
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Dira masih diam mematung memandang kepergian lelaki yang baru saja berbicara dengannya. Pikirannya menolak halus untuk percaya atas kejadian beberapa menit lalu.
"Apa aku bermimpi?" celetuk Dira.
Dira memukul perlahan pipi mulusnya. Rasanya masih sakit, berarti ini adalah nyata bukan mimpi semata. Dira kembali meneruskan pekerjaannya. Tak lupa Dira menyimpan kembali buket bunga yang baru saja dia dapatkan.
Hari mulai sore Dira segera bersiap-siap untuk pulang. Dia merapihkan kembali bunga-bunga ke dalam dan bergegas menutup toko.
Hari ini tak banyak yang datang ke toko. Dira masih bisa menghendelnya meski hanya seorang diri, badannya terasa kaku karena hampir seharian bekerja.
Mang Asep baru saja tiba dengan mobilnya, ketika Dira selesai menutup toko. Dira yang melihat kedatangan mang Asep segera melangkahkan kakinya lalu masuk ke dalam mobil.
"Mau langsung pulang apa mampir dulu ke tempat lain Neng?" tanya mang Asep.
"Pulang saja, Mang," tolak Dira.
"Baik," balas mang Asep.
Mang Asep menginjak rem lalu melajukan mobilnya dengan perlahan dan hati-hati. Di tatapnya wajah anak majikannya ini, dia sangat prihatin melihat Dira sekarang.
Anak majikannya itu bukan hanya kehilangan seorang sosok ibu, akan tetapi dia juga merasakan kesepian. Pasalnya pak Adnan sering banyak menghabiskan waktunya ke luar kota untuk mengurusi perusahaan yang baru saja didirikannya.
Tak berapa lama mobil yang Dira tumpangi tiba di halaman rumahnya. Rumah yang besar tapi sangat sepi menurut Dira, bayangkan saja dia tak punya teman selain bi Iyah, mang Asep dan papahnya yang bisa di hitung jari dalam sebulan berada di rumah.
Dira melirik mobil yang terpakir di garasi dia kenal betul siapa pemilik mobil ini. Dengan hati gembira Dira melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, berharap kali ini papahnya tak kembali berpergian.
"Assalamulaikum," kata Dira.
"Waalaikumsalam," sambut pak Adrian.
"Papah...Dira kangen!" teriak Dira.
"Papah juga." pak Adrian segera memeluk erat anak gadisnya itu.
"Kamu baru pulang Nak?" tanya pak Adrian.
"Iya, Pah. Hari ini kak Lisa engga dateng ke toko, jadi aku cuman sendiri." keluh Dira.
"Memang kemana kakak iparmu itu?" lontar pak Adrian.
"Biasa di ajak kak Rendy pergi," tutur Dira.
"Oh. Ya sudah sebaiknya kamu cepat mandi sebentar lagi masuk waktu magrib." pak Adrian memerintah Dira sembari berdiri dari tempat duduknya. "Papah juga harus siap-siap dulu," tambahnya.
"Ok, Komandan!" seru Dira.
__ADS_1
Pak Adrian bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap sholat magrib, sedangkan Dira menaiki tangga satu per satu menuju kamarnya.
Dira merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Dia menutup mata mengingat kembali wajah Farhan yang baru dua kali dia temui. Buket bunga pemberian kakak tuanya itu masih dia simpan di dalam toko. Tidak tau harus dia apakan bunga tersebut.
"Cowok itu tampan hanya saja dia sangat menyebalkan," sungut Dira.
Dira segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket. Dia tak ingin tidur dengan segala kuman yang menempel di tubuh indahnya.
"Ah, segarnya." begitu Dira selesai mandi dan segera memakai pakaiannya. "Aku lupa kalau aku tidak bisa sholat karena lagi menstruasi," sambung Dira.
Dira kembali merebahkan dirinya di atas kasur, disambarnya handphone yang sejak tadi dia acuhkan. Dira memang sering lupa waktu, jika sudah bermain dengan bunga-bunga indah nan cantik.
Dibukanya satu per satu pesan yang masuk ke handphonenya. Banyak sekali chat dari teman-teman kampusnya menanyakan kapan dia akan kembali ke sana. Dira tersenyum membalas pesan mereka dia bersyukur memiliki teman yang tak melihat statusnya atau memanfaatkan uangnya saja.
