Cinta Datang Terlambat

Cinta Datang Terlambat
BAB 38 (TIGA PULUH DELAPAN)


__ADS_3

"Fi, aku sayang kamu! Aku cinta sama kamu! Aku mau kamu jadi calon ibu untuk anak-anak kita nanti! Tapi, semua itu engga sesuai dengan keinginan aku, kita terpisah, Fi. Kamu jahat sama aku kamau jahat! Kamu ninggalin aku sendiri di sini." Curhat Ozy di tengah malam yang dingin.


Ozy tidak peduli dengan hujan yang mengguyur tubuhnya, bajunya pun belum berganti masih seragam Sma. Orang terdekat telah membujuknya berkali-kali, tapi tidak di hiraukan nya. Yang iya ingin ia ingin bersama Elfi! Ingin Elfi! Hanya ingin Elfi!


"Sayang, kamu inget gak? Awal pertemuan kita, kamu baik banget, senyum kamu manis. Itu yang membuat aku awal jatuh cinta sama kamu."


"Engga terlalu banyak kisah sama kamu sayang, tapi itu sungguh membuatku bahagia. Kamu udah jadi candu buat aku, yang. Kamu udah jadi segala. Tapi, kamu hancurin kebahagiaan aku gitu aja!"


"Oiya, aku tau kamu pasti marah sama aku kan, yang? Gara-gara kamu liat aku sama cewek siang tadi? Kamu salah faham sayang. Dia sepupu aku yang kalian gak tau. Kamu tau? Tadinya aku mau nyiapain kejutan buat kamu dengan cara yang berbeda. Tau nya kamu duluan yang ngasih aku kejutan dengan cara yang bener-bener nyakitin aku. Aku sayang kamu, Fi! Sayang kamu! Kamu tega giniin aku kamu tega!"


"Fi, apa aku harus nyusul kamu?" Tanya Ozy lirih


Celotehan celotehan Ozy berhenti pada pukul 3 malam dini hari.


"Sayang udah jam 3 udah dong nangis nya." Ucap Riki, menggenggam tangan kiri Atria yang terasa dingin.


Matanya telah tergerat terbentuk bulat warna hitam, matanya memerah, hidungnya pun telah mangpet. Rambutnya yang panjang acak-acakan seperti orang gila. Tatapan nya kosong, berkali-kali Riki mengajak Atria berbicara tapi hanya di sahut dengan "Elfi! Elfi! Elfi!"


Ntah harus dengan cara apa lagi Riki menenangkan Atria. Akhirnya iya menyerah! Di peluk kembali tubuh Atria lalu menarik selimut hingga menutupi semuanya kecuali wajah.

__ADS_1


"Yang, aku tau ini berat tapi...


"Stop kak stop!" Teriak Rita


Tak jauh berbeda dengan keadaan Atria, Rita pun sama seperti itu. Matanya telah tergerat terbentuk bulat warna hitam, matanya memerah, hidungnya pun telah mangpet. Rambutnya yang panjang acak-acakan seperti orang gila. Tatapan nya kosong.


Farel menggeleng lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Pukul 10 malam tadi papa Rita sendiri meminta Farel datang kerumahnya untuk membujuk putri pertamanya itu. Tapia sekarang sudah jam 3 malam dini hari, Rita sendiri tidak tertidur. Bujuk rayuan semuanya Farel keluar kan. Tapi, tidak berpengaruh pada Rita. Tatapan nya benar-benar kosong.


Akhirnya Farel menyerah. Ia menidurkan tubuhnya di samping Rita, lalu memeluknya hangat.


"Yang!" Desah Ivan, menatap Zahra iba.


Tak jauh berbeda dengan keadaan Atria dan Rita. Zahra pun sama seperti itu. Matanya telah tergerat terbentuk bulat warna hitam, matanya memerah, hidungnya pun telah mangpet. Rambutnya yang panjang acak-acakan seperti orang gila. Tatapan nya kosong.


Atria berjalan gontay menuju kelasnya. Tidak ada senyum di bibir nya, tidak ada pembicaraan di antara Riki dan Atria. Tergerat bentuk bulat hitam di sisi matanya, matanya sembab menandakan semalam ia menangis.


Riki mengerti itu. Atria sedang sangat terluka.


"Kakak ke kelas aja!" Ucap Atria pelan, menatap kursi yang di duduki Elfi sambil menitikan air mata.

__ADS_1


Riki menggeleng, "masih bebas. Aku mau nemenin kamu dulu di sini!" Ucap Riki, mengusap Pipi Atria yang basah. Atria hanya diam.


Tak jauh beda dengan Atria. Zahra berjalan gontay menuju kelasnya. Tidak ada senyum di bibir nya, tidak ada pembicaraan di antara Ivan dan Zahra. Tergerat bentuk bulat hitam di sisi matanya, matanya sembab menandakan semalam ia menangis.


Di perjalanan banyak yang mengucapkan turut berduka cita, Zahra dan Ivan hanya merespon nya dengan senyuman.


Zahra duduk di samping tempat Elfi. Sekarang tempat itu aku terasa sepi dan sunyi. Tidak ada senyum Elfi, tidak ada tawa Elfi, tidak ada canda Elfi dan segalanya tentang Elfi.


Tapi ketahuilah semua itu ada di dalam hati mereka masing-masing.


Zahra menatap tempat duduk Elfi dengan menitikan air mata, di sentuhnya perlahan tempat duduk terakhir kemarin ia duduk bersama Elfi.


Zahra dan Atria kembali terisak sambil menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.


Tak jauh beda dengan Atria dan Zahra. Rita berjalan gontay menuju kelasnya. Tidak ada senyum di bibir nya, tidak ada pembicaraan di antara Farel dan Rita. Tergerat bentuk bulat hitam di sisi matanya, matanya sembab menandakan semalam ia menangis.


Rita duduk dengan pelan di samping Atria, matanya menatap kusri Elfi yang ada di hadapan nya. Air matanya kembali menitih.


Riki, Ivan dan Farek saling pandang, mereka benar-benar bingung apa yang harus mereka lakukan.

__ADS_1


Tangis ketiga wanita itu membuat kepiluan di kelas mereka, tak hanya mereka kelas lain pun.


Mereka terus mencoba menghibur tapi nihil tidak ada yang berhasil. Hanya Ekspresi datar yang mereka berikan.


__ADS_2