
"Ya gue cuman ikut campur sedikit apa salahnya, tohh lo hidup bukan cuman sendiri kan" ucap riki tersenyum sinis mendorong tubuh ivan pelan
"Bacot" ucap ivan lalu memukul pipi riki membuat riki terjatuh dan tanpa di suruh darah mengalir dari samping mulut riki
Riki diam menyentuh pipinya yang terasa ngilu,lalu menyentuh darah yang berbau anyir
"Ehh kak itu ka ivan sama kak riki kan mereka kenapa?" Tanya rita pada farel
"Iyaa,ntah" ucap farel lalu menarik tangan rita ke arah ivan dan riki
"Kenapa marah?" Tanya riki sambil berdiri "Gue gak salah kan?" Tanya riki tenang "lagian gue bener kan biasanya pacar kalo kekasihnya pergi tanpa pamit di kejar bukan malah lo asik sama cewek lain"
"Dia temen lama gue" teriak ivan sambil menarik kerah baru kemeja riki
"Temen lama atau masa lalu" ucap riki menyingkirkan tangan ivan dengan kasar
Nafas riki memburu sekarang emosi nya sedang terpancing
"Gak usah so tau" teriak ivan
"Gue cuman nebak aja, ya masa kekasih lo pergi lo diem aja" teriak riki
"Van udah" ucap Fany sambil menyentuh lengan ivan
Riki tersenyum "sekarang gue tanya lo cinta gak sama zahra?" Tanya riki, pertanyaan yang membuat ivan langsung menatap riki tajam
"Yaiyalah gue sayang sama dia" ucap ivan tajam
__ADS_1
"Sayang sama cinta itu beda bro, lo udah dewasa harus nya lo tau perbedaan nya, kalo sayang lo bisa sayang sama dia sebagai adik,sebagai teman, sebagai sahabat atau keluarga, kalo cinta lo cinta sama dia cinta sebagai pacar ingat pacar, kalo lo belum berani bilang cinta sama pacar lo itu artinya lo gak punya perasaan lebih sama dia" ucap riki tak kalah tajam
Ivan diam, nafasnya memburu itu artinya emosi ivan makin terpancing
"Zahra nangis bro, gara gara lo! Dua cemburu liat lo sama cewek lain meskipun lo udah bilang dia cuman temen lo, di tambah lagi lo diemin dia dan lo malah asik sama temen cewek lo" ucap riki mampu membuat ivan diam seribu bahasa
"Gue tanya dia masa lalu lo atau bisa di sebut mantan?" Tanya riki
"Kalo iya" jawab ivan
Riki tersenyum "fixs! Lo masih belum move on dari dia" ucap riki sambil menunjuk Fany
"Ya jelas dia cinta pertama gue, lo tau gak? Ada orang yang bilang Kalo cinta pertama itu susah buat di lupain, dan itu benar" ucap ivan dingin
Riki menggeleng "tergantung kita nya sihh, tohh gue engga" ucap riki santai
"Ya karna mungkin lo gak cinta sama cinta pertama lo" ucap ivan meremehkan
Satu bogem mentah mendarat tepat di dada riki membuat riki terdorong
"Gue bukan lo" teriak ivan dengan nafas yang memburu menahan emosi
Riki menyentuh dadanya, ngilu iya sangat, ia juga merasakan sesuatu selain ngilu ya sesak, ia merasakan sesak kenapa? Rasanya ia tidak mempunyai penyakit sesak napas, tapi ada apa dengan dirinya?
"Kak riki baik baik aja" Tanya rita panik melihat riki *** dadanya
"Lo tuh apa apain sih van" teriak farel
__ADS_1
"Ya tuhan" batin riki dan semuanya gelap
"Kak rikiiiii" Teriak atria, berlari sambil menangis
Di Rs
Atria bolak balik kanan kiri kanan kiri di depan ruang UGD sudah 15 menit menunggu tapi dokter tak kunjung keluar dari ruangan itu
"Ya Allah" ucap atria sambil menangis
"Duduk tri" ucap farel menuntun atria duduk di kursi yang tersedia
"Minum dulu" ucap fauzy, yang baru datang dari kantin rumah sakit lalu memberikan minum air putih ke hadapan atria
Atria menggeleng
"Tenangin diri lo" ucap rita sambil memeluk atria mencoba menguatkan
Ivan dan zahra hanya diam ada Fany juga di sana
"Jangan di pikirin" ucap elfi memeluk zahra
Meskipun elfi tidak tau masalah dari awal dan hanya tau tengahnya saja tapi ia tau apa yang di rasakan sahabat nya itu
"Keluarga pasien?" Tanya Dokter itu mengagetkan mereka
"Saya adiknya dok" ucap atria pelan
__ADS_1
Dokter wanita itu menangguk lalu menuntun atria agar mengikutinya
Next or stop?