Cinta Datang Terlambat

Cinta Datang Terlambat
BAB 19 (SEMBILAN BELAS)


__ADS_3

1 minggu sudah atria berada di rumah sakit menemani sang kakak yang ntah kapan sadar


"Kakak gue rindu" ucap Atria menenggelamkan wajahnya di balik tangan mungil nya yang sedang menggenggam tangan kanan Riki yang tidak terkena selang infus


"Bentar lagi masuk lo kapan sadar ki?" Tanya farel


Ya teman teman atria dengan berbaik hatinya mereka menemani atria secara bergantian, mereka merelakan waktu liburnya di rumah sakit


"Sabar tri" ucap rita mengelus pundak atria dengan sayang "Gue yakin secepatnya kakak lo pasti sadar percaya sama gue" tambah rita


Atria hanya mengangguk


Zahra vov


Zahra berjalan pelan sambil melamun di jalan kompleks sebenarnya dirinya ingin ada yang menemani tapi bagaimana sahabat Atria sedang terluka karna kakaknya tak kunjung sadar itupun akibat ulah pacar nya itu


Sedangkan Rita ia juga menemani atria mungkin juga memberikan suport agar atria bersabar menunggu kesadaran kakak nya dan


Elfi dia Ntah kemana mungkin juga menemani atria yang pasti ia butuh teman sekarang


"Zahraa" Teriak seseorang


Zahra menoleh ke belakang lalu tersenyum

__ADS_1


Elfi berlari lari kecil menghampiri zahra yang jaraknya lumayan


"Hos hos lo hos lo" ucap elfi ngos ngosan


"Ambil nafas dulu sayang" ucap Zahra tertawa kecil


"Sayang?" Ucap Elfi menyatukan alisnya bingung "oo lo butuh seseorang buat lo panggil sayang?" Tambah elfi terkikik geli


"Emangnya gue gak boleh bilang sayang ya" ucap Zahra sambil mengembungkan pipinya


"Boleh sihh tapi gue dengernya geli tau" ucap Elfi


"Hmm"


"Temenin gue ke toko buku yu ra" ucap elfi


Rumah sakit


"Kak ivan gue yakin dia gak akan lari dari tanggung jawab gue yakin dia punya alasan gak kesini?" Batin atria


"Hidup gue ko jadi melow gini sih" guman atria


"Kapan lo sadar bro" ucap farel yang ikut jengah menanti kesadaran riki farel menatap semua benda medis yang menempel di anggota tubuh riki

__ADS_1


Tuk tuk tuk ketuk seseorang di luar pintu


"Masuk" ucap rita


Seorang lelaki yang sudah tidak muda (jangan berfikir tua ya gak tua tua banget ko wkwk kembali ke topik) berdiri di ambang pintu tatapan lelaki itu langsung mengarah pada pemuda yang berbaring di lengkapi alat medis, tak terasa tanpa di suruh lelaki itu meneteskan air mata


"Papah" panggil atria pelan lalu menunduk atria tak sanggup melihat papahnya ada sirat kebencian muncul di hati atria kala melihat dan mengingat apa yang selama ini papahnya lakukan untuk riki dan atria


Sebuah pelukan atria merasakan sebuah pelukan yang selama bertahun tahun ia tunggu, apa yang harus atria lakukan? Apakan ia harus menangis haru? atau apakan ia harus marah? Itu membuat atria bingung


Atria tidak membalas pelukan sang ayah dia hanya diam ditundukan nya kepala sesekali dia memejamkan matanya, perasaan atria bercampur aduk saat ini


"Maafin papah" bisik sang ayah mempereerat pelukannya pada atria


"Kesalahan papah terlalu banyak" jawab atria melepaskan pelukan sang ayah dengan kasar, entah darimana atria mengucapkan kata itu kata yang barusan terucap benar benar diluar kendali atria


"Papah tau" jawabnya sambil menatap anak laki lakinya yang sedang berbaring


"Bangun nak papa minta maaf" ucap sang ayah menangis memeluk tubuh riki sesekali tangan nya menusap rambut sang anak


"Mas udah" ucap seorang wanita mengusap punggung sang ayah mencoba menguatkan


Mata atria nyalang ia marah kenapa ada wanita itu disini

__ADS_1


"Kenapa papah bawa wanita itu kesini" desis atria


Rita dan farel yang tidak tau apa apa tentang kehidupan mereka hanya menatap mereka polos


__ADS_2