Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
S2 BAB 29


__ADS_3

"Maafkan aku, Ibu, Ayah. Aku tidak bisa menjaga kehormatanku. Hatiku sungguh hancur saat ini. Bisakah aku melanjutkan alur hidupku yang telah hancur berkeping-keping."


🌺🌺🌺 RINA 🌺🌺🌺


Semilir angin menerpa dedaunan. Menerbangkannya jauh tanpa tujuan. Seorang wanita berdiam di atas jembatan. Menatap kosong ke aliran sungai di bawah.


Sesekali matanya terpejam. Cairan bening terus berlomba-lomba keluar dari netranya. Pikirannya melayang menembus cakrawala.


"Ayah ... Ibu ...," lirih Rina.


Jiwanya tertekan saat Dirga ternyata membeberkan semua rahasia miliknya pada kedua orang tuanya. Dirga bahkan mengirimkan video hina itu ke handphone milik ayahnya. Sontak sang Ayah langsung jatuh pingsan.


Berita gila itu sampai ke telinga Rina. Orang tuanya bukan hanya marah, tetapi mereka juga menangis. Ayah yang Rina cintainya terus menyalahkan dirinya sendiri. Andai kecelakaan itu terjadi, mungkin Rina tidak akan berbuat senekad itu.


Terlebih, Rina terus mendapatkan tawaran hina para hidung belang yang mengetahui kabar tentangnya di media sosial. Dua hari belakangan bahkan Rina mendapatkan serbuan cemoohan dari teman-teman kampusnya.


Sungguh gelap dunia ini bagi Rina. Jiwanya terguncang hebat. Akalnya berhenti berpikir jernih sehingga ia memutuskan mengakhiri hidupnya malam ini.


Rina kembali menunduk ke bawah. Menatap segar aliran air sungai yang melambai minta di dekati. Bisikan syetan terus menggelitik di telinga seakan berkata "Lompatlah! Air itu sangat tenang, jiwamu pasti ikut tenang bersamanya. Tidak ada lagi yang bisa kamu banggakan saat ini. Tidak ada orang yang memperdulikanmu sekarang."


Rina berteriak histeris. Jiwanya meraung kesakitan minta pertolongan. Namun, tak ada satu pun tangan yang bersedia merangkulnya.


"Jangan!" teriak Adnan tiba-tiba.


Rina terdiam. Suara itu tidak asing baginya. Suara yang selalu terdengar dingin. Dia benar-benar datang!


Sepuluh menit yang lalu, saat Rina berjalan dari rumah sewanya menuju jembatan. Entah mengapa hatinya tergelitik mengirimkan sebuah pesan singkat pada Adnan.


Sebelum kepergian Rina dari kampus, untuk terakhir kalinya. Adnan sempat meminta nomer Rina. Dengan dalih, ia akan mengubungi gadis itu saat ia berhasil membeberkan fakta soal kasus Rina.


Adnan pun memberikan nomer ponselnya. Takut sewaktu-waktu mantan seniornya itu membutuhkannya.


"Turun, Kak!" perintah Adnan kencang.


Rina masih diam di posisinya. Ia tak merespon perintah Adnan. Namun, ia juga tidak melanjutkan aksinya.


"Mengapa kamu datang? Apa kamu mau mengucapkan salam perpisahan?" tanya Rina.

__ADS_1


"Tidak! tegas Adnan. "Aku tidak menyukai tentang perpisahan. Maka dari itu, turunlah!"


"Untuk apa aku turun? air di sana sangat tenang. Aku harus melompat, agar aku bisa ikut hanyut bersama tenangnya air."


"Tolong jangan seperti ini! Kakak masih muda. Masa depan Kakak masih panjang!"


"Aku sudah tidak punya masa depan. Kamu paham itu 'kan? Jiwaku tertekan, hidupku tersesat tanpa tujuan. Siapa yang sudi merangkulku?"


"Allah! tegas Adnan."Bukankah Kakak masih punya Allah, tempat terbaik untuk mengadu?"


Tubuh Rina bergetar seakan ada sengatan listrik berkekuatan tinggi lewat ucapan Adnan. Perlahan satu kakinya turun, lalu satunya lagi. Kini Rina menunduk, menangis tersedu-sedu. Persendiannya melemas, tenaganya habis. Seketika tubuhnya ambruk ke bawah berbarengan dengan hilang kesadarannya.


Adnan berlari, meraih tubuh Rina yang pingsan. Wajahnya pucat, matanya sembab. Hati Adnan teriris. Begitu beratkah beban yang ia pikul.


