
"Selamat pagi, Riki karna kamu sudah sehat jadi sudah boleh pulang" ucap perawat
"Serius sus" ucap Riki
Perawat cantik itu mengangguk "keluarga kamu telah menunggu di depan" ucap sang perawat "saya permisi" tambahnya
"Terimakasih sus" Ucap Atria
Setelah Riki dan Atria keluar mereka di sambut oleh Papah dan wanita di samping sang papah bisa di sebut mama Riki dan Atria
"Sehat kan ki" Ucap Alira (wanita yang di samping papanya Riki dan Atria
"Sehat tante" ucap Riki tersenyum hangat
Atria menghela nafasnya kasar pagi pagi begini moodnya sudah hancur tapi ia sedang tidak ingin marah marah saat ini.
Jika Atria terus menerus marah marah ia takut akan mendadak jadi tua nantinya, masa ia kan umurnya masih muda tapi wajah tua gak banget kan.
"Yaudah pulang yu" ucap sang papa menatap atria lalu merangkulnya
"Akhirnya bentar lagi gue tau siapa gue dan siapa Atria" batin Riki menatap atria yang di sampingnya
Ya mereka berjalan beriringan Papanya di sisi kanan atria dan mamanya di samping kiri Riki
"Jangan cemberut mulu masih pagi nanti muka kamu kaya dia " ucap Riko papa Riki dan Atria sambil menunjuk nenek nenek yang di duduk di kursi roda
"Ih papa, Atria pasti kaya gitu tapi nanti kalo udah tua" ucap Atria ketus
"Maksudnya papa kamu kan masih muda, nanti jadi kaya dia masih muda tapi tua" ucap sang papa bergurau
"Aku yaa aku dia yaa dia pah" Ucap Atria kesal
"Tapi disini judulnya Dia sayang" Ucap Riko mulai tidak nyambung
"DIA
Aku adalah aku, dia adalah dia
Jadi tidak ada hubungannya dengan dia
Walaupun judulnya adalah dia
Jangan kira puisi ini membahas tentang dia
Aku adalah anak SMA
Tepatnya kelas sepuluh SMA
Dia? Aku kan sudah bilang
Jangan kira puisi ini membahas tentang dia
Paham?" Ucap Atria dengan antara sadar atau tidak, selama berjalan menuju parkiran ia berpuisi
"Wah bagus sekali puisi nya sayang" komentar Alira memeluk Atria lalu mencium kening nya kilat
__ADS_1
Tubuh atria menegang dan mendadak dingin, ada terselip desiran aneh di hatinya, hatinya menghangat itu yang atria rasakan.
Atria menggigit bibir bawahnya pelan, matanya berkaca kaca, ada apa dengan atria kenapa jadi seperti ini
"Hey ayo masuk" ucap Riki pelan, ia mengerti perasaan Atria saat ini, bingung Riki tau atria bingung dengan perasaan nya.
"Woah rindu rumah" Teriak Riki menjatuhkan pantatnya di sopa, merentangkan tangannya dengan lebar
"Merasa orang paling bahagia ya, sampai sopa aja di ambil alih sendiri" cibir Atria mendudukkan pantat nya di samping Riki lalu menyederhanakan kepalanya pada dada bidang Riki
"Kenapa?" Tanya Riki memeluk pinggang Atria dengan tangan kirinya, tangan kanannya di gunakan mengusap rambut panjang Atria
Atria menggeleng tangan nya yang bebas memeluk tubuh Riki. Wajahnya di benamkan pada dada bidang milik Riki
Riko tersenyum menatap kedua anak nya lalu matanya di alihkan menatap Alira "mungkinkah mereka mempunyai rasa satu sama lain sayang?" Tanya Riko pelan, menggapai pergelangan tangan Alira dan menuntun nya menuju dapur
"Sepertinya begitu, aku bisa melihat dari sorot mata Riki mas, matanya mengatakan ia ingin memiliki Atria" jawabnya
"Emm.. kapan kira kira waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya sayang?" Tanya Riko menatap mata Alira dalam
Alira menggeleng "Jangan cepat cepat mas. Beri aku waktu, untuk bisa Atria menerimaku sebagai Ibu nya"
Riko menghela nafas "Lagi pula, meskipun di beri tau sekarang Atria tidak akan bisa mengerti mas. Jadi, kumohon beri aku waktu agar bisa mengambil hati Atria supaya dia menerima aku sebagai ibunya" tutur Alira
"Kau benar, Atria kecilku tumbuh menjadi seseorang yang keras kepala, kukuh pada pendiriannya, pendapatnya, dan ia tidak akan bisa dengan mudah menerima semua kenyataan." Ucap Riko mengusap wajah nya pelan
