
"Apa kamu bilang?".Tanya Akmal, semakin mendekat kearah Alifa.
"Hmm".Alifa gelagapan bukan main,takut Akmal mendengar ucapannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?".Tanya Akmal, sekali lagi.
"Tidak ada".Sahut Alifa.
Akmal mengusap puncak kepala Alifa yang tertutup oleh jilbab berwarna maroon itu."Kalau kamu merasa tidak siap,gak papa.Aku memilih mundur dari pernikahan ini".Ucap akmal tegas.
Deg
Seakan di sambar petir di siang bolong, dengan mudahnya akmal mengucapkan kata-kata yang sebenernya Alifa tak ingin dengar.Ucapan yang keluar dari bibir Akmal seakan tanpa beban.
"Maksud kamu?".Tanya Alifa,membeo.
Ulasan senyum,Akmal berikan untuk alifa."Aku tau,kamu masih mencintai pria itu,aku pula tau hati mu masih berat menjalani pernikahan kita nantinya".Ucap Akmal."Jika,memang kamu ragu?,lebih baik kita batalkan saja pernikahan kita".
"Tidak, jangan ".Terisak Alifa, histeris.
Pengunjung di restoran itu menatap tajam kearah Alifa, seakan terganggu dengan teriakan Alifa.
"Hehe..Maaf".Ucap Alifa,tersenyum canggung.
"Apa kamu tidak bisa mengendalikan diri sendiri?".Tanya akmal.
"Maaf,aku refleks melakukan nya".Ucap Alifa,kembali menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"It's ok, asal tidak kamu ulangi".Sahut Akmal."Kita kembali ke laptop si Unyil".Ucap Akmal, mencoba berkelakar.
"Kok laptop si Unyil?". Tanya Alifa, dengan wajah polosnya.
"Hmmm,apa kamu tidak paham?".
Gelengan kepala Alifa layangkan sebagai jawaban."Tidak". Ucap polos alifa.
Ulasan senyum sumringah akmal kembali di layangkan untuk Alifa."Kau itu orangnya tak bisa diajak bercanda yah?".Ucap Akmal.
"Lah,emang yang tadi itu hanya sebuah candaan?".
Akmal menganggukkan kepala."Heem".Sahut Akmal tanpa beban.
"Yah, kirain beneran".Ucap Alifa,mengeluh.
"Terkadang hidup itu,butuh hiburan.Tak melulu harus serius.Ada saatnya kita bercanda,ada juga saat nya kita serius, keduanya harus lah seimbang.Jangan terlalu bercanda,jangan pula terlalu serius".
"That's true".Jawab akmal spontan."So,apa yang mengganjal hati mu?".Tanya akmal lagi.
"Bagaimana,jika sebuah rumah tangga di bayang-bayangi oleh masa lalu".Ucap Alifa spontan.
Tanpa sadar dia mengungkapkan kegelisahan hatinya,memang dia tak memungkiri kemungkinan masalah itu,sebab hatinya belum sepenuhnya menerima sosok Akmal dalam hidupnya.
"Ups, maaf".Ucap Alifa, membungkam mulutnya sendiri menggunakan tangan nya.
"Jadi itu yang selama ini mengganjal hati mu?". Tanya Akmal, memojokkan Alifa.
__ADS_1
"Iya".Sahut Alifa.
Akmal,menggeser kursinya sedikit menjauh dari kursi Alifa."Maka, jawabannya adalah aku akan membantu mu melupakan masa lalu mu".
"Jika,tidak berhasil?".
"Aku akan mundur dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang insha Allah akan ku jalani bersama diri mu".
"Why?".Tanya Alifa, penasaran.
"Sebab untuk apa menjalani rumah tangga apabila salah satu pasangan kita masih terjebak di dalam masa lalu itu."Jelas Akmal, mengarahkan pandangan ke sembarang arah.
"Kamu menyerah begitu saja?".Tanya Alifa,kecewa dengan jawaban yang di berikan Akmal.
"Aku mengalah bukan berarti kalah".Ucap Akmal, kembali menatap Alifa."Terkadang cinta itu tak harus memiliki.Tingkat tertinggi dalam mencintai adalah mengikhlaskan ".Lanjut Akmal, memberikan penjelasan.
Alifa,terdiam mendengar jawaban Akmal.Bimbang sendiri, dengan perasaannya.Di satu sisi masih mencintai Deon, tapi di sisi lain.Tak tega rasanya melukai hati seorang pria tulus mencintainya.
Rela berkorban demi kebahagiaan nya bahkan dia sendiri yang memberikan tempat tinggal bukan tempat singgah belaka.
"Tanyakan pada hati mu".Ucap akmal."Dimana kah letak diriku di hati mu?".Tanya Akmal,menatap Alifa sendu.
"Di hati ku dan tetap selalu ada di hati ku".Sahut Alifa.
"Are you sure?".Tanya ulang Akmal, meyakinkan alifa.
"Iya,maka bantu aku untuk melupakan masa lalu itu.Bantu aku,untuk belajar menerima kenyataan ".Ucap Alifa lagi.
__ADS_1
Akmal mengenggam tangan Alifa."Mari kita saling memberikan kekuatan dan belajar bersama".Ucap akmal.
Alifa menganggukkan kepala."Iya,mulai dari nol yah?".Ucap Alifa, memberikan senyuman termanisnya untuk akmal.