Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
S2 BAB 6


__ADS_3

Waktu magrib datang menyapa. Egi yang berniat membeli bubur, akhirnya membawa kakinya ke mushola rumah sakit terlebih dahulu.


Ia memilih menunaikan kewajibannya sebagai muslim. Setelah itu ia segera kembali ke kantin.


Bubur sudah ia dapati, kali ini Egi berjalan sedikit pelan.Tiba-tiba terdengar seseorang memangil dari arah belakang.


"Egi ...!" teriak Dika.


Egi menoleh ke arah belakang. Terlihat Dokter lelaki yang dulu pernah menjadi Dokter hebat untuk dirinya sewaktu kecil.


Egi menyalami punggung tangan Dika layaknya seorang anak pada sang Ayah. Dika berkata. "Kamu sedang apa di sini?"


"Egi hanya mengantar teman, Kak," jawab Egi.


"Teman! kenapa dengan temanmu, Egi?" tanya Dika sedikit khawatir.


"Dia pingsan tadi di parkiran. Sejujurnya Egi baru bertemu dengannya tadi di parkiran juga. Egi melihat dia sedang menunggu Kakaknya, akan tetapi saat Egi masuk mobil. Dia tiba-tiba pingsan," ungkap Egi.


"Wanita apa lelaki temanmu itu? bagaimana kondisinya sekarang?" cecar Dika.


"Seorang gadis, Kak. Alhamdulilah, kata dokter dia hanya telat makan saja."Tersenyum manis.


"Gadis!" seru Dika.


"Iya. Kenapa, Kak?"


"Ah, Kaka hanya sedikit kaget. Kamu biasanya tidak ingin berdekatan dengan perempuan," tutur Dika.


"Egi kasian melihatnya pingsan. Jadi, mau tidak mau Egi membawanya ke rumah sakit!" jelas Egi.


"Baiklah. Kamu akan ke UGD 'kan? Ayo, jalan bersama. Kaka juga akan ke sana!" ajak Dika.


"Iya, Kak," sahut Egi.


Keduanya berjalan beriringan. Dika banyak bertanya soal anak kembarnya. Ia tahu bahwa Egi adalah salah satu dosen yang mengajari akan lelakinya. Maka dari itu, Dika tidak sungkan bertanya banyak.


"Egi, apa kamu baik-baik saja? maksud Kaka, cita-citamu dulu ingin menjadi dokter. Namun, kamu malah berubah pikiran," ujar Dika.

__ADS_1


"Aku tidak masalah, Kak! Kaka tahu 'kan, saat Kak Lisa koma. Saat itu aku takut untuk datang ke rumah sakit. Aku takut melihat keluargaku pergi. Namun, seiring waktu aku menyadari bahwa setiap manusia pasti akan kembali pada RabbNYA," tutur Egi.


Dika menepuk pelan bahu mantan pasien kecilnya itu. Dulu Egi bagai cerimanan dirinya. Setelah Dika menikahi Dira. Egi semakin dekat dengannya. Ia sering ikut menginap, jika pak Adrian datang berkunjung ke rumah mereka.


"Oh, ya bagaimana keadaan Kak Dira? sudah lama Egi tidak mampir ke rumah. Maaf!" kata Egi.


"Alhamdulilah, Kakamu sehat. Dia sedang senang-senangnya bermain dengan meteran di butik. Kaka saja sampai dilupakannya." Tertawa pelan.


Egi hanya tersenyum kecil.


"Syukurlah, apa yang menjadi keinginan Kak Dira tercapai. Kini Kaka sudah menjadi desainer terkenal," cakap Egi.


Dika melirik sekilas pada Egi. Ada raut kekhawatiran dari wajah Dokter senior itu.


"Apa kamu tidak ingin menikah?" tanya Dika.


Perjalanan menuju UGD terasa panjang bagi Egi. Pertanyaan yang sering ia dapatkan dari orang terdekatnya itu, hanya ia tanggapi dengan senyuman kecil.


"Menikahlah, Egi. Kamu tidak akan selamanya sendiri. Kamu tetaplah manusia normal, yang butuh seseorang untuk berbagi beban, suka, duka dan canda. Terlebih kamu adalah seorang lelaki yang harus punya tempat, untuk menyalurkan hasrat dirimu!" nasihat Dika.


Yang dikatakan Kaka iparnya tidaklah salah. Setiap manusia normal butuh pasangan hidup. Namun, Egi belum memikirkan ke tahap sejauh itu.