Ada dua pesan yang tak dia kenal. Nomernya sangat asing bagi Dira apalagi pemiliknya Dira sama sekali tak tahu.
"Nomer siapa ini?" Dira menggaruk kepalanya yang tak gatal.
**081224xxxxxxx
Hai, gadis cantik. Aku harap kamu selalu sehat.
081224xxxxxxx
Aku orang yang akan menunggumu selalu. Jangan berpikir bisa lari dariku**.
Dira hampir lupa untuk menelepon kakak iparnya, dia hendak melaporkan toko hari ini. Dicarinya kontak atas nama kakak cantik, itulah nama Lisa di handphone Dira. Setelah menemukannya Dira segera melakukan panggilan suara ke Lisa.
"Assalamualaikum, Kak." Dira segera membuka pembicaraan begitu sambungan telepon terhubung.
"Waalaikumsalam." terdengar suara Lisa di ujung telepon di sana.
"Kak, aku mau melaporkan toko hari ini," lontar Dira.
"Ya allah Dir. Kamu bisa melaporkannya besok saja kenapa harus lewat telepon?" cakap Lisa.
"Hehehe.. Abisnya Dira takut kak Lisa nungguin," celetuk Dira.
"Kakak percaya kok sama kamu, jadi kamu engga usah takut sama kakak," balas Lisa.
"Baik. Oh, ya Kak. Hari ini kita punya tiga pelanggan baru loh," ujar Dira.
"Benarkah?" seru Lisa.
"Iya, Kak. Soal pendapatan hari ini udah aku masukkan ke dalam kas seperti biasa," tutur Dira.
"Ok. Adik kakak satu ini memang bisa di andalkan." Lisa terdengar memuji Dira di sebrang telepon sana.
__ADS_1
"Aih, aku jadi malu," terang Dira.
"Hehehe.. Kamu cuman mau bahas itu aja?" tanya Lisa.
"Iya, Kak. Ya udah Dira tutup teleponnya ya, takut singa yang lagi sama kak Lisa marah," ejek Dira.
Lisa terdengar tertawa mendengar ejakan Dira untuk kakaknya sendiri. Gadis ini memang tak berubah selalu saja ada cara membuat Lisa tertawa, jika sedang berinteraksi dengannya.
"Ya, udah. Assalamulaikum." Lisa menutup sambungan telepon Dira terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam," jawab Dira.
Dira menyimpan kembali handphonenya di atas kasur, lalu memejamkan matanya untuk memulai perjalanan ke dunia mimpi.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sementara itu Lisa di dalam kamar masih saja tidak bisa berhenti tertawa hingga membuat Rendy, yang baru saja selesai melaksanakan sholat magrib dibuat heran.
"Kamu kenapa Sayang?" Rendy menghampiri istrinya yang terlihat senang. " Apa yang membuatmu tertawa seperti itu?" desak Rendy.
"Ini, Mas. Dira ada-ada aja dia ngatain mas singa," terang Dira.
"Apa!!" Rendy terlihat kaget mendengar ucapan istrinya. " Dasar bocah ingusan sama kakak sendiri kaya gitu," geram Rendy.
"Sudahlah, Mas. Adikmu ini memang kocak aku saja sering dibuat tertawa karena ulahnya," tangkas Lisa.
"Ya, memang Dira itu sudah dari lahirnya seperti itu." Rendy merebahkan badannya di kasur dengan kepala berada di paha istrinya.
"Mas apa Dira sudah punya pacar?" celetuk Lisa.
"Aku engga tahu. Setahuku Dira tidak pernah pacaran sama sepertiku," ungkap Dira.
Lisa terlihat berpikir mungkin yang di katakan suaminya ini benar, dia juga tidak pernah melihat Dira kemana-mana kalau tidak dengannya atau Rey.
"Seandainya Dira punya pacar apa mas akan setuju?" tanya Lisa.
Rendy menatap wajah istrinya tidak biasanya Lisa ingin tahu soal orang lain. Apa istrinya ini tahu seseuatu tentang adik kandungnya?.
"Aku tidak melarangnya, jika selama lelaki itu baik dan tidak berniat mempermaikan. Tapi aku tidak akan tinggal diam, kalau Dira terluka hanya karena seorang lelaki. Aku tak segan-segan menghancurkan lelaki itu sampai tak tersisa," seru Rendy.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Mohon dukungannya untuk author dengan terus memberi like, coment dan vote 😊😊
Selamat membaca🤗
__ADS_1