Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
129


__ADS_3

Setelah mengantarkan Mona dan Rey ke rumahnya masing-masing. Dika dan Rendy kembali ke rumah sakit. Dika masih memegang tangannya yang terluka.


Sementara di rumah sakit, hanya tinggal Dira sendiri. Pak Adrian dan Egi sudah pulang duluan diantar Mang Asep. Dira memilih diam di sini, agar bisa menjaga Kaka iparnya. Sebelum Rendy sampai untuk menggantikannya.


Selang lima menit, Dika dan Rendy tiba di ruangan Lisa. Mereka mendapati Dira tengah tertidur di samping Lisa. Gadis itu sangat kelelahan. Terlihat jelas dari raut wajahnya.


"Ren, gue izin mau anterin Adik Lo pulang," ucap Dika.


"Ya. Hati-hati dijalan," pesan Rendy.


Rendy membuka jasnya yang masih melekat dari pagi. Ia hendak membersihkan diri di kamar mandi rumah sakit. Sedangkan Dika menghampiri Dira, lalu menggoyang-goyangkan badan gadis itu sambil berkata, "Dir, bangun! Ayo, aku antar pulang."


Dira menggeliat, lalu membuka matanya perlahan. Pandangannya kini tertuju pada lelaki yang memakai jas khas dokter. Kenapa Dika terlihat tampan saat ini? mungkinkah mata Dira sudah mulai rabun.


"Ayo, aku antar pulang!" ulang Dika.


Dira mengangguk, kemudian beranjak berdiri. Mereka berdua melangkahkan kaki keluar ruangan. Sesampainya di parkiran, keduanya segera masuk mobil.


Mobil berwarna merah menyala itu melaju membawa Dira dan Dika ke tempat tujuan. Selama diperjalanan, Dira memilih menutup mulutnya. Sedangkan Dika tetap pokus ke depan dengan tangan memegang kemudi.


Mata Dira menangkap sesuatu di tangan Dokter itu. Bekas darah yang telah mengering dibiarkan saja tanpa dibersihkan. Tadinya Dira berusaha acuh. Namun, ada rasa kasihan yang timbul dihatinya.


"Kak," panggil Dira.


"Iya, Dek." Masih tetap pokus ke jalanan.


"Apa di mobil Kakak ada kotak P3K? tanya Dira.


"Ada untuk apa memang?"


"Aku mau meminjamnya sebentar. Di mana Kak Dika meletakannya?"


"Cari di jok belakang,"


Dira segera menoleh ke belakang. Matanya menelusuri untuk mencari kotak yang ia inginkan. Setelah mendapati yang ia mau, Dira segera meraihnya, lalu membuka kotak itu sambil berkata, "Menepilah sebentar, Kak!"

__ADS_1


Dika mengerutkan keningnya. Ia berpikir untuk apa menepi? apa Dira ingin turun ditengah jalan. Namun, Dika tetaplah menuruti keinginan gadis itu.


Dengan cepat Dika segera menepikan kendaraannya. Jalanan ini cukup sepi, mungkin karena tidak banyak mobil yang melintas. Di dalam keheningan itu, sepasang manusia berbeda jenis tengah terdiam di dalam mobil.


"Kak, sini tanganmu. Kamu ceroboh sekali! Kamu menyebut dirimu Dokter, tetapi kamu membiarkan tanganmu terluka!" gerutu Dira.


Dika dengan sukarela mengulurkan tangannya pada gadis itu. Dengan cepat Dira menyambar tangan Dika. Pergerakan kulit diantara mereka, membuat perasaan Dika tidak karuan. Ia merasa ini tidak boleh berlangsung lama. Kalau tidak, sudah pasti Dika akan tersiksa menahan diri karena perlakuan Dira.


"Lihatlah! Darahnya sampai mengering seperti ini!" tunjuk Dira.


"Maaf," cicit Dika.


Dika merasa tengah dimarahi seorang istri. Dira dengan pelan mengoleskan alkohol untuk membersihkan darah yang mengering. Kemudian ia menempelkan plester di bekas luka itu.


"Nah, sekarang tidak takut infeksi. Lain kali luka sekecil apa pun harus tetap diobati," pesan Dira.


Dira menyimpan kembali alkohol dan kapas, lalu menutup kotaknya. Ia berniat menaruh kotak itu dibelakang. Namun, tanpa di duga Dika malah mengecup singkat kening Dira.


Cup...!


Gerakan itu terlalu cepat. Membuat Dira hampir tidak menyadarinya. Dira yang tersentak kaget, hanya diam mematung mendapatkan perlakuan manis dari Dika.


