Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
127


__ADS_3

Di depan sebuah ruko berlantai dua. Kini tiga serangkai itu berada. Dika yang membawa kunci toko yang diberikan Dira, segera melangkah maju terlebih dahulu. Ia memasukan kunci, lalu terbukalah pintu itu perlahan.


Rendy bergegas masuk terlebih dahulu. Hatinya tidak sabar ingin melihat cctv yang terpasang manja di dalam ruko. Rey dan Dika masuk menyusul sahabatnya. Mereka langsung ke tempat cctv berada.


Rendy menaiki tangga satu per satu. Namun, ia merasa kakinya menginjak sesuatu yang licin saat baru tiba di lantai dua. Ia berjongkok, mencolek sedikit tangannya ke lantai.


Betapa terkejutnya Rendy, begitu tahu ada tumpahan minyak goreng di sana. Pantas saja Lisa bisa terjatuh ke bawah. Ia saja hampir oleng, saat kakinya menginjak ke tangga paling atas.


Dika dan Rey sudah berada di tengah-tengah tangga. Namun, perkataan Rendy membuat mereka berhenti seketika.


"Hati-hati, Bro! Ada minyak di atas tangga paling atas!" pesan Rendy.


"Minyak!" seru keduanya.


"Iya, kayaknya ada yang sengaja numpahin minyak di sini," tunjuk Rendy pada lantai.


Dengan perlahan keduanya naik sampai ke atas. Ketiga serangkai itu tidak menyangka, manusia bejat mana yang tega melakukan itu pada ibu hamil.


Rendy segera berjalan mendekati meja, lalu membuka laci. Ia mengambil sebuah laptop, yang memang sudah terpasang dengan cctv toko ini.


Rendy membawa laptop itu, lalu duduk di kursi. Sedangkan, Rey dan Dika berdiri di belangkanya. Lelaki itu mulai mengecek cctv hari ini dari pagi hingga sore hari.


Rendy memasang matanya sejeli mungkin. Berharap menemukan sesuatu yang bisa ia jadikan petunjuk. Saat layar laptop menampilkan sosok gadis yang mereka curagai membantu Lisa ke atas lantai kedua. Mata tiga serangkai itu mulai menajam.


Satu hal yang membuat mereka terkejut. Gadis itu ternyata benar yang telah sengaja menumpahkan minyak di lantai atas.


Rahang Rendy mengeras. Sorot matanya seperti akan membunuh seseorang. Ia tidak terima, rubah kecil itu yang sudah dianggap adik oleh istrinya. Malah membuat Lisa menderita.


"Gadis sialan!" maki Rendy. Tangannya menggebrak kursi. Rendy tengah dikuasai emosi.


"Lo tahu di mana rumahnya?" tanya Dika.


"Gue engga tahu. Dulu Rey yang nyariin orang buat bantu-bantu Lisa," jawab Rendy.

__ADS_1


"Dia tinggal di salah satu rumah kost-kostan engga jauh dari sini! Waktu itu gue lagi mau ke tempat tinggal pembantu gue buat cari orang, terus ketemu dia. Karena waktu yang dikasih Rendy ke gue cuman sebentar, jadi gue tawarin aja ke dia. Eh, dia mau," ungkap Rey.


"Kalau gitu, kita susul malam ini juga dia ke tempat tinggalnya!" timpal Rendy.


"Ok! Rey, Lo yang nyetir," sela Dika pada Rey.


Tanpa menunggu lama, mereka segera berlalu keluar dari toko. Tempat tujuan mereka saat ini adalah tempat tinggal Ririn.


Rendy sejak melihat rekaman cctv tadi. Wajahnya berubah menjadi sangat menakutkan. Bahkan Rey dan Dika saja tidak berani menegur.


Hening, tidak ada lagi percakapan diantara tiga serangkai itu. Mereka memilih raut dalam pikirannya masing-masing. Rey yang merasa bersalah, sudah bertekad akan mencari Ririn malam ini juga. Padahal seharusnya Rey hari ini sudah diam dirumah, karena tiga hari lagi pernikahaannya akan segera digelar.


