Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
S2 BAB 14


__ADS_3

Sementara itu di kediaman Rendy. Lisa tengah menyiapkan keperluan mereka ke luar kota. Rendy dan Lisa akan berpergian ke luar kota selama dua hari tentu bersama Rey dan Mona.


"Sayang, jangan terlalu banyak bawa barang. Kita hanya dua hari saja di sana," kata Rendy yang tengah sibuk dengan laptopnya.


"Iya, Mas," sahut Lisa.


Usia pernikahaan mereka sudah hampir berjalan dua puluh dua tahun. Namun, Rendy tetap bersikap lembut. Mereka tetap menjaga keharmonisan. Meski, usia tidak muda lagi.


Sesuai permintaan Lisa, karena Mona juga ikut bersama mereka. Zahra akan tinggal di rumah Lisa selama dua hari. Ia percaya anaknya dan Egi akan menjaga gadis manis itu.


Setelah semuanya selesai. Rendy dan Lisa berpamitan pada Adnan, Zahra, juga Mang Asep, Mang Rudi dan Bi Iyah.


"Bunda titip Zahra, ya, Nan. Tolong jagain," pesan Lisa.


Adnan mengangguk tanpa ingin melihat pada Zahra. Ada rasa menyesal dalam hati atas perrbuatannya tadi siang. Ia mungkin terlalu emosi, sehingga membuat ia seperti itu.


"Bi Iyah, Mang Rudi, Mang Asep titip anak-anak, ya," kata Lisa.


"Iya, Nyonya," jawab mereka serentak.


Lisa beralih pada Zahra, lalu berkata, "Kamu yang betah di sini, ya, Sayang."


Zahra tersenyum manis. Ia mengangguk pelan seperti Adnan. Lisa dan Rendy pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Egi. Lisa lupa mengirim pesan pada adiknya.


Setelah mengantar kedua orang tuanya. Adnan hendak pergi ke kamar. Namun, ia melihat sekilas mata Zahra yang sedikit sembab.


"Aku minta maaf soal tadi di kantin. Aku tidak berniat menyakitimu. Maaf," tutur Adnan.


Zahra diam. Ia sebenarnya tidak ingin berbicara dengan Adnan terlebih dahulu. Hatinya masih shock atas pengakuan teman masa kecilnya ini.


Zahra mengayunkan kaki menuju pintu. Namun, Adnan mencegahnya. Entah apa lagi yang akan terucap dari bibir pemuda tampan itu.


"Aku tidak bohong soal aku mencintaimu. Memang itu kenyataannya, tapi aku juga sakit melihatmu seperti ini. Kamu mencintai Paman Egi 'kan?" tanya Adnan.


Zahra berbalik. Matanya menatap Adnan lekat.


"Terima kasih atas rasa cintamu padaku. Aku sangat berterima kasih," jawab Zahra.


Zahra menghela napas. Ia memberi jeda untuk dirinya melanjutkan ucapannya.


"Ya, aku memang mencintai Paman Egi. Aku tidak mengelek tentang itu. Tapi, aku juga sama sepertimu. Aku tidak bisa memaksa orang yang Aku cintai mencintaiku juga," sambung Zahra.


Cairan bening hadir kembali di netranya. Hatinya lega saat ini. Ia tidak memikirkan bagaimana nasib pertemannya dengan Adnan setelah ini. Yang jelas Zahra tidak ingin memberi harapan palsu pada Adnan.


Tanpa di duga Egi telah berada di sana. Ia memandangi kedua remaja yang tengah berbicara. Egi mengayunkan langkah melewati keduanya sambil berkata, "Sudah mau magrib. Sebaiknya kalian siap-siap untuk sholat."


Egi meneruskan langkah masuk ke dalam rumah. Ia pura-pura tidak mendengar percakapan keduanya. Menurut Egi, kedunya masih labil. Mereka masih dalam proses pembentukan diri.

__ADS_1


Zahra menyusul Egi ke dalam. Ia sedikit tersentak saat melihat Egi datang tiba-tiba. Banyak pertanyaan yang memenuhi pikirannya.


"Ah, malunya. Apa Paman mendengar pernyataan cintaku," batin Zahra.


Melihat pamannya dan Zahra masuk. Adnan pun ikut menyusul ke dalam. Ia sebenarnya ingin bertanya pada Egi. Apa lelaki es itu mencintai Zahra juga?


🌻🌻🌻🌻🏵🏵🏵🏵


Adzan magrib berkumandang. Pertanda waktu salat telah tiba. Alam pun berubah menjadi gelap.


Saat ini seluruh penghuni rumah tengah sholat berjamaah di mushola. Egi bertindak menjadi imam. Suara merdunya saat melantunkan surat-surat pendek membuat hati menjadi tentram.


Egi memang di didik sangat baik. Ia tumbuh menjadi lelaki taat agama. Meski begitu, ia pun tidak kalah pintar dalam hal ilmu dunia. Terbukti ia menjadi dosen paling muda.


Selesai sholat, Egi, Zahra dan Adnan terlihat berkumpul di meja makan. Mereka hendak makan malam bersama. Tiba-tiba terdengar ricuh suara dua lelaki kembar masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum. Penghuni rumah, duo R datang!" teriak Riki.


"Ki, Lo namu apa masuk hutan 'sih!" tegur Riko.


"Engga, gue lagi jualan masker," sungut Riki. "Udah tahu lagi namu pake nanya!"


"Jangan teriak-teriak juga. Lo mau di sleding sama Paman Egi," kata Riko.


"Kok gue merinding, ya denger nama paman Egi." Memegang leher belangkang dengan kedua tangannya.


"Paman bukan setan, tapi lebih nyeremin dari setan. Liat aja matanya kalau lagi marah sama kita. Aduh, Abang. Dede atut," bisik Riki.


Riko memukul pelan punggung kembarannya. Selalu ada saja kekonyolan dari mulut adik yang berbeda 3 menit darinya. Meski begitu, mereka tetap saling menyayangi.


Adnan, Egi dan Zahra menoleh ke arah asal suara. Si kembar terlihat mendekati mereka.


"Waalaikumsalam," jawab Egi. "Kalian ada apa ke sini?"


Riki menyikut Riko seakan memberi isyarat untuk menjawab pertanyaan pamannya.


"Begini, Paman. Kami cuman pengen numpang makan," balas Riko asal.


"Astagfirullah, Bambang. Ngapain Lo jawab numpang makan segala." Riko menepuk pelan keningnya.


"Lo berdua mau numpang makan apa mau nginep?" sindir Adnan.


"Nah, itu Lo tahu " Riki cengegesan.


Egi mengajak keponakan kembarnya ikut makan bersama. Tentu, kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Riki dan Riko.


"Niat menginap, dapat sugahan enak pula," batin si kembar.

__ADS_1


Suasana berubah hening. Semua pokus pada makanan masing-masing. Makanan Bi Iyah memang tidak kalah enaknya dengan buatan Lisa. Terlebih penghuni rumah bukanlah orang yang pemilih soal makanan.


Malam semakin larut. Egi segera masuk kamar setelah selesai makan malam. Sedangkan si kembar dan Adnan masih asyik bermain PS di ruangan tengah. Zahra sendiri memilih diam di kamar tamu.


Kamar Egi bersebelahan dengan kamar tamu. Kamar yang kini di isi oleh Zahra. Lelaki tampan itu keluar kamar hendak pergi ke perpustakaan rumah. Ia melihat Zahra juga keluar kamarnya.


Gadis itu berjalan menuruni tangga ke lantai bawah dengan lesu. Egi berpikir mungkin Zahra masih shock tentang pengakuan cinta Adnan tadi siang.


Egi berlalu menuju tujuannya. Ia tidak ingin terlalu terlibat masalah anak remaja. Namun, ia juga masih terpikirkan perkataan Zahra tadi siang.


"Gadis itu. Aku tidak tahu lagi menghadapinya," batin Egi.


Sementara itu, Zahra berjalan melewati ketiga lelaki yang pokus pada permainan PS. Mereka tidak sadar akan kehadiran Zahra. Meski, hanya melintas saja sebentar.


Zahra memilih duduk di bangku teras. Ia memandangi langit malam yang indah. Ratusan bintang bersinar terang memancarkan keindahannya. Membuat ia merasa iri.


"Kalian terlihat senang di atas sana. Aku iri sekali," gumam Zahra pelan.


"Mereka bahagia, karena pokus pada dirinya sendiri. Mereka hanya tahu menerangi malam. Tanpa memikirkan apa bulan akan datang atau tidak. Mereka bersinar sesuai kemampuannya, tanpa harus memaksakan diri. Itulah mengapa mereka nampak bahagia," kata Egi tiba-tiba datang dari belakang.


Zahra menoleh ke arah Egi. Matanya tidak sanggup untuk sekedar menatap lelaki yang kini berjalan ke arahnya.


Egi duduk tepat di samping Zahra. Ia ikut serta memperhatikan para bintang.


"Kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk mendapatkan cinta seseorang. Kamu hanya perlu jadi dirimu sendiri, maka cinta akan hadir menyapamu dengan tulus," lanjut Egi.


Zahra diam. Ia tidak tahu harus berbicara seperti apa dengan Egi. Hatinya masih malu, jika teringat kejadian tadi sore.


Zahra perlahan mengumpulkan keberanian. Ia ingin memastikan perasaan Egi padanya. Ia masih berharap ada peluang. Meski, itu hanya seujung kuku.


"Apa Paman mendengar pembicaraanku dengan Adnan tadi sore?" tanya Zahra.


"Iya," sahut Egi.


Zahra menggigit bibir bawahnya. Ia mengatur napas agar tidak merasa gugup.


"Aku menyukai Paman lebih dari aku menyayangi diriku sendiri. Apa Paman memiliki rasa yang sama denganku?" tanya Zahra.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


MOHON MAAF, AKU BUKAN TIDAK INGIN MEMBERIKAN VISUAL🙏 AKU YAKIN KALIAN PUNYA KHAYALAN MASING-MASING🤗


AKU HANYA BERHARAP CERITA INI BISA MENGHIBUR KALIAN🤗 MAAFKAN AKU YANG MASIH SELALU MEMBUAT KESALAHAN🙏🙏


TERIMA KASIH ATAS SEMUA DUKUNGAN SEMUANYA SAMPAI DETIK INI.

__ADS_1


PELUK JAUH DARIKU UNTUK SEMUANYA🤗🤗😍


__ADS_2