"Apa lagi Atria tidak akan mudah percaya mas" Ucap Alira pelan, matanya mulai berkaca kaca ingatan nya kembali ke masa lalu yang membuat ia berada di posisi saat ini
"Sudah Jangan di fikirkan, sekarang lebih baik kau masak. Atria dan Riki pasti lapar, termasuk aku" Ucap Riko
"Biar aku yang membujuk, kalo tetap tidak bisa biar Riki nanti" Ucap Riki
"Mas engga ada bahan masakan" ucap Alira menutup kulkas, berjalan menghampiri Riko
"Apa aku begitu jahat pada mereka" Ucap Riko parau
"Kita sama sama jahat mas" Ucap Alira pelan "lebih baik kita belanja" tambahnya yang di angguki oleh Riko
"Atria, Riki, Papa sama Mama mau belanja dulu yah, kalian pasti lapar kan?" Tanya Riko menghampiri kedua anak nya
"Siapa yang masak?" Tanya Atria menatap papa nya intens
"Mama lah sayang" jawab Riko
"Kalo gitu Atria lebih baik beli dari pada harus makan masakan wanita perusak kebahagiaan orang" Ucap Atria ketus, wajahnya menatap Alira rendah
Alira tersenyum "sepertinya aku harus ekstra sabar menghadapi gadisnya ini" batin Alira
"Jangan gitu dong sayang, kamu tidak rindu dengan masakan rumah?" Tanya Alira lembut duduk di samping Atria, mengelus rambut Atria sayang dan menatap nya dengan mata berbinar
"Dia mirip sekali seperti ku" batin Alira
Atria bungkam, wajah yang ia tunjukan tadi di tundukan nya. Melihat mata Alira yang berbinar ada desiran aneh di dalam dadanya.
"Yasudah papa pergi berangkat belanja dulu" Ucap Riko
__ADS_1
"Kenapa lagi?" Tanya Riki setelah kedua orang tuanya pergi
Atria menggeleng " kak Riki gak jadi marah sama papa?" Tanya Atria polos
Riki terkekeh geli melihat wajah polos Atria "Mau marah, tapi. Ada rasa tidak tega" Ucap Riki pelan
Berbohong Riki berbohong, sebenarnya Riki ingin sekali memarahai papa nya habis habisan. Bahkan jika lihat wajahnya Riki ingin sekali memukulnya menuntaskan semua emosi Riki yang terpendam.
Tapi Riki tidak melakukan itu, ia ingat percakapan bersama Ibunda di mimipi lamanya itu. Ibunda nya berkata bahwa ayahnya tidak salah, kenapa alasannya? Riki akan tau nanti.
Jadi, sekarang Riki hanya diam dan bersikap baik terhadap kedua orang tuanya itu, yang salah satunya adalah Ibu angkatnya.
(Bertele tele sekali memang ini ceritanya tapi bagaimana lagi. mimin pun harus berfikir tepat apa tidak, tepat atau tidak. Jadi di mohon mengerti iya😂😅) Oke back topik
"Atria gak mau makan pa" Teriak Atria di dalam kamar nya
Yaps, selepas kedua orang tuanya datang dari berbelanja Atria langsung pergi ke kamarnya.
"Jangan gitu dong sayang, mama Lira udah masak banyak kan sayang kalo kebuang" bujuk Riko di depan kamar Atria
"Atria gak minta kan, lagian tadi Atria udah bilang gak mau makan masakan wanita perusak kebahagiaan orang" teriak Atria lagi
"Sayang ayolah" Bujuk Riko
Tepukan halus di pundak Riko membuat Riko menoleh ke samping, Riko tersenyum mendapati Riki di sampingnya.
"Biar aku yang bujuk pah, papa cepet kebawah" Ucap Riki dingin
"Pastikan Atria mau makan, papa tunggu di bawah" Ucap Riko
Riki mengangguk "Sayang, buka pintunya" Teriak Riki
Tidak ada sautan, pintupun tetap tertutup rapat
"Oke, kalo kamu gak mau makan aku juga gak akan makan" Teriak Riki
"Jangan gitu kak" Teriak Atria "lebih baik lo makan sono"
"Kamu aja gak makan, yaudah aku gak akan makan, aku tunggu di depan kamar kalo kamu berubah Fikiran" Teriak Riki
Cleket pertanda pintu di buka
"Kak" Ucap Atria pelan
Riki berbalik "makan yuk" ucap Riki menangkup pipi lalu mencium kening Atria lama
Atria hanya memejamkan mata, merasakan sensasi lain. Seperti rasa, ada sebuah rasa di dalam hatinya yang begitu kuat ingin memiliki Riki Adriansyah.
"Kak gue gak mau makan" Ucap Atria
"Pokoknya makan, ini perintah dan tidak ada penolakan" Ucap Riki tegas
Atria menghembuskan nafasnya kasar, mau tak mau ia harus mengikuti keinginan Rikinya ini
"Baiklah" ucap Atria pasrah
__ADS_1