Malam itu suasana seakan mencengkam. Langit terasa mendung. Alam seakan ikut merasakan kemarahan yang terpancar dari aura tubuh Rendy.


Selang sepuluh menit berlalu. Mobil yang dikendarai tiga serangkai itu tiba tepat di salah satu kos-kosan. Rey keluar terlebih dahulu, sedangkan Rendy dan Dika menyusul dari belakang.


Dengan keras Rey mengetuk pintu rumah, yanh diyakini tempat Ririn tinggal. Tiga kali mengetuk pintu. Namun, gadis itu tidak terdengar membuka pintu.


Rendy yang sudah emosi hendak mendobrak pintu, tetapi Dika menghalanginya.


Suara tendangan kaki Rey yang keras di pintu, ternyata membuat orang yang berada di sebelah kossan Ririn keluar.


Wanita paruh baya itu menatap kesal pada ketiga serangkai, lalu berkata, "Hey, Bocah gendeng! Kalau mau berkelahi jangan di sini! Malam-malam ganggu orang aja!"


Wanita itu menunjuk ke arah Rey. Ia merasa kesal, karena suara tendangan kaki Rey menggangu tidur indahnya.


"Maaf, Bu. Kami menganggu tidurnya, tapi kami tidak berniat seperti itu," jelas Dika.


Dokter tampan ini memang sedikit tenang. Namun, bukan berarti ia tidak marah pada Ririn. Hanya saja, segala sesuatu itu tidak seharusnya diiringi dengan emosi. Ketenangan hati akan membuat pemiliknya biaa berpikir jenih. Dengan begitu masalah akan segera terselesaikan dengan cepat.


"Apa Ibu tahu gadis yang tinggal di sini?" tanya Dika kembali pada wanita itu.


"Tahu! Memang ada apa kalian mencari gadis baik itu?" sahut wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Gadis tidak baik, dia hanya seorang rubah yang tengah menyamar menjadi manusia!" sela Rendy.


Mata wanita paruh baya itu menatap penuh tanda tanya pada Rendy. Otaknya bertanya, ada apa dengan tiga lelaki ini? apa mereka akan menculik Ririn?


"Kalau boleh saya tanya. Apa Ririn sekarang ada di rumahnya?" lanjut Dika pada wanita itu.


"Gadis itu baru saja tadi pamit pulang. Ia hanya bilang mau pulang kampung," tutur wanita paruh baya itu.


"ibu tahu di mana kampungnya?"


"Saya tidak tahu!" Dengan langkah cepat ia masuk ke dalam rumah kembali.


Rendy menonjok tembok, lalu berkata, "Sialan! Rey, Lo harus cari informasi di mana kampung gadis itu tinggal. Sekarang juga!"


Rey mengangguk pelan, lalu mereka kembali ke dalam mobil. Mungkin pencariin ini masih sangat panjang. Namun, Rendy tidak akan menyerah. Ia tidak peduli, jika saat ini tubuhnya sangat lelah. Semua ia lakukan demi istri yang tengah terbaring koma.


Selama diperjalanan, ketiga serangkai itu terdiam. Rey masih pokus menyetir, hingga mata indahnya menangkap dua gadis yang ia kenal. Dengan mendadak Rey menginjak Rem sekencang mungkin. Membuat Dika dan Rendy tersentak kaget.


"Sorry, gue engga sengaja. Gue ngelihat Mona lagi ngobrol sama Ririn di sana!" tunjuk Rey pada dua gadis yang tidak jauh dari mobil.


Rendy mengikuti arah tangan Rey. Ya, benar saja saat ini gadis sialan itu tengah tertawa ria dengan Mona. Tanpa menunggu lama, Rendy segera keluar sambil berteriak, "Hei, gadis sialan. Diam kamu di sana!"


Kedua gadis itu kaget mendengar ada yang berteriak. Mereka menoleh ke arah Rendy yang kini tengah berjalan ke arah sini. Ