
Malam ini Alifa memenuhi ucapannya.Menyetujui,ajakan Deon untuk makan malam di tempat dan waktu yang telah di sepakati.
Malam ini,Alifa terlihat sangat cantik.Kontras dengan setelan pakaian kantornya yang sering menggunakan rok span atau celana baggy pants nya.Tapi,untuk malam ini Alifa menggunakan pakaian gamis kebaya.Sangat cocok untuk pribadinya yang anggun dan kalem.
Alifa seperti biasanya selalu menggunakan jasa transportasi umum.Berupa angkot,tapi untuk sekarang Alifa harus merogoh kocek yang lumayan besar untuk ukuran orang hemat seperti Alifa ini.Yah,tarif yang di tetapkan oleh supir angkot dan taxi sangatlah berbeda jauh.Namun,itu harus di lakukan oleh Alifa.Drmi menghindari hal yang serupa.
"Hai,Alifa.Aku disini". Teriak Deon memanggil nama Alifa saat mendapati Alifa tengah celingukan mencari keberadaan dirinya.
Alifa menunjukkan senyum terbaiknya sebagai balasan.Melangkahkan kaki menuju arah meja yang di pesankan oleh Deon.
"Assalamu'alaikum pak Deon,sudah lama menunggu".Ucapan salam Alifa berikan sebagai basa-basi.
"Waalaikum salam Alifa,gak lama.Aku juga baru saja datang.Silahkan di nikmati hidangan makan malamnya".Deon dengan lembut menarik kan kursi untuk di duduki oleh Alifa.
"Terimakasih".Alifa duduk sempurna diatas kursinya.Sangat anggun dan sedap di pandang.
Hening,tak ada yang memulai pembicaraan diantara keduanya.Deon sibuk dengan smartphone nya bertukar pesan dengan kekasih hatinya,Samantha.Sementara,Alifa duduk termenung.
"Maaf,saya terlambat".Ucap salah seorang pria.
Alifa membulatkan matanya saat mengetahui orang yang di rindukan sekaligus orang yang di bencinya.Berdiri dengan angkuhnya,menatap dirinya dengan tatapan yang sama seperti saat dia terusir dari rumah keluarganya.
"Kau disini?".Saking bencinya Alifa tak Sudi menyebut pria yang adalah ayah kandungnya dengan sebutan ayah.
__ADS_1
"Tentu nak,apakah kau tidak di Beritahu oleh atasan mu?".Kini Alifa dan mr.smit menatap kearah deon.
Deon yang di tatap malah tersenyum,menyilakan ayah dan anak itu untuk kembali duduk.
Tapi,Alifa tetap berdiri.Tak Sudi duduk semeja dengan ayah kandungnya.
"Duduk dulu Alifa".Sentak Deon.
"Kau yang mengundangnya?, apakah kau juga sengaja mempertemukan kami?".Alifa memberondong Deon dengan banyak pertanyaan.Akal sehatnya tak mampu bekerja dengan normal.
Deon mengangguk."Iya".
"Kenapa?".
"Kenapa anda melakukan ini semua.Kenapa?".Alifa membentak kasar Deon,tak ada sisi lembut yang di tunjukkan nya.Hal ini mengundang banyak perhatian dari pengunjung.Menatap tajam kearah mereka, kasak-kusuk terdengar membicarakan mereka.
Alifa berlari sejauh mungkin,tak menyangka akan kejutan Deon terhadapnya.Berani sekali dia mencampuri urusan pribadinya.
Deon,tentu tak tinggal diam.Dia terus mengejar Alifa.Tak ingin, rencananya yang sudah di rancang jauh-jauh hari harus kembali gagal.Egois sekali Deon ini,tak memikirkan perasaan Alifa yang masih belum siap bertemu dengan orang tuanya.
"Kenapa anda mengikuti ku".Alifa menghentikan langkahnya tepat saat dirinya berada di halaman cafe.
"Sebab,aku ingin kalian berdamai.Mulai hari ini,dan detik ini pula".
__ADS_1
"CK,percaya diri sekali anda".Alifa berdecih,meremehkan kemampuan Deon.
"Maaf,aku telah mencari tau tentang kamu dan keluarga kamu.Aku langsung penasaran saat menyadari bahwa kamu dan mr.smith itu memiliki wajah yang hampir mirip.Maaf,aku telah lancang mengorek informasi tentang kamu".Sesal Deon.
"Dan kamu ingin mendamaikan kami, menyelesaikan permasalahan kami?,tak semudah itu deon.Masalah kami tak sesederhana apa yang kamu pikirkan".
"Apa salahnya berdamai,Alifa.Bagaimana pun dia adalah orang tua kamu".
"Tak semudah itu.Anda kira masalah kamu.Masalah sepele yang hanya bisa di selesaikan dengan kata maaf saja.Sayangnya,tak semudah itu.Tak semua masalah dapat terselesaikan dengan kata maaf saja".Alifa mencurahkan isi hatinya sambil terisak tersedu-sedu.Tak kuat mengatakan hal paling sensitif baginya.
"Maafkanlah Alifa".Deon berkata sambil melangkah demi selangkah.
"Maafkanlah Alifa.Peluk rasa sakit itu, berdamai lah dengan masa lalu agar kebahagiaan tercipta di dalam hidup kamu."Deon menghentikan langkahnya yang berjarak dua langkah dari jarak Alifa berdiri.
"Sayangnya tak semudah itu Deon,ada masalah yang tak bisa di selesaikan.Tak semua bisa di selesaikan dengan kata maaf.Aku yang selama lima tahun ini harus berjuang sendiri,sakit pun harus di sembuhkan sendiri.Aku di miskin kan oleh ayah ku sendiri.Memaksaku untuk berjuang seorang diri tanpa ada yang menemani.Aku bertahan hidup pun dengan mengandalkan diri sendiri.Sekarang kamu dengan mudahnya mengatakan maafkan".Semakin sesak dada Alifa, hingga terduduk dalam linangan air mata.
Deon,memeluk erat tubuh munggil itu.Memberikan kekuatan pada jiwa yang rapuh namun mencoba untuk terlihat tegar.
"Aku tau,itu sangat sulit bagi kamu.Tapi,apa salahnya kamu sedikit demi sedikit menghapus rasa benci yang sudah lama bersemayam di hati kamu".Deon mengelus punggung Alifa.Hati nuraninya tergerak melihat Alifa tak henti-hentinya menangis.
Di balik kaca transparan itu yang menghubungkan antara ruangan dengan halaman cafe,berdiri seorang laki-laki paruh baya menatap sedih sang putri yang selama ini telah jauh dari hidup nya.Yang di sebabkan oleh dirinya sendiri.
"Maafkan aku nak, sungguh maafkan aku".Gumamnya lirih,tersedak oleh linangan air mata.
__ADS_1