Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
104


__ADS_3

Setiap peristiwa yang terjadi, otomatis akan tersimpan jelas di otak manusia. Baik itu sesuatu yang buruk, atau pun yang baik.


Sel otak seseorang dirancang dengan daya rekam kuat, kejadian berpuluh-puluh tahun pun masih tertata rapih di dalamnya.


Lisa mulai sedikit tenang. Sisa-sisa air mata masih membahasi pelupuk matanya. Rendy merangkul kembali tubuh mungil yang tadi bergetar ketakutan.


"Semua sudah berakhir. Aku berjanji padamu, aku akan siap melindungimu dari hal apapun," ucap Rendy.


Rasa hangat dari tubuh Rendy menerobos masuk lewat serat-serat pakaian Lisa, lalu menjalar ke seluruh badannya.


"Ayo, kita pulang," ajak Rendy.


Lisa mengangguk. Perlahan tubuhnya mundur, lalu duduk tenang kembali di kursi. Rendy mulai melajukan mobil, menjauh dari halaman kantor polisi.


Hujan yang semula deras mulai sedikit reda, hanya tinggal rintik-rintik kecil yang masih bermanjaan dengan bumi.


"Mas," panggil Lisa.


Rendy menoleh, satu tangannya membelai halus kepala Lisa yang tertutup jilbab lalu berkata, " Ada apa? bicaralah."


Lisa mengulas sedikit senyum. Menikmati setiap belaian halus di kepalanya. Mengapa rasanya setenang ini hanya dengan dibelai suaminya? lembutnya tangan Rendy sama persis dengan milik Almarhum Bapaknya.


"Aku merasa seperti kembali ke masa lalu. Masa di mana saat kecelakaan itu terjadi," ungkap Lisa. "saat itu juga hujan sangat deras. Saat di mana untuk terakhir kalinya aku bisa menikmati waktu dengan keluargaku."


Tatapan Lisa sendu, ada raut kesedihan mendalam di wajahnya. Tidak bisa di pungkiri, kejadian yang baru saja di alaminya mampu membangkitkan kenangan menyakitkan di masa lalu.


Rendy terdiam, ia ikut larut dalam perkataan istrinya. Ia pun sama, rasa takut menyelimutinya. Ia takut, jika saat tadi mobilnya tergelincir karena melaju kencang menembus derasnya hujan demi menyelamatkan diri.


Bukankah itu sama saja seperti dulu. Ia mungkin masih memaafkan dirinya sendiri, jika hanya dia yang celaka. Namun, jika istri&calon anaknya yang terluka. Mungkin selama sisa hidup, Rendy akan merasa menyesal untuk kedua kalinya.


"Sayang, tenanglah. Aku tidak akan membuatmu celaka selama berada di sampingku," jawab Rendy. " jangan ingat lagi momen menyakitkan itu. Mungkin kamu sedikit trauma tentang kecelakaan, tapi perlahan lupakanlah kenangan buruk itu dalam pikiranmu."


Seketika suasana menjadi hening. Tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Semua membungkam mulut, larut dalam pikirin masing-masing.


Selang dua puluh menit, mobil membawa mereka pulang ke rumah. Rendy keluar terlebih dahulu, hendak membukakan pintu untuk istrinya. Akan tetapi, suara erangan kesakitan terdengar jelas dari dalam mobil. Rendy yang khawatir langsung menarik pintu mobil dengan kasar.


"Sayang, apa yang terjadi?" Raut wajah Rendy mengisyaratkan kekhawatiran.


"Aww__ sakit, Mas." Memegang perutnya dengan tangan.

__ADS_1


"Ayo, kita pergi ke rumah sakit," ajak Rendy.


Tanpa berpikir panjang, Rendy menutup kembali pintu mobil,lalu segera masuk ke dalam mobil dan segera melaju menuju rumah sakit.


Sebelum sampai rumah sakit. Rendy mengambil ponsel, lalu menelpon Dika yang sudah sejak dua hari belakangan pulang ke tanah air.


Dengan menggunakan hedset di telinga, Rendy memulai panggilan suara pada Dika.


"Hallo. Assalamualaikum, Dik," ucap Rendy begitu panggilan tersambung.


"Waalaikumsalam. Iya, Ren ada apa?" tanya Dika di sebrang ujung telepom sana.


"Dik, tolong siapin kamar Vip di rumah sakit sekarang juga!"


"Kamar Vip! siapa yang sakit, Bro?"


"Istri gue ngeluh perutnya sakit. Gue takut ada apa-apa sama kandungannya," jawab Rendy. " langsung siapin sekarang juga, Dik! Gue lagi meluncur ke rumah sakit."


