
Suara adzan berkumandang merdu, membangunkan setiap umatNya yang masih terlelap tidur di bawah selimut.
Udara dingin menyusup masuk melewati celah-celah jendela. Terlihat dua manusia masih tertidur nikmat saling berpelukan, dan saling berbagi kehangatan.
Lisa menggeliat, tubuhnya terasa berat. Perlahan matanya mulai terbuka, samar-samar terlihat lengan kekar memeluknya erat.
Mata Lisa terbuka lebar, mengumpulkan tenaga untuk bangun menunaikan kewajibannya. Dengan lembut ia singkirkan tangan suaminya dari badan. Kakinya hendak menapak lantai, ketika suara berat Rendy menghentikannya.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" Rendy perlahan membuka mata.
"Iya, Mas. Sudah subuh, aku ingin sholat," sahut Lisa.
Rendy menarik kembali tubuh Lisa kepelukannya. Ia seakan tidak rela sekadar berpisah sebentar saja. Rendy tersenyum. " Aku rindu kamu. Masih lama, kah aku harus berpuasa?"
Ekor mata Lisa melirik sekilas pada suaminya, ia tahu keinginan suaminya. Namun, ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukannya.
"Baru dua minggu," jawab Lisa.
"Benarkah! kenapa aku merasa sangat lama?" ucap Rendy. " haruskah kita bertanya pada Dokter Tania perihal ini?"
Lisa mencubit pelan pinggang suaminya. Dia tidak ingin malu untuk kedua kalinya. Ya, meski sebenarnya Lisa juga tidak tega membiarkan suaminya menahan gejolak hasrat sendiri.
"Kamu nakal! Selalu saja pinggangku yang jadi sasaran." Rendy mencium sekilas bibir manis istrinya.
"Ayo, kita sholat?" lanjut Rendy.
Rendy melepaskan pelukannya, lalu bangun dari tempat tidur kemudian bergegas pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
Lisa mengurai senyum, lalu mengikuti jejak suaminya.
Sepasang suami istri itu begitu khusu, dan nikmat menjalankan kewajibannya sebagai muslim. Rendy bertindak sebagai imam, sedangkan istrinya di belakang menjadi makmum.
Rumah tangga terasa terjalin indah, mana kala keduanya mampu memposisikan dirinya masing-masing. Namun, itu bukan berarti tidak akan ada hambatan. Seperti halnya jalab, tidak akan selamanya lurus. Akan ada saatnya menanjak, menurun, berbelok, dan berlubang.
Semua memang sudah diatur sedemikian cantiknya oleh Sang Maha Kuasa. Hanya tinggal bagaimana kita menghadapi, dan tetap berpegangan tangan saat badai datang menerjang.
Selepas sholat, Lisa menyimpan kembali mukena ke dalam lemari kecil. Rendy terlihat membuka garden kaca penghalang antara kamar, balkon. Membuka sedikit pintu kaca agar udara segar yang belum tercampur polusi masuk ke dalam.
"Sayang, aku ingin ke panti asuhan hari ini? sudah lama tidak menjenguk anak-anak panti," ujar Rendy.
Lisa perlahan berjalan menghampiri suaminya, memeluk dari belakang tubuh kekar itu. Lisa berkata, "Aku ikut! Sudah lama tidak melihat bayi mungil itu lagi."
Rendy memegang tangan Lisa, mengeratkan di perutnya.
"Baik," sahut Rendy. " oh, ya Sayang. Bagaimana nasib toko bungamu? apa kamu tidak ingin mencari orang untuk membantumu? aku tidak mengizinkanmu terlalu lelah."
Lisa melepas pelukannya, Rendy perlahan berbalik badan menghadap istrinya.
__ADS_1
"Ah, iya aku sampai lupa! Sepertinya tidak perlu, Mas. Bukannya Dira akan pulang sebentar lagi?"
"Iya,"
"Sementara menunggu Dira pulang, biar aku sendirian saja dulu. Lagian ini tidak akan melelahkan sekali." Tersenyum meyakinkan suaminya.
"Aku terserah kamu saja, tapi berjanjilah untuk tidak naik turun tangga di sana?"
"Aku janji!" seru Lisa.
"Kemarilah! Aku ingin puas memeluk tubuhmu, karena nanti jika perutmu bertambah besar. Aku pasti akan kesulitan melakukannya," lontar Rendy.
Rendy kembali membawa tubuh Lisa ke dalam pelukannya. Tubuh mungil itu terasa hangat, bahkan saking hangatnya Rendy merasa tidak ingin melepaskan sekejap pun.
"I Love U, Istriku," bisik Rendy.
