
๐บRasanya hatiku sesak saat kata cinta terucap dari bibir manismu. Sungguh aku bahagia, tetapi aku tidak bisa berbalik dan merangkulmu seperti waktu itu. Aku pasrahkan semua pada takdir Allah๐บ
๐๐๐ ZAHRA ๐๐๐
Keheningan malam mengantarkan Egi larut dalam tidurnya. Matanya tertutup menikmati perjalanannya di alam mimpi. Telinganya mulai terusik tatkala sayup-sayup orang berbicara.
Perlahan matanya terbuka, menyusuri ruangan bercat putih. Menatap satu per satu pemilik setiap netra. Ada senyuman bahagia dari beberapa orang. Namun, ada sirat luka di satu mata.
"Kamu sudah sadar, Dek?" tanya Lisa melihat Adiknya membuka mata. "Alhamdulillah. Terima kasih, ya Allah."
"Paman bisa mendengarku?" timpal Adnan.
"Apa kamu sudah sepenuhnya sadar, Egi?" tambah Rendy.
Egi mengangguk pelan, mata sayunya tetap pokus memandangi satu netra yang tengah menahan tangis di dalam pelukan sang Ibunda.
"Aku baik-baik saja ...," lirih Egi.
Egi berusaha bangkit, menyenderkan punggungnya di sandaran ranjang rumah sakit. Semua orang berkumpul termasuk seorang lelaki yang diketahui Egi sebagai calon suami Zahra.
"Mengapa semuanya berkumpul di sini?" tanya Egi.
"Paman, kami semua khawatir. Bahkan Mama dan Papa langsung tancap gas ke rumah sakit, begitu Papa Rendy mengabari tentang Paman," ungkap Riki.
"Kami khawatir kamu mengalami kejadian yang sama seperti waktu kecil, Egi," sela Dira lembut.
"Terima kasih," cicit Egi.
Mata Egi beralih ke Rey. Lelaki itu memandanginya dengan segala pertanyaan dalam hati. Egi yang hanya luka di kening dan mendapatkan beberapa jahitan saja, kemudian turun dari ranjang, dan berlutut di hadapan Rey.
"Kak, maafkan aku yang sudah membuat anakmu terluka. Hari ini dia menangis kembali karenaku. Aku bahkan melukainya sejak dulu," tutur Egi.
Sontak semuanya kaget, melihat lelaki yang biasanya tidak banyak bicara itu. Saat ini tengah bersimpuh di hadapan Rey.
"Bangunlah, Egi. Tidak seharusnya kamu berlutut di hadapan manusia." Rey menarik tubuh Egi ke atas. "Bicaralah, apa yang terjadi denganmu dan Zahra, anakku."
Suasana menjadi hening, semua mata tertuju hanya pada Egi. Mereka menunggu dosen itu menjelaskan semuanya.
"Aku mencintai anakmu, Kak!" tegas Egi.
__ADS_1
Semua orang tertegun. Begitupun Zahra yang saat ini tidak berdaya walau, untuk sekadar bersuara.
"Lalu apa mau?" tanya Rey.
"Tolong batalkan pernikahan Zahra dengan calon suaminya, lalu berilah aku kesempatan untuk meminangnya. Aku tidak pernah memohon pada siapapun, tetapi kali ini berbeda. Aku tidak ingin memendam kembali perasaanku."
Ardi menatap tajam pada Egi. Ini pertemuannya yang kedua, mereka belum pernah berbicara. Namun, mereka selalu beradu pandangan menakutkan.
"Beri aku satu alasan, mengapa aku harus mengabulkan permintaanmu yang jelas-jelas sudah membuat anakku menangis!" Nada bicara Rey sedikit meninggi membuat suasana menjadi mencekam.
Semua terdiam, mengunci mulut rapat-rapat. Menyaksikan bagaimana dosen yang biasa memimpin sidang skripsi, kali ini berubah menjadi terdakwa.
Egi menatap dalam pada Rey. "Aku tidak punya alasan untuk itu, karena semua tergantung kebijakanmu, Kak. Aku hanya berusaha sekuat tenaga di detik-detik sisa waktu yang ada. Aku pun akan menerima dengan ikhlas keputusanmu, sekalipun penolakan yang aku dapatkan."
Zahra semakin erat memeluk ibunya. Sedangkan, Rey masih mencari kebenaran di mata Egi. Ia menelusup masuk ke sela-sela pancaran sinar mata Egi, berharap yang dikatakan lelaki ini sama dengan apa yang ia simpulkan dari pencariannya.
"Ardi, perkenalkan dirimu pada Egi!" perintah Rey pada Ardi yang berada tepat di belakangnya.
Ardi berjalan mensejajarkan dirinya dengan Rey, lalu berkata, "Perkenalkan, nama saya Ardi. Saya adalah bawahan di kantornya Pak Rendy, sekaligus kaki tangan Pak Rey."