"Ok, Bro! Hati-hati nyetinya, Lo," pesan Dika.


Rendy tidak menjawab lagi, seketika langsung menutup sambungan telepon. Sedangkan di sampingnya, Lisa masih terus kesakitan.


Rendy benar-benar kacau saat ini. Kejadian menegangkan dua kali menerpanya hari ini. Keduanya sukses membuat nyali Rendy menciut karena ketakutan.


Sesampainya di pintu masuk utama rumah sakit. Rendy di sambut oleh Dika, Dokter wanita dan beberapa perawat yang memegang Brankar dorong.


Dengan cekatan Rendy mengendong istrinya, memindahkan dari mobil ke brankar dorong.


"Langsung bawa ke kamar Vip!" perintah Dika.


Para perawat dan satu dokter wanita segera mendorong brankar sesuai perintah Dika. Tangan Rendy terus menggenggam tangan mungil istrinya yang masih saja mengadu kesakitan.


"Sayang, tenanglah! Kamu akan segera mendapatkan perawatan," ucap Rendy.


"Mas, ini sakit," keluh Lisa.


Raut wajah sedih Rendy tidak bisa disembunyikan. Dika yang melihat interaksi kedua insan itu, ikut merasakan rasa kasih sayang di antara mereka.


Tidak berapa lama, mereka semua sampai di kamar yang sudah di persiapkan untuk Lisa. Dokter wanita meminta Rendy tetap di luar bersama Dika untuk menunggu.

__ADS_1


"Sabar, Bro. Gue yakin istri Lo baik-baik aja," ujar Dika menepuk pelan bahu Rendy.


"Dik, gue takut," adu Rendy.


"Gue paham. Meski gue belum berkeluarga, tapi gue udah banyak menyaksikan ratusan suami yang mencemaskan istrinya," ungkap Dika.


Rendy duduk di kursi dengan hati yang cemas. Seuntai Doa ia panjatkan dalam hati untuk Lisa dan calon anaknya.


"Ya Allah, angkat kesakitan istri hamba dari tubuhnya. Andai bisa, biarkanlah hamba yang menggantikannya," batin Rendy.


Sudah hampir sepuluh menit, tapi ruangan itu tak kunjung terbuka. Rendy mulai cemas, hatinya mulai tidak tenang. Akankah Rendy kehilangan calon anak pertama mereka?


Dika yang melihat kecemasan sahabatnya, hanya bisa diam. Ia tidak berbuat apa-apa selain ikut berdoa dalam hatinya. Andai kejadian ini menimpa dirinya, ia pun akan sama seperti halnya Rendy saat ini.


Dika teringat akan pasien yang pernah ia tangani sebelum ke Belanda. Sepasang suami istri datang dengan darah yang mengalir dari jalan lahir sang istri.


Saat itu si suami sudah pasrah akan takdir yang menerima mereka. Ia bahkan sempat pingsan saat dokter memberitahu, jika calon anak mereka tidak bisa diselamatkan.


Dika berada di sana, menyaksikan laki-laki itu menangis histeris melepas kepergian calon anak yang mereka nantikan selama lima tahun pernikahan.


Dika mulai mengerti, bagaimana berharganya seorang istri dan anak bagi laki-laki ini. Dika yang berstatus masih melajang, mulai bertekad akan selalu menjaga keluarganya saat menikah nanti.


Memang semua yang terjadi karena takdir dari Sang Ilahi. Namun, setiap orang juga berkewajiban untuk menjaga titipan dariNYA.


Selang dua menit, dokter wanita keluar dari ruangan. Rendy yang sudah gusar sedari tadi, segera menghampiri dokter itu lalu berkata, "Bagaimana keadaan istri saya, Dok? apa semua baik-baik saja?"


Dokter wanita itu tersenyum. Ia sangat terharu melihat seorang suami yang begitu mengkhawatirkan sang istri.


"Tenang, Pak! Istri Pak Rendy baik-baik saja, begitu pun dengan calon anak Pak Rendy," ujar Rendy. "Sepertinya rasa sakit yang di derita Bu Lisa, karena rasa takut dan guncangan hebat. Saya sarankan untuk tidak melakukan perjalanan jauh terlebih dahulu."


...****************...


BERSAMBUNG~~


Maafkan Author karena kemarin hanya up sekali. Anak-anak minta jatah main keluar. Sampai rumah Author cape bet, udah pegel gendong satpam kecil yang mulai aktif😁


Author agak sedih karena bulan ini level karya malah turun satu tingkat. Tapi karena semua dukungan kalian, Author semangat nulis lagi.


Terimakasih😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2