
Kehidupan Deon begitu kontras dengan kehidupan Alifa.Deon yang sudah menemukan kebahagiaannya, dan Alifa yang masih terpuruk dalam kubangan yang sama.Hanya begitu-begitu saja hidupnya.
Ingin rasanya Alifa menyerah saja,tak kuat menahan rasa sakit yang datang silih berganti.Tapi,itu semua hanya ada dalam rencana Alifa tak pernah sedikitpun dia realisasi kan dalam kehidupan sehari-hari nya.Masih ada hal yang ingin dia lakukan,tetap berjuang walau kebahagiaan tak kunjung datang padanya.
"Haruskah aku pergi lagi, menghilang dari semua orang.Memulai kembali di tempat yang baru".Gumam Alifa,mengeluh
Alifa sudah resmi keluar dari pekerjaannya,itu dia lakukan untuk berlari sejauh mungkin.Lari dan lari itu yang di lakukan Alifa saat dia tak sanggup menghadapi masalah nya.
Saat ini,Alifa sedang berolahraga pagi.Lari, adalah olahraga yang di pilihnya, seperti itulah dia yang selalu lari dari masalah.Sangat cocok bila di masukkan ke dalam olahraga rutinnya.
Suasana pagi di pedesaan sangat sejuk,cocok untuk berolahraga pagi.Menciptakan kedamaian di hati, keindahan alam yang terpampang nyata menjadi daya tarik tersendiri.Lingkungan yang bersih nan asri menjadikan kampung di pedesaan ini menjadi alasan orang kota bermukim disini.
Yah,Alifa memilih kampung ini karena memang menawarkan pemandangan alam yang begitu indah.Namun,juga ramah tamah dan sikap gotong royong antar sesama penduduk tetap di lestarikan.Hanya satu yang Alifa tidak suka dari penduduk disini,yaitu suka bergosip ria seakan itu menjadi tradisi turun-temurun.Mengawasi kegiatan tetangga satu dengan yang lainnya,persis seperti cctv bergerak saja.
Alifa tak urung menjadi bahan gosip bagi tetangga rumahnya,tanpa sengaja Alifa sering mendengar gosip itu hanya karena wajah cantiknya dan menjadikan dia bunga desa.Alifa tak pelak jadi korbannya,belum lagi saat Akmal bertandang ke rumah kontrakannya.
"Berhijab sih tapi bawa-bawa laki-laki ke rumah mana berduaan pula".
__ADS_1
"Ternyata berhijab bukan berarti akhlaknya baik ya?".
"Namanya juga orang, kan kagak tau dalemnya seperti apa?".
Gosip tetangga seperti itu lah yang tanpa sengaja Alifa dengar dari mereka, terkadang mereka sengaja meninggikan ucapan mereka agar terdengar oleh orangnya.
Alifa yang bersikap cuek,tentu tak pernah meladeni gosipan tetangganya.Buat apa,di ladeni hanya menyita tenaganya saja, begitu pikir Alifa.Dia lebih membiarkan mereka mengunjingnya beranggapan bahwa itu seperti dia sedang mentransfer dosanya pada orang yang suka bergunjing.
Alifa dengan wajah cantiknya bak bidadari turun dari kahyangan,tak pelak menjadi buah bibir di kalangan laki-laki yang memuja kecantikan.Dia pula sering mendapatkan gombalan,baik dari laki-laki bujang,duda maupun dari suami orang.Seperti saat ini,dia mendapatkan lirikan maut dari suami beristri.
"Hai cantik".Ucap si pria beristri itu.
"Hallo, ganteng tapi sayang suami orang".Balas Alifa,menohok.
"Kalau Abang belum punya istri,mau gak jadi istri Abang?".Tanya si pria beristri itu,berdiri di depan pagar rumahnya.
"Haha,ogah".Sahut Alifa,jijik.
__ADS_1
"Sombong amat ".
"Biarin".Sambar Alifa,acuh.
"Cantik amat sih neng tapi sayang jutek.Tapi,tak apalah jutek juga yang penting cantik.Mau kan jadi istri Abang?".Tanyanya,tak menyerah begitu saja.
"Noh,istri Abang mau di kemanain?".Balas Alifa.
"Alah istri jelek kayak gitu mah ngapain juga masih di pertahanan".Adu si pria, berharap Alifa mengerti keadaan nya.
Alifa tersenyum kecut."Cantik tidaknya seorang istri bergantung dari uang bulanan yang di berikan ya.Ngasih yang pas- pas an aja ngimpi punya istri cantik.Mau istri cantik modalin dong pak,ini mah di modalin kagak tapi banyak nuntut.Egois".Sahut Alifa,menekankan kata 'egois'.Pada pria beristri itu agar sadar dengan kekeliruan nya.
"Dah yah,pria beristri.Mau lanjut lari pagi lagi".Ucap Alifa melambai pada si pria beristri itu.
"Hah bener juga yah".Ucap si pria beristri itu.
Sadar akan keegoisan nya yang menginginkan istrinya sempurna tapi uang bulanan yang di berikan pas-pasan.
__ADS_1