Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
Extra part 1


__ADS_3

Dulu aku tak menganggapmu, tetapi sekarang kau orang terpenting dalam duniaku.


Dulu aku tak mencintaimu, tetapi sekarang rasa cintaku terus menggunung tak terhenti.


💭💭💭 EGI 💭💭💭


Wajah bersinar terus terpancar, senyuman indah tak henti mengembang. Dua sejoli telah bersatu dalam ikatan sah di mata Allah.


Hari ini keduanya berencana berangkat berbulan madu. Zahra sudah siap dari sejak subuh. Sedangkan, Egi masih bermanja di atas kasur, mengisi batrai dirinya yang habis terkuras semalam.


"Mas, jam berapa kita berangkat? Nanti kita tertinggal pesawat, penerbangannya dua jam lagi," tanya Zahra, menggoyang-goyangkan badan Egi.


Zahra mengenangkan gamis berwarna merah muda dengan pashmina warna senada menutup dada. Egi masih tak ingin beranjak, rasa kantuk mendera matanya hingga sulit terbuka.


"Honey, Aku masih mengantuk. Bisakah kamu duduk diam dulu!" pinta Egi di balik selimut.


"Aku saja segar, kenapa Mas bisa mengantuk?" tanya Zahra kembali tanpa rasa bersalah.


Egi bangun, matanya menatap tajam pada Zahra sambil berkata, "Apa kamu tidak ingat kejadian semalam? Kamu mengganggu waktu tidurku hampir sepanjang malam!"


"Benarkah?" Zahra merangkak naik ke kasur, lalu masuk ke dalam selimut bersama Egi. "Apa yang terjadi semalam, Mas?"


Egi berdecak kesal, semalaman dia tak tidur, tetapi justru istrinya tak mengingat apa-apa. Haruskah dia menceritakan apa yang terjadi di malam pengantin mereka.


Egi memeluk Zahra dari samping, rasa nyaman menjalar ke seluruh tubuhnya. Zahra memiliki aura positif kuat dan magnet nyaman yang hebat. Sehingga sulit sekali bagi Egi, untuk melepaskan pelukan.


"Kamu sungguh tak ingat apa-apa?" bisik Egi.


Zahra mengangguk pelan. Jantungnya berdebar tak karuan, dia seakan tak kuat menahan perlakuan romantis suaminya.


Zahra tak pernah membayangkan, jika dosen dingin yang tak ingin berdekatan dengan perempuan bisa semanja ini, jika telah bersama pasangannya.


Zahra pikir, Egi akan memperlakukannya seperti biasa, cuek dan tak banyak bicara. Namun, ia salah besar. Setelah sah menjadi sepasang suami istri, Egi berubah 100%. Dia bukan lagi seorang kutub es, semuanya telah mencair. Justru rasa hangat dan nyaman yang Egi persembahkan untuknya.


Perasaan gugup dan canggung masih saja Zahra rasakan. Terlebih Egi memaksanya merubah panggilan dosen menjadi panggilan Sayang. Tentu, Zahra belum sepenuhnya siap.


Dia yang terbiasa memanggil Paman, dalam sekejap mata saja harus mengganti panggilannya dengan kata *Sayang.


"Aku harap, jantungku tak meminta berhenti bekerja, karena terlalu mendadak mendapatakan perlakuaan manisnya*," batin Zahra.

__ADS_1


Egi masih menunggu jawaban Zahra sejak tadi. Dekapannya semakin erat, seakan ia tak rela melepaskan Zahra sedikit saja.


"Honey," panggil Egi dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Zahra segera menarik diri dari dunia imajinasi. Dia lupa, bahwa saat ini tengah menghadapi bayi besar yang super manja. Bayangkan saja, sejak salat Isya selesai, Egi bahkan tak mengizinkan Zahra keluar dari kamar satu langkah pun. Lelaki itu terus bermanja-manja selayaknya seorang anak yang merindukan sang ibu.


"Kamu masih belum ingat?" tanya Egi kembali.


"I-ingat A-apa, Mas?" Zahra berusaha menetralisir racun gugup yang telah menjalar hampir ke seluruh tubuhnya.


"Kejadian semalam?" Egi menaikkan satu alis, berusaha menggoda istrinya.


"Memang semalam apa yang terjadi?"


"Sini, aku bantu kamu mengingatnya."


Egi meraih selimut, untuk menutupi mereka sambil membaringkan badan Zahra dan dirinya. Pagi itu semua kembali terulang. Penyatuan dua insan menjadi momen, untuk saling menguatkan cinta.


Flashback.