Tanpa berpikir panjang. Adnan segera membawa Rina ke rumah sakit. Tidak berhenti di situ. Ia pun mengambil ponsel milik Rina, lalu mencari kontak keluarganya.


Setelah dapat, Adnan segera menghubungi nomer yang diduga keras milik orang tuanya. Ya, benar saja. Begitu sambungan telepon terhubung, seorang ibu paruh baya terdengar menjawab dengan ramah.


Adnan memperkenalkan diri dulu. Ia takut sang Ibu berpikiran yang tidak-tidak. Setelah memberitahukan semuanya. Terdengar suara tangisan dari ujung telepon.


"Terima kasih, Dek. Ibu akan segera berangkat dengan bus malam ini ...," jawab sang Ibu lirih.


Lima menit berlalu. Mobil Adnan sampai tepat di pintu masuk UGD. Dengan tergesa-gesa ia keluar mobil, meminta pertolongan pada perawat di sana.


Dengan bantuan beberapa perawat, akhirnya Rina kini sudah terbaring lelap di ranjang rumah sakit. Dokter mengatakan, bahwa Rina seperti orang kelelahan dan tertekan. Maka dari itu, Dokter menyarankan Rina di bawa ke psikiater untuk berkonsultasi.


Adnan mengangguk. Ia tidak punya wewenang apa pun soal itu. Saat ini yang bisa ia lakukan hanya menunggu kedatangan ibu dari Rina.


Adnan menarik kursi tepat disamping Rina tertidur, lalu berkata, "Kak, apa ini sangat berat untukmu? Aku pikir, kamu wanita tangguh, karena tidak pernah mengeluh. Kamu terlalu lama memendam semuanya sendiri."


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Pagi datang menyapa, membawa serta udara seger memanjakan manusia. Egi tengah diam di dalam kamar. Weekend ini, ia hanya ingin bermalas-malasan bersama tumpukan buku kesukaannya.


Dari balik pintu terdengar suara ketukan pelan. Egi menoleh, berjalan berniat membuka pintu. Terlihat Lisa memakai jilbab cream dengan gamis yang berwarna senada, tersenyum ke arahnya. "Turunlah, Dek. Kita sarapan."


"Baik, Kak."

__ADS_1


Lisa turun kembali ke lantai bawah disusul Egi. Di meja makan terlihat Rendy menunggu dengan sabar. Namun, Egi tidak melihat keponakannya.


"Adnan ke mana, Kak?" tanya Egi menarik kursi.


"Dia izin tidur di tempat temannya," balas Lisa.


"Oh ...," lirih Egi.


"Ayo, sarapan. Setelah ini, kamu antar Kakak ke Mall!" cakap Lisa.


"Untuk apa?" Egi menatap Lisa.


"Kakak ingin mengambil cincin ke toko perhiasan. Cincin pernikahaan Kakak kemarin patah," ungkap Lisa.


"Kakakmu bersikukuh tidak mau ganti," sela Rendy.


"Cinci itu punya sejuta kenangan kita, Mas!" jelas Lisa. "Aku tidak butuh yang baru."


"Baiklah, aku mengalah." Rendy mulai memakan sarapannya.


Egi tersenyum. Ia bahagia melihat rumah tangga Kakaknya yang harmonis. Semoga suatu saat ia bisa seperti itu.


Setelah sarapan. Egi dan Lisa segera meluncur ke salah satu mall. Lisa yang tidak pernah pergi sendirian setelah menikah. Meminta sang Adik, untuk menemaninya.


Kesehatan Rendy yang masih belum stabil, membuat Lisa tidak punya pilihan selain mengajak Egi.


Sampailah mereka di salah satu toko perhiasan. Egi memperhatikan satu per satu barang kesukaan kaum hawa itu.


Matanya tertarik pada sebuah cincin kecil, bermata berlian. Ia meminta salah satu pegawai toko, untuk menunjukkan padanya.


Egi mengambil cincin itu dari pegawai toko. Memperhatikan dengan seksama. Untuk apa cincin ini? bukankah ia tidak memiliki pasangan yang harus di hadiahi.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang tengah berbicara pada pelayan toko tadi. Egi sontak menoleh ke sampingnya. Terlihat seseorang tengah memilih cincin bersama pasangannya.


"Kamu!" ucap Egi menatap lekat pada kedua orang tersebut.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG~~~~


__ADS_2