
Malam gelap penuh bintang. Zahra berdiam diri memandang jauh ke angkasa. Pikirannya ikut melayang bersama jauhnya mata memandang.
Hatinya tengah diliputi perasaan bimbang. Mungkinkah ia pantas bersanding dengan seorang lelaki baik bernama Paman Egi itu?
Bukankah jodoh adalah cerminan diri. Bagaimana ia bisa mendapatkan jodoh yang terbaik. Sedangkan dirinya saja tidak memantaskan diri.
Suara ketukan pelan menarik Zahra dari kebimbangannya. Ia melangkah maju ke arah pintu, lalu membukanya.
Mona berdiri sambil tersenyum tatkala pintu itu terbuka. Mona berkata, "Apa kamu belum tidur, Sayang?"
"Aku belum mengantuk, Ma," jawab Zahra.
"Boleh Mama masuk?"
"Tentu." Menatap ibunya dengan senyuman.
Mona menyeret kakinya masuk ke dalam kamar sang anak. Kamar ini dulu penuh dengan mainan. Namun, kini berbeda. Karena, Zahra sudah tumbuh dewasa.
Mona duduk di atas ranjang diikuti Zahra.
"Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan, Sayang? sejak pulang kuliah, Mama melihatmu tidak bersemangat," cakap Mona.
Diam. Zahra menunduk ke bawah. Ia memang bukan type orang yang sanggup menyembunyikan perasaan hatinya pada orang lain, kecuali pada Egi.
"Ada sesuatu yang mengusik hati Zahra, Ma. Mungkin ini seperti sebuah ketukan dari Allah untuk Zahra," ungkapnya.
"Apa itu?"
"Saat tadi di masjid. Setelah menunaikan sholat Asyar. Zahra menyaksikan Paman Egi bertilawah. Suaranya sangat merdu sampai hati Zahra menangis. Bukan karena melihat untuk pertama kalinya. Namun, Zahra merasa tidak pantas bersama Paman Egi," jelas Zahra.
"Kenapa?"
"Paman Egi seorang lelaki yang baik dan taat agama. Sedangkan, Zahra ... menutup aurat saja belum sepenuhnya ...," lirih Zahra.
Mona tersenyum kecil. Ia semakin mendekatkan diri pada anaknya. Mengusap lembut rambut sebahu milik Zahra, lalu berkata, "Apa kamu ingin mendengar awal mula Mama memakai hijab?"
Zahra mengangguk pelan.
"Baiklah. Dulu, sebelum Mama menikah dengan Papamu. Mama juga sepertimu, padahal Tante Lisa selalu mengingatkan Mama tentang wajibnya hijab untuk muslimah. Setelah menikah, Papamu mengatakan sesuatu yang membuat Mama menangis, lalu tanpa bertanya lagi. Mama langsung memutuskan berhijab, dan sepenuhnya menutup aurat."
__ADS_1
Zahra melirik sekilas pada Mamanya. Hatinya ingin bertanya, apa yang Papanya katakan pada Mamanya.
"Kamu pasti ingin tahu 'kan?" Masih mengusap lembut rambut Zahra.
"Iya, Ma," jawab Zahra.
Mona melepaskan tangannya dari kepala Zahra. Ia menatap langit dari jendela yang sudah terbuka.
"Papamu mengatakan bahwa saat seorang wanita muslim tidak menutup auratnya. Maka, ada empat lelaki yang ia seret ke neraka bersamanya," kata Mona.
"Lalu siapa keempat lelaki itu, Ma?" tanya Zahra penasaran.
"Ayahmu, saudara lelakimu, suamimu, dan anak lelakimu," ungkap Mona.
Zahra tertegun. Tanpa terasa cairan bening mulai menetes, lalu meluncur bebas di pipinya. Hatinya semakin tergoyah. Benarkah apa yang ia dengar ini?
Mona melihat itu. Ia segera mendekat tubuh sang anak, lalu berkata, "Kamu belum terlambat. Bukankah selama ini Mama dan Papa selalu mengingatkanmu? mungkin saat inilah hatimu baru bisa menerima."
Tangis Zahra pecah dalam dekapan sang Mama. Ia merasa menyesal, karena selama ini tidak mendengarkan apa yang Papa dan Mamanya.
"Ma ... Zahra ingin menutup aurat sepenuhnya. Tapi, Zahra bukan orang baik. Kelakuan Zahra saja masih seperti ini," tutur Zahra.
