
Pesta pernikahaan berlangsung ramai. Kedua mempelai kini tengah duduk di pelaminan. Rumah Mona tidak terlalu besar, jadi Rey mengadakan pesta pernikahaan disalah satu gedung.
Begitu ijab qabul selesai. Semua orang berbondong-bondong menuju gedung pesta pernikahaan. Termasuk Rendy, yang masih menemani sahabatnya.
Di sudut kiri gedung, Rendy menatap bahagia melihat Rey tengah bersunda gurau dengan Istrinya. Ia sedikit iri, andai Lisa ada di sini. Mungkin ia tidak akan merasa kesepian di tengah keramaian.
Hatinya bergejolak. Ada kesedihan yang kian mendalam di jiwa. Ia tak kuasa mengenang gelak tawa Lisa yang terdengar merdu di telinga. Senyumnya yang manis, bagai menjadi candu untuk Rendy.
"Sayang, aku kesepian! Apa kamu tidak iri melihat mereka tertawa bahagia? aku sangat merindukan masa-masa indah denganmu," gumam Rendy pelan.
Dika baru saja datang menghampiri Rendy. Dika menepuk pelan bahu sahabatnya, sambil berkata, "Mereka memang cocok. Gue engga nyangka cowok mesum itu udah punya bini sekarang!"
"Ya," sahut Rendy singkat.
Dika menatap sendu pada Rendy. Ia paham situasinya sahabatnya saat ini. Dibalik senyumnya ada tangis yang tertahan di pelupuk mata Rendy.
"Gue harap kita semua bisa bahagia dengan pasang kita masing-masing. Bisa terus bersahabat sampai memiliki anak sekalipun," Ungkap Dika.
"Dik, apa gue bakal ngerasain kebahagiaan lagi?" tanya Rendy.
"Lo yakin aja sama takdir Yang Maha Kuasa," jawab Dika. "Allah itu engga mungkin ngasih cobaan melebihi batas kemampuan hambanya."
Rendy terdiam. Otaknya berusaha mencerna ceramah singkat dari Dika. Selama ini begitu banyak cobaan dalam biduk rumah tangganya. Namun, ia tetap bisa melewati semuanya meski derai air mata ikut serta di dalamnya.
"Lo tahu! Gue iri sama kalian berdua. Kalian bisa ngerasain cinta yang manis, berbahagia sama pasangan. Bisa merasakan dicintai dan mencintai, sedangkan Gue...," lirih Dika.
Dokter berparas tampan itu terlihat menatap seorang gadis di depan sana. Ia ingin sekali menyeret gadis itu sekarang juga ke hadapan Pak Penghulu.
Rendy menoleh ke arah Dika, lalu perlahan mengikuti arah pandangan Dokter yang sudah terbilang sukses ini. Matanya menangkap sosok Dira, yang kini tengah diperhatikan oleh mata indah milik Dika.
"Lo, udah dapetin hati adik gue?" tanya Rendy tiba-tiba.
Dika menghela napas berat, senyumnya mengembang menyambut pertanyaan Rendy.
"Belum!" jawab Dika. "Belum sepenuhnya untuk saat ini. Gue tahu Dira butuh banyak waktu buat bisa nerima seseorang lagi, setelah kehilangan cinta pertamanya."
__ADS_1
Rendy menepuk bahu Dika, lalu berkata, "Lo harus percaya sama takdir! Sesuatu yang ditakdirkan buat Lo, sekalipun ia pergi kamanapun. Pasti suatu saat nanti ia tetap akan kembali menemui pemilik takdirnya."
Rendy berlalu meninggalkan Dika sendirian. Manik-manik indah itu masih saja betah memandang kecantikan Dira. Gadis itu memiliki daya tarik tersendiri. Entah apa? Dika pun tidak tahu. Yang jelas Dira bagai candu untuknya.
Rendy yang merasa sudah cukup lelah, segera menghampiri sepasang pengantin yang masih asyik duduk berdua saling bercengkrama di pelaminan.
Langkah kaki Rendy berhenti tepat di hadapan Rey dan Mona, lalu berkata, "Rey, gue pulang duluan! Sekali lagi, selamat buat pernikahan Lo, Bro."
Rey yang menyadari kehadiran sahabatnya segera mendongakkan kepala ke atas sambil berkata, "Thanks, Bro! Gue bahagia, Lo nemenin gue seharian ini."
"Pak Rendy," sapa Mona pelan.
Rendy melirik ke arah Mona tanpa menjawab. Ia hanya mengerjapkan matanya sekali. Sebagai isyarat agar Mona melanjutkan ucapannya.
