
Tepat pukul 10 malam, Rendy dan Lisa sudah sampai di rumah. Mereka silih berganti, membersihkan diri masing-masing.
Selesai mandi, Rendy duduk di meja kerja, membuka laptop lalu, mengerjakan pekerjaan yang akan dia tinggalkan beberapa hari ke depan.
Sedangkan, Lisa sibuk menyiapkan segala keperluan dirinya juga Suaminya untuk, rencana bulan madu mereka besok.
"Sayang, jangan terlalu membawa banyak barang. Bawalah seperlunya, kita bisa membelinya di sana nanti jika, kamu membutuhkan sesuatu." Rendy berbicara tapi matanya tetap menatap layar laptop.
"Iya, mas," sahut Lisa.
Tiba-tiba ponsel Lisa berdering, menandakan ada panggilan masuk. Lisa meraih ponselnya di kasur, ada panggilan video dari dokter Dika.
Lisa mengerutkan keningnya, tak biasanya dokter Dika melakukan panggilan video. Apakah terjadi sesuatu di sana?.
Lisa segera mengangkatnya, dia penasaran ada keperluan apakah dokter Dika. Sampai harus melakukan panggilan video.
"Assalamualaikum," sapa Lisa saat panggilan itu terhubung.
Terpangpang jelas, wajah dokter Dika yang rupawan. Dia tampak keren, dengan setelan jas putih khas seorang dokter.
"Waalaikumsalam," jawab Dika di sebrang sana.
Rendy yang mendengar suara laki-laki lain, segera melihat ke arah istrinya. Dia berpikir siapakah yang berani menelpon Lisa.
Lisa melihat ke arah Rendy, dia paham apa yang ada di benak suaminya. Dia segera menghampiri suaminya, memperlihatkan siapa orang yang sedang berbicara lewat ponsel dengannya.
Rendy melihat Dika di layar ponsel, dia akhirnya lega. hampir saja Rendy berpikir yang tidak-tidak.
"Wah, siapa ini? Apa kabar, bro?" sapa Dika di layar ponsel.
"Gue baik. Ngapain lo, malam-malam nelpon istri gue?" tanya Rendy.
"Ya elah, Ren. Santai aja, gue engga maksud apa-apa. Gue cuman mau ngasih kabar baik buat istri lo,"
"Kabar baik apa?"
"Egi udah sepenuhnya siuman, dia udah bisa berkomunikasi. Kalau kesehatannya semakin membaik, seminggu lagi dia bisa pulang," Jelas Dika.
Lisa yang mendengar itu, sangat bahagia. Akhirnya perjuangannya, membuahkan hasil. Tentu semua karena keajaiban yang Allah berikan pada Egi.
Air mata bahagia mengalir di pipi Lisa, dia tak bisa menahan rasa yang ada dalam dirinya. Impiannya untuk berkumpul kembali dengan adiknya, Allah kabulkan.
"Benarkah, Dok? tanya Lisa.
"Benar. Apa kamu ingin melihatnya?"
"Iya, Dok."
"Sebentar." layar di ponsel itu bergerak, menandakan Dika sedang menuju ruangan. Lalu, terdengar suara yang Lisa sangat rindukan.
Wajah yang selama beberapa bulan ini, tak bisa Lisa lihat. Dengan jelas terpangpang nyata, di layar ponsel.
"Assalamualaikum, kak Lisa?" Suara Egi lembut dan merdu untuk Lisa.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Kamu sudah bangun, Dek. Kakak seneng banget." Lisa mengusap air mata di pipinya.
"Kenapa kakak menangis?"
"Kakak nangis karena senang. Kamu akhirnya bisa sadar kembali." suara Lisa berat.
"Kakak, Dimana ibu dan ayah?" Egi tak sabar ingin melihat kedua orang tuanya.
Lisa terdiam, dia tak tau bagaimana harus menyampaikan kabar duka ini. Tapi, lambat laun Egi pun harus mengetahuinya.
Rendy yang paham akan situasi sekarang, mengambil ponsel dari tangan Lisa.
"Hallo, Egi," sapa Rendy ramah.
Egi tersentak dengan kehadiran Rendy yang baru di lihatnya. Apakah kakaknya sekarang sedang bersama seorang lelaki.
"Kakak, Siapa?" Tanya Egi.
"Perkenalkan, saya kak Rendy. Suami kakakmu" Rendy tersenyum ramah.
Suami? Benarkah itu? kenapa kakak menikah tanpa menunggunya sadar? pertanyaan demi pertanyaan datang dari hati Egi.
"Suami?" tanya Egi kembali.
"Iya. Mungkin nanti kak Lisa akan menceritakannya pada Egi. Nah, sekarang lebih baik, Egi banyak-banyak istirahat. Biar Egi bisa cepat pulang," ucap Rendy.
Lisa yang hanya diam mendengarkan percakapan adik dan suaminya. Dia masih terus memikirkan cara untuk, menyampaikan perihal orang tua mereka pada adik kesayangannya
"Dek, cepet sembuh ya. Kakak menunggumu di sini. Maaf, kakak engga bisa nemenin kamu disana." Lisa menahan air matanya saat memandang wajah adiknya.
"Jangan sedih, Dek. Kamu adalah harta terindah kakak jadi, apapun akan kakak lakukan demi kamu. Nurut sama pak dokter ya di sana," nasihat Lisa.
"Iya, kak."
"Kalau gitu, kasih lagi ke pak dokter ya ponselnya." Ujar Lisa.
Egi menurut, Egi mengembalikan ponsel milik Dika. Dika menerima dengan hati bersedih, entah setiap dia melihat wajah Egi.
Dika merasa melihat dirinya sendiri, sama seperti halnya Egi. Dika pun seorang yatim piatu tanpa kakak atau pun adik.
Dia di besarkan di panti asuhan, hingga suatu saat ada keluarga kaya raya yang mau mengadopsinya.
Dika mendapatkan semua yang pernah hilang dari keluarga barunya. Kasih sayang seorang ibu&ayah, juga bisa merasakan sekolah tinggi hingga mendapat gelar dokter, seperti cita-cita orang tua aslinya dulu.
"Lis, cuman itu yang mau saya beritahu sama kamu. Nanti kalau Egi sudah di perbolehkan pulang, saya akan mengabarimu juga," ujar Dika.
"Iya, Dok. Terimakasih karena, sudah merawat Egi selama di sana. Maafkan saya, banyak merepotkan pak dokter,"
"Semua atas kehendak Allah, Lis. Kita manusia hanya berusaha semampunya tapi, hasilnya tetap Allah yang menentukan. Jangan sungkan, saya tidak merasa keberatan. Egi, sudah saya anggap adik saya sendiri,"
Dika terdengar menghela nafas, lalu melanjutkan ucapannya kembali.
"Kalau begitu, saya tutup dulu telponnya. Saya harus kembali bekerja, salam untuk lelaki bucin di sampingmu hehehe." Dika cengengesan.
__ADS_1
"Sialan lo. Ni pasti kerjaan si Rey, anak itu mulutnya memang lemes!" timpal Rendy kesal yang mendengarnya.
Dika masih ingat sekali, saat Rey menceritakan bagaimana tingkah laku Rendy sekarang pada istrinya.
Rey mengatakan kalau, Rendy sekarang seperti ABG labil, yang baru saja mengenal cinta.
"Iya, Dok." Lisa tersenyum simpul.
"Assalamulaikum." Dika mengakhiri panggilan videonya.
"Waalaikumsalam," jawab Lisa.
Lisa menatap suaminya, wajah Rendy terlihat tak senang karena perkataan Dika barusan. Lisa sebenarnya ingin ikut tertawa. Tapi, dia tak berani jika di hadapan Rendy.
Yang di katakan Dika benar adanya, Lisa merasa suaminya menjadi sosok yang bucin. Padahal saat pertama kenal dulu, Rendy bahkan sangat menjaga jarak dan ucapannya.
Berbeda dengan sekarang, Rendy selalu ingin terus dekat dengan Lisa. Terkadang Lisa merasa malu, saat Rendy memperlihatkan sikap mesranya di hadapan orang Lain.
Lisa bukan tak suka, kalau boleh jujur dia sangat bahagia. Hanya saja bukan di tempat umum juga.
Rendy mendekat pada Lisa, Lisa terus menahan tawanya. Akan tetapi, rasanya sangat sulit.
"Hahahahaha." Lisa tertawa puas untuk pertama kalinya di hadapan Rendy.
"Apa kamu sedang menertawaiku, sayang?" Rendy menatap Lisa dengan tatapan tak bisa di artikan.
"Maaf, mas. Aku engga bisa nahan!" sesal Lisa.
"Wah, ternyata istri kecilku sudah berani menertawaiku sekarang. Sepertinya, kamu minta di hukum," goda Rendy mendekat pada Lisa.
"Eh, anu...Mas...anu." Lisa gugup.
"Anu apa? Apa kamu takut di hukum, percayalah hukumannya tidak akan sakit tapi, justru kamu akan menikmatinya." Rendy tersenyum nakal.
Lisa yang bingung harus berbuat apa, dengan sekuat tenaga berusah lepas dari Rendy. Dia memberanikan diri menginjak kaki suaminya, sampai Rendy kesakitan dan menjauh dari Lisa.
Lisa yang tak melewatkan kesempatan ini, langsung saja lari kocar kacir ke arah pintu dan keluar sambil berkata.
"Maafkan, aku mas. Nanti saja hukumannya, kalau sudah di jepang!" teriak Lisa menjauh dari kamar.
Rendy yang mendengarnya hanya tersenyum kecil. Istri kecilnya sekarang sudah bisa bercanda.
Gue harap semua tetap seperti ini. Batin Rendy.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Lisa kayaknya udah mulai nyaman sama Rendy ya readers๐
Tinggal Rey sama Mona nih yang masih abu-abu aja๐
Terus dukung author dengan Like, coment&vote ya๐๐
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA๐๐๐