π·π·π·π·π·
Tepat pukul sembilan pagi, Rendy dan Lisa berangkat ke panti asuhan sesuai yang sudah di rencanakan.
Di perjalanan, mereka membeli hadiah kecil berupa berbagai mainan, makanan juga minuman untuk anak-anak panti asuhan.
Seperti yang Lisa tahu, Rendy adalah donatur tetap di panti itu. Lisa terlihat berbahagia, selama di perjalanan mulutnya tidak bisa diam.
Rendy dengan sabar mendengarkan semua celotehan sang istri.
"Aku belum memikirkannya, Sayang. Kehamilanmu, kan baru dua bulan," jawab Rendy.
"Ya engga apa-apa, Mas. Biar nanti kita engga pusing cari nama, pas Baby keluar,"
Rendy sejenak berpikir, nama apa yang cocok untuk anaknya. Rendy berkata, " Yang jelas, di akhir nama mereka ada nama keluargaku saja."
"Kalau aku sih maunya, kalau baby ini cewek. Aku mau kasih nama Kalila,"
"Aku ikut saja. Tapi, tetap harus ingat! Memberi nama itu tidak boleh sembarangan, karena nama adalah doa dari orang tua untuk anaknya," pesan Rendy.
"Ah, iya aku hampir lupa!"
Selang tiga puluh menit berlalu, mobil Rendy sudah sampai di halaman depan panti asuhan. Anak-anak yang tengah bermain, berhamburan menghampiri mobil yang sudah mereka kenali.
Rendy dan Lisa keluar mobil disambut hangat senyum manis dari para anak panti. Wajah mereka yang polos, karena rata-rata umur mereka masih sangat kecil membuat Lisa sedikit bersedih mengingat nasib yang harus mereka pikul.
Satu per satu mereka mengantri menyalami tangan Rendy dan Lisa. Tak lupa setiap anak yang selesai mencium tangan diberi satu bingkisan berisi mainan, makanan dan minuman.
Wajah gembira terpancar jelas dari mereka, hanya dengan seperti ini saja mampu membuat hati mereka tidak kesepian melewati hari tanpa orang tua.
Bu Darmi berjalan mengahampiri Lisa dan Rendy lalu berkata, " Kamu ke sini engga kasih kabar Ibu, Nak?"
__ADS_1
Mereka berdua bergantian mencium tangan wanita paruh baya itu.
"Maaf, Bu! Rendy tidak sempat karena mendadak," jawab Rendy.
"Ayo, masuk?" ajak Bu Darmi pada Lisa dan Rendy.
Untuk kedua kalinya Lisa datang ke tempat ini. Matanya mengamati satu per satu anak-anak yang tengah asyik membuka bingkisan hadiah mereka.
Lisa mengerutkan keningnya, ia tidak melihat bayi yang dulu sempat dilihatnya.
"Maaf, Bu. Bayi mungil yang dulu di box itu kemana, ya?" tunjuk Lisa.
"Ah, Nisa namanya. Alhamdulilah, baru seminggu yang lalu ada sepasang suami istri yang mengadopsinya," ungkap Bu Darmi.
"Alhamdulilah! Semoga dia bisa mendapatkan cinta, dan kasih sayang yang tulus layaknya dari orang tua kandung,"
"Aamiin. Untungnya, Ibu sangat mengenal baik orang tua asuhnya. Mereka adalah sepasang suami istri yang baik, akan tetapi sampai umur pernikahaan mereka ke-10 Allah tidak kunjung memberikan anak,"
Lisa tertegun, ia patut bersyukur di usia pernikahaan pertamanya, Allah menghadirkan seorang janin di perutnya.
Lisa tidak bisa membayangkan, akan lelah dan sepinya menunggu selama 10 tahun. Hingga pada akhirnya, penantian panjang itu tidak membuahkan hasil.
"Kamu sudah hamil, Nak?" tanya Bu Darmi.
"Alhamdulilah. Sudah, Bu," sahut Lisa.
"Alhamdulilah. Berapa usianya, Nak?"
"Baru dua bulan,"
Bu Darmi mengelus perut Lisa yang tertutupi baju gamisnya, lalu berkata, " Semoga dia membawa kebaikan, keberkahaan untuk keluargamu. Ibu berdoa semoga anak ini menjadi jembatan penghubung untuk kehidupan rumah tanggamu. Jaga dia baik-baik, Nak semoga dia lahir menjadi anak soleh solehah, dan menjadi kebangaan orang tuanya."
Lisa hanya mengangguk pelan, dalam hatinya mengucap Aamin untuk doa yang diberikan Bu Darmi pada calon anaknya.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Selalu dukung Author, ya dengan cara
Like.
Coment.
Vote.
Rate 5.
__ADS_1
Selamat membacaππ