"Sa-saya turut bersedih atas kondisi Lisa...! Saya harap Lisa cepat sadar, dan bisa berkumpul kembali," lanjut Mona dengan muka menunduk.
Mona masih menganggap Rendy sebagai atasannya. Meski pada kenyataannya Ia sudah tidak bekerja lagi untuk bosnya itu.
"Aamiin. Terima kasih doanya! Saya berdoa juga untuk pernikahan kalian," jawab Rendy ramah.
"Ya, Gue engga bisa terlalu lama ninggalin Lisa sendirian!" sahut Rendy.
"Hati-hati di jalan, Bro!" pesan Rey.
Rendy hanya mengangguk pelan. Dengan santai ia melangkahkan kakinya turun dari pelaminan. Hatinya sedikit cemas dengan situasi di rumah sakit. Terlebih rasa rindu yang kian menggebu pada istrinya, sudah tidak bisa ia tahan lagi.
π΅π΅π΅π΅π΅
Sementara itu, di rumah sakit. Pak Adrian sedikit mengantuk, ia berniat untuk pergi ke kantin. Mungkin secangkir kopi bisa membuat otaknya sedikit fresh.
"Nak, Papa tinggal dulu sebentar, ya!" kata Pak Adrian pada Lisa yang masih terbaring koma.
Pemilik tubuh bugar itu beranjak berdiri dari tempt duduknya. Pak Adrian mungkin sudah tidak muda lagi. Namun, tubuhnya masih sangat sehat.
Pak Adrian berjalan keluar ruangan. Ia butuh sesuatu yang bisa mengusir rasa kantuknya. Sedikit aneh memang! Padahal dia tidak pernah bergadang, akan tetapi hari ini matanya tidak bekerja dengan baik.
__ADS_1
"Apa aku terlalu banyak pikiran?" batin Pak Adrian.
Selang lima menit berlalu, seorang lelaki muda dengan wajah tertutup masker berjalan mendekati ruangan Lisa. Di tangannya memegang sebuah buket bunga cantik nan indah. Lelaki itu seakan sedang mengejuk seseorang yang ia cintai.
Dengan lembut ia memutar knop pintu, kemudian perlahan terdengar suara pintu terbuka. Mata indahnya menangkap seseorang yang ia cari.
Hatinya sedikit sakit. Mengapa Lisa sampai harus mengalami semua ini?. Beruntunnya ia menyuruh seseorang, untuk selalu mencari tahu soal Lisa. Sehingga ia bisa tahu apa yang terjadi pada wanita yang sangat ia cintai.
Perlahan ia melangkahkan kaki panjangnya masuk ke dalam ruangan bercat warna putih itu. Tak lupa ia menutup kembali pintu yang semula terbuka.
Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut lelaki itu. Ia segera berjalan cepat ke arah Lisa. Cairan bening sedikit keluar dari balik masker yang masih melekat di wajahnya. Ia tidak percaya bisa menyaksikan Lisa tidak berdaya dengan alat-alat rumah sakit yang terpasang di tubuh wanita itu.
Ia duduk di kursi, lalu berkata, "Aku tidak tahu, jika kamu akan seperti ini! Aku pun tidak tahu, jika gadis sialan itu penyebab semua ini."
Tangan sebelahnya mengepal erat menahan emosi yang membuncah di dadanya. Sedangkan tangan yang lainnya menaruh buket bunga di samping Lisa.
"Bangunlah! Aku ingin melihat mata indahmu. Aku ingin menikmati senyum manismu. Aku ingin...," lirih lelaki itu.
Ia mulai tidak sanggup mengontrol dirinya. Rasa sedih yang mendalam mengalahkan ego dalam jiwanya selama ini. Ia mengaku bersalah, karena selalu berusaha mencampuri urusan Lisa.
Meski begitu, ia tidak pernah berniat mencelekai Lisa. Selama ini ia hanya menggeretak lewat ancaman. Namun, buktinya ia tidak akan rela, jika sesuatu yang buruk terjadi pada Lisa.
Tanpa lelaki itu sadari, seseorang masuk ke dalam ruangan. Ia sedikit terkejut melihat ada orang lain di dalam ruangan.
"Anda siapa?" tanya orang itu.
...****************...
BERSAMBUNG~~
Terima kasih atas semua doa untuk kesembuhan anak kedua kami. Insyaallah saya akan memulai kembali menulis.
Tenang!!
Saya tidak akan membuat cerita ini menggantung. Terlebih cerita ini sudah hampir menuju tamat.π€
__ADS_1
Jangan lupa like, coment dan voteπ