Ardi mengulurkan tangannya, lalu Egi menyambutnya sebagai tanda pengenalan. "Nama saya Egi, adik ipar dari Pak Rendy."
"Saya bukan calon suami Zahra," ungkap Ardi yang diikuti ekspresi terkejut dari Egi. "Untuk info selengkapnya, Anda bisa minta penjelasan langsung pada Pak Rey, juga Pak Rendy."
Egi seketika beralih menatap Rey dengan segudang pertanyaan. Apa yang terjadi? Sungguh ia tidak mengerti dengan siatuasi saat ini.
"Baiklah, Kakak menyerah," cakap Rey. "Ren, Lu kagak mau ikut ngejelasin. Gue capek 'nih main petak umpet mulu."
"Bener 'tuh, Ren. Gue aja yang dengernya capek, dari tadi gue pengen nahan tawa liat ekspresi menyedihkan Egi," timpal Dika di sudut kiri.
Lisa mencubit pelan pinggang suaminya sambil berkata, "Sudahlah, Mas. Kita akhiri permainan ini."
"Iya, Sayang." Rendy meringis menahan cubitan kecil, tapi mematikan dari istrinya.
Rendy menghampiri Egi, menepuk bahunya dengan tangan kanan. Memperhatikan dalam-dalam raut wajah adik iparnya yang tengah dirundung rasa penasaran.
"Zahra itu calon istrimu. Kakak sudah meminangnya untukmu sebulan yang lalu," ungkap Rendy.
Egi terkejut. Apa ini? Calon istri? Lalu tentang perjodohan Zahra? Timbul bermacam-macam pertanyaan di benak Egi.
__ADS_1
"Maaf, Kakak melakukan sandiwara ini semata-mata, karena Kakak ingin melihat kamu menunjukan perasaanmu yang sebenarnya. Selama ini, kamu sudah banyak mengalah untuk Adnan," jelas Rendy.
"Kamu ingat percakapan kita waktu joging bersama. Dari sana Kakak sudah tahu, bahwa kamu tengah memendam rasa cintamu pada Zahra. Kamu mempersilahkan keponakanmu maju, meski saat itu hatimu ingin sekali berteriak mencegahnya. Beruntungnya, Zahra sama sekali tidak merespon perasaan Adnan. Jadi, Zahra bisa kami ajak bersandiwara. Terlebih, Adnan mulai paham, bahwa cinta tidak harus memiliki," sambung Rendy.
Egi tidak berkutik, jantungnya terlalu kaget Mendengar semua penjelasan. Mesk begitu, ada rasa lega dalam hatinya. Zahra tidak jadi bersanding dengan yang lain.
"Jadi, se--,"
"Jadi semuanya hanya sandiwara, Paman," potong Adnan cepat. "Paman, jangan marah, atau aku akan menikung Zahra dari Paman."
Egi melirik tajam pada Adnan membuat bulu kuduk Adnan berdiri.
"Ampun, Paman. Aku mana mungkin berani melakukannya. Baru bicara saja Paman sudah menatapku tajam, apalagi kalau aku benar-benar menikung. Bisa luluhlantah dunia ini," goda Adnan diikuti gelak tawa semuanya.
"Sudahlah, Paman. Jangan banyak marah, nanti Paman cepat tua," celetuk Riki.
Riko langsung menyumpal mulut kembarannya dengan tangan kanan sambil berkata, "Diam, Maemunah. Lu mau di jadiin peyek kacang sama Paman."
Dira dan Dika tertawa melihat anak kembarnya. Mereka tidak menyangka akan memiliki sepasang anak kembar lelaki yang berbeda sipat.
"Mereka mirip kita," bisik Dika di telinga Dira.
Pandangan Egi beralih ke mata Zahra. Gadis itu menunduk, karena malu tertangkap basah ikut bersandiwara.
"Maaf, Paman ...," cicit Zahra dengan lirih.
Egi tidak menjawab, ia masih saja memandangi Zahra dengan seksama. Benarkah gadis itu calon istrinya? Sedang bermimpikah ia saat ini?
Egi mengurai senyum indah untuk pertama kalinya. "Apa kamu bahagia? Apa hatimu sudah lega, karena berhasil membuat kapal saya berlabuh di hatimu? Sungguh saya tidak menyangka akan semua ini. Meski begitu, saya ucapkan terima kasih untuk segalanya."
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Apa sudah terjawab semua rasa penasaran kalian saat ini, Teman?
Hayoh, yang kemarin ngira Ardi punya selingkuhan siapa?๐
Mohon maaf, di bab 27 ada adegan Ardi melamar. Aku hanya ingin mengecoh pembaca. Saya mohon maaf, jika melanggar aturan๐
__ADS_1