"Kak, aku pasti menikah suatu saat nanti. Mungkin bukan saat ini, tapi percayalah aku akan menemukan perempuan yang bisa mengerti dan sejalan denganku," jawab Egi.


Tidak terasa mereka sudah tiba di UGD. Dika mengikuti Egi menuju gadis yang ia tolong. Namun, suara lelaki yang sedikit kasar mengagetkan mereka.


"Lo tuh bisanya nyusahin aja! Gue 'kan udah bilang, jangan pernah berani pulang sendirian. Lo mau reputasi gue hancur di depan mata keluarga Lo!" seru lelaki itu pada gadis yang Egi tolong.


"Ma-maaf," cicit gadis itu.


"Awas aja! Kalau sekali lagi Lo bikin ulah lagi. Gue engga segan-segan kasih tahu yang sebenarnya ke keluarga Lo! Lo tahu 'kan akibatnya gimana!" ancamnya kembali.


"I-iya, Kak. Aku janji." Tertunduk lesu.


Egi menatap dengan penuh tanda tanya. Ada apa sebenarnya yang terjadi antara gadis itu dan lelaki kasar ini? mungkinkah lelaki ini adalah tunangannya.


Egi menghampiri mereka, lalu berkata, "Maaf, saya menganggu. Ini, saya belikan bubur untukmu."

__ADS_1


Egi menyimpan bubur di atas nakas. Mata gadis itu masih saja tertunduk. Sedangkan pria kasar disampingnya menatap lekat Egi.


"Oh, jadi Lo yang nolongin si Rina," ujar lelaki itu.


Egi sedikit melirik ke arah gadis tadi.


"Ya, saya," jawab Egi.


"Terima kasih Lo udah bawa gadis sialan ini ke rumah sakit. Setidaknya gue engga usah repot-repot ngurusin dia yang pingsan!" tutur lelaki itu.


Dika yang mendengar itu sedikit kesal. Mulut pemuda ini tidak seperti memakan bangku sekolah. Ia memang tidak punya seorang anak perempuan. Namun, ia selalu mengajarkan pada anak kembarnya, untuk selalu menghormati wanita.


"Anda tidak seharusnya berkata seperti itu. Bagaimanapun Rina ini adalah calon istri anda! Dia berhak dapat perlindungan dari Anda, bukan sebuah ancaman!" Intonasi bicara Egi bercampur dengan sedikit emosi jiwanya.


"Hei, Lo siapanya dia sampai berani bilang kaya gitu! Lo belum tahu aja siapa dia, kalau Lo tahu. Gue yakin Lo bakal lebih jijik dari gue!" Jari kanannya menunjuk ke arah Egi.


Egi melirik sekilas pada Rina. Gadis itu tidak berkata sedikit pun. Namun, Egi bisa melihat ada ada setetes cairan bening di pelupuk matanya.


"Saya memang tidak mengenal gadis ini, akan tetapi saya tidak pernah diajarkan untuk berkata kasar pada perempuan," jawab Egi.


Lelaki itu semakin kesal setelah mendengar perkataan Egi. Bola matanya membesar seakan menandakan bahwa amarahnya tengah bangkit.


"Kalau begitu, saya pamit pulang," lanjut Egi. "Satu nasihat saya untuk Anda. Jangan pernah bermain kasar dengan seorang wanita. Mereka terlahir dengan hati yang lembut, dan kita sebagai lelaki yang harus bisa menjaganya agar ia tidak rapuh."


Egi dan Dika berlalu meninggalkan Rina dan calon suaminya. Hati Rina bergetar, untuk pertama kalinya ada lelaki selain ayahnya yang berkata lembut seperti itu.


Jiwanya meronta meminta untuk mengejar Egi. Ia ingin mengatakan bahwa ia berdoa semoga bisa dipertemukan kembali dengan lelaki sebaik Egi. Meski, hanya sesaat saja.


Sementara itu, Egi yang sudah keluar UGD segera pamit pada Dika. Tubuhnya lelah sekali. Ia bahkan belum sempat makan malam.


Egi bergegas masuk ke dalam mobil. Menyalakan mesin, lalu memulai perjalanannya. Hari ini cukup melelahkan. Ia telah melewati berbagi cerita.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Jangan lupa like, coment dan votešŸ¤—

__ADS_1


Hayoh, tebak! Siapa kira-kira wanita yang bisa meluluhkan hati sang Dokter yang belum berkeinginan menikah ini.


Siapa pun pilihanmu, tetaplah setia agar tidak penasaranšŸ¤—


__ADS_2