masih mematung.


"Alifa".Teriak Deon.


Tepat di langkah kaki Alifa yang keempat.Alifa tak memperdulikan teriakan Deon,dia memilih pergi tanpa permisi.

__ADS_1


"Alifa".Teriak Deon lagi.


Lagi Alifa tak menanggapi teriakan Deon.Fokusnya sekarang adalah kantor nya.Kembali bekerja setelah dia rasa cukup untuk mengamati daerah PIK 2.


"Mungkin Akmal sedang ada disana?".Gumam Alifa.


Langkah kaki nya semakin lebar,rasa rindunya mengalahkan egonya.Akmal tak hanya menjadi suaminya sekarang,tapi menjadi mood untuk menjalani hari-harinya.


Alifa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang,tak lagi berada di luar batasan.Pikiran dan hatinya sekarang sudah lebih rileks.Tak lagi sekalut tadi.


Kembali dia mendengarkan musik untuk menemani perjalanannya.Alunan musik mampu menenangkan dirinya karena melalui musim lah, segala masalah dan perasaan bisa tersalurkan.


Alifa dengan semangat baru dan pikiran baru telah kembali ke kantor, berharap sang suami masih ada di kantornya.


Harapan Alifa bukan sekedar harapan.Karena kini, akmal tengah saling kejar-kejaran dengan seorang pria yang dia ketahui adalah Brian.


Yah, dengan siapa lagi akmal bisa melakukan segila itu,selain bersama dengan Brian.Asisten usilnya.


"Sudah selesai kejar-kejaran nya?". Tanya Alifa, menginterupsi aksi kedua pria yang ada di hadapannya.


Akmal yang sejak tadi greget,ingin membalas perbuatan brian.Tiba-tiba menghentikan langkah kakinya demi mendengar suara wanita yang di kenalinya.


"Sudah selesai?".Tanya Alifa lagi.


Akmal memutar tubuhnya kearah belakang,demi meyakinkan praduga nya.


Deg


"A A-li-fa".Ucap Akmal, gelagapan.

__ADS_1


__ADS_2