Dira segera menaruh kotak itu di jok belakang, lalu kembali duduk tenang di tempatnya. Jantungnya berdebar saat ini. Matanya berubah merah padam hanya diperlakukan seperti itu.


Mungkinkah benih cinta itu telah hadir dihati Dira? atau Dira hanya kaget karena baru pertama kali bibir seseorang lelaki selain Papanya menyentuh keningnya.


Dika kembali melajukan mobilnya. Ia merasa bersalah karena melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Ia menyesal, benar-benar menyesal.


Hening, tidak ada lagi percakapan diantara mereka. Keduanya larut dalam pikiran bersama dunia yang semakin malam.


Dua puluh menit berlalu, mobil Dika kini sampai di halaman rumah Dira. Gadis itu bergegas keluar tanpa berbicara lagi. Dika yang melihat itu segera menyusul Dira, lalu berkata, "Tunggu, Dek!"


Dira telihat menghentikan langkahnya. Ia mencoba mengontrol jantung yang terus bekerja lebih cepat di saat bersama Dika.


"Ada apa, Kak?" Tetap dalam posisi membelakangi Dika.

__ADS_1


"Aku minta maaf soal tadi. Aku tidak berniat apa pun. Aku.. Aku khilap," tutur Dika


"Sudahlah, Kak. Semua sudah terjadi. Lagian itu hanya sebuah kecupan, bukan lebih. Aku mengerti Kak Dika yang terbawa suasana, tetapi aku harap Kaka jangan melakukan itu lagi. Selain kita belum sah, aku pun....,"


"Kamu pun apa, Dek?" sela Dika.


"Aku pun merasa gugup. Bahkan jantungku terus berdetak lebih keras saat bersama Kaka. Aku tidak mengerti kenapa? tapi aku harap Kaka tidak melakukannya lagi," jawab Dira lantang.


Dengan sedikit berlarian, Dira masuk ke dalam rumah. Ia tidak ingin Dika mentertawakannya. Apa lagi jika Dika sampai melihat wajahnya yang sudah seperti tomat.


"Aku malu sekali," batin Dira.


Sementara itu di luar rumah. Dika masih mematung sejak gadis cantik itu berkata demikian. Seakan ia mendapatkan upah dari semua kerja kerasnya selama ini.


Dika masih memandang ke arah pintu. Ingin sekali ia memeluk Dira dari belakang, lalu menghujaninya dengan beribu ciuman. Secepatnya Dika segera menepis segala pikiran liarnya. Bagaimanapun ia dan Dira belum ada hubungan yang sah di mata Allah dan agama. Jadi ia tidak seharusnya berpikir sejauh itu.


"Gue mesti tidur, nih! Biar otak engga ngawur terus," batin Dika.


Dika segera melangkah masuk ke dalam mobil. Ia berniat pulang ke rumahnya. Ia tidak ingin terus memikirkan Dira, atau dirinya bisa gila seperti Ririn.


๐Ÿต๐Ÿต๐Ÿต๐Ÿต๐Ÿต๐Ÿต๐Ÿต


Di ruangan rumah sakit. Rendy baru saja keluar kamar mandi. Ia sudah berganti pakaian yang sebelumnya Mang Asep bawakan dari rumah.


Rendy menghampiri Lisa, ia duduk tepat di samping istrinya. Tatapannya sendu, ia tidak bisa menyembunyikan raut kesedihan di wajahnya.


"Sayang, aku sudah menjebloskan ke penjara gadis iblis yang telah membuatmu seperti ini! Sekarang bukalah matamu, Sayang. Aku ingin menatap mata indah milikmu lagi...," lirih Rendy.


Rendy memegang erat tangan Lisa. Tidak terasa cairan bening itu lolos menetas dari pipi Rendy ke tangan milik istrinya. Saat ini hatinya tengah terkoyak. Ia berusaha berbaik sangka pada Sang Pencipta.


"Ya Allah, apakah harus seperti ini jalan takdirku? aku sudah pernah kehilangan istri pertamaku. Apa aku juga akan kehilangan istri keduaku saat ini?" tutur Rendy.


Rendy menelengkupkan kepalanya di dekat tangan Lisa. Ia sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya pada istri kecilnya. Perlahan matanya berat. Rasa kantuk itu mukai menyerang dirinya. Dengan hati yang remuk, Rendy menutup matanya. Berharap saat bangun nanti, semua yang terjadi hari ini adalah mimpi belaka.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG~~~


Jangan lupa like, coment dan vote sebanyak-banyaknya๐Ÿ˜


__ADS_2