Hening. Tidak ada percakapan dari keduanya. Zahra masih tidak ingin menghentikan tangisannya. Mona mengerti akan hal sulit yang tengah anaknya hadapi.
Tanpa mereka sadari, Rey mendengarkan pembicaraan keduanya dari ambang pintu. Lelaki paruh baya itu tersenyum, lalu berlalu pergi. Ia tidak kuasa melihat Zahra menangis di dekapan sang Mama.
Zahra mengangkat kepalanya. Menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Zahra menatap lekat Mamanya sambil berkata, "Ajari Zahra menutup aurat yang benar, Ma."
Senyum Mona mengembang. Ucapan indah itu akhirnya ia dengar. Tanpa menunggu lama, Mona bergegas pergi ke kamarnya. Ia ingin memberikan hijab yang baru ia beli. Namun, belum sempat ia berikan pada anaknya.
Rey melihat istrinya masuk ke dalam kamar. Tatapan penuh kebahagiaan. Rey tersenyum sambil berkata, "Kamu adalah Ibu terbaik. Aku tidak menyesal menikahi wanita sepertimu."
Seperti mengerti maksud suaminya. Mona membalas senyuman Rey.
"Aku harap kita bisa sama-sama mendidik putri kita menjadi wanita yang patut akan RABBNYA,"
Rey mengangguk pelan. Ia kembali membaringkan tubuhnya yang lelah, karena seharian bekerja.
Mona mendekati lemari, lalu membukanya. Tangannya mengambil bingkisan berwarna hijau muda. Ia tersenyum, lalu berkata, "Ya Allah, aku berharap semoga Zahra anakku. Bisa istiqomah dalam menjalankan kewajibannya padamu."
__ADS_1
Tanpa menunggu lama. Mona segera menutup kembali lemari, kemudian berlalu meninggalkan suaminya yang mungkin sudah terlelap ke alam mimpi.
Sementara itu, Zahra diam mematung saat melihat Mamanya pergi meninggalkannya. Ia tidak mencegah. Namun, hatinya terus bertanya.
Zahra melangkah ke arah jendela. Ditatapnya kembali ratusan bintang yang kini hadir menghiasi gelapnya langit malam.
"Kalian begitu bersinar. Aku ingin seperti kalian, bisa menerangi hati seseorang dalam kegelapan. Namun, kini aku menyadari bahwa aku seharusnya memantaskan diri terlebih dahulu. Aku yakin Allah akan memberi jodoh terbaik untukku suatu saat nanti," gumam Zahra.
Suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Ia berbalik ke arah belakang. Terlihat sang Mama membawa sebuah bingkisan kecil, lalu berkata, "Ini, ambillah!"
Zahra meraih bingkisan itu sambil berkata, "Ini apa, Ma?"
"Itu adalah hijab yang Mama baru beli seminggu yang lalu. Tadinya Mama akan memberikan padamu kemarin-kemarin, akan tetapi Mama selalu kelupaan. Saat kamu mengatakan niatmu tadi. Mama langsung terpikirkan bingkisan itu. Mungkin inilah cara Allah mengetuk hatimu," beber Mona.
Zahra membuka perlahan bingkisan tersebut. Ia melihat ada lima hijab dengan warna yang cantik. Zahra kembali menatap Mamanya. Ia segera berhamburan masuk kembali ke dalam dekapan Mamanya.
"Terima kasih, Ma ...," lirih Zahra.
"Sama-sama, Sayang." Memeluk erat Zahra.
"Sekarang, tidurlah! Ini sudah larut malam. Jangan lupa berdoa sebelum tidur. Selamat anakku. Mama berdoa semoga Allah selalu memberimu kebahagiaan, dan mengirimkan lelaki baik untuk imammu nanti." Mencium kening Zahra.
"Aamiin," jawab Zahra.
"Kalau begitu, Mama tidur dulu, ya!"
"Iya, Ma,"
Mona membalikkan badan, lalu melangkah keluar kamar. Sedangkan, Zahra masih setia menatap punggung sang Mama.
Zahra bergegas duduk di hadapan meja rias. Ia mengambil satu hijab berwarna biru, lalu memakainya.
Betapa terkejutnya ia saat melihat penampilannya yang berbeda. Zahra sedikit terkesima.
"MasyaAllah, cantiknya," gumam Zahra.
Ia mengerjap beberapa kali. Memastikan bahwa pantulan di dalam cermin itu memang dirinya.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG~~~