Setelah lelah melewati pengalaman pertama mereka. Zahra langsung tertidur nyenyak. Sedangkan, Egj mengambil laptop. Ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan di perusahaan Rendy, sebelum akhirnya dia kembali mengemban tugas menjadi dosen.


Satu per satu Egi membuka file dokumen yang telah dikirim Rey. Tangannya begitu lihai menari-nari di atas laptop.


Malam semakin larut, rasa kantuk mulai menerjang. Egi tak kuasa bertahan, dia mutuskan mengakhiri aktivitasnya malam ini. Dan menyusul Zahra yang telah lebih dahulu mengarungi dunia mimpi.


Egi menutup laptop dan menyimpannya kembali di atas meja, lalu meregangkan terlebih dahulu otot-ototnya sebelum tidur. Dia tak menduga permainan suami istri itu sangat menguras tenaga, tetapi membuat ketagihan.


"Pengalaman pertama kami, sungguh melelahkan. Dia cantik! Aku beruntung, Allah menitipkannya padaku." Mencium pelan kening Zahra.


Tanpa diduga, Zahra justru memberikannya pukulan cinta tepat mendarat di pipinya.


"Awas, akan aku buat kamu bertekuk lutut, Paman," racau Zahra sambil matannya menutup.


Egi tersenyum, dia tak menyangka istrinya bisa mengigau saat tidur. Saat hendak membaringkan badan, tiba-tiba kepala Egi di cengkram tangan Zahra. Dia berusaha melepaskanya, tetapi tenaga istrinya begitu kuat.


"Dulu, kamu menyiksaku. Sekarang, aku akan membalasnya. Dasar Paman Egi dingin! racau Zahra kembali.


Egi terus meronta. Perlahan Zahra melepaskan cengkramannya, lalu merubah posisinya menjadi miring menghadap Egi.

__ADS_1


"Hei, kalau bukan istri, sudah aku pukul dirimu!" geram Egi. "Aku suamimu, bukan musuh bebuyutan."


Dengan rasa kesal, Egi membaringkan badannya. Berusaha menutup mata, melepaskan penat dalam diri. Baru saja hendak memasuki dunia mimpi, tiba-tiba Zahra bergerak. Tanpa aba-aba kaki istrinya mendarat tepat di badan Egi.


Dengan sabar, Egi menurunkannya, kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju alam bawah sadar. Untuk kedua kalinya Zahra mendaratkan kaki di tubuh Egi. Kali ini, bukan hanya kaki. Melainkan, tangan Zahra pun ikut membentang bebas di kepala Egi.


"Bagaimana bisa aku tidur, kalau terus seperti ini," keluh Egi.


Dia kembali meluruskan kaki dan tangan Zahra. Pemilik wajah cantik dan mulus itu masih tak bergeming. Zahra tidur begitu lelap, hingga dia tak menyadari, jika ada seseorang yang tersiksa.


"Haruskah aku membeli kasur yang lebih luas dari ini?" tanya Egi pada dirinya.


Waktu menunjukkan pukul dua malam, tetapi Egi masih saja tak bisa tidur. Kaki dan tangan Zahra terus menjajah waktu istirahatnya. Entah, apa dia bisa merasakan tidur atau tidak malam ini.


Flashback selesai.


Zahra baru selesai mandi kembali, begitu pun dengan Egi. Untuk kedua kalinya, Egi meminta hak pada dirinya. Jelas, Zahra tak bisa menolak.


"Honey, apa semua keperluan kita sudah kamu siapkan?" tanya Egi yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.


Zahra mematung, menikmati pemandangan indah di hadapannya. Pantas saja banyak wanita yang menggilai suaminya. Dengan tekad yang kuat, Zahra telah berjanji. Dia akan berusaha menjaga Egi dari mata para wanita yang haus akan ketampanan.


"Aku pasti bisa!" gumam Zahra, meyakinkan dirinya.


Egi mendengar perkataan Zahra, dia langsung menghampiri istrinya, lalu mendakap erat.


"Selamat, kamu telah berhasil meluluhlan lelaki dingin ini. Jangan coba lari dariku, karena sekali kamu masuk, kamu tak akan bisa melangkah satu kali pun dari hatiku," bisik Egi.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Terima kasih, karena telah sabar menunggu ekxtra part untuk mereka. Mohon maaf, aku tak bisa menulis lebih tentang malam pertama. Tolong, hargai aku!🙏


Aku berharap, bisa memberikan cerita indah. Meski, aku hanya penulis amatiran. Terima kasih, untuk kalian yang telah berkenan singgah di ceritaku yang lain.🙏🤗


Salam hangat.


CIETY AMEYZHA.

__ADS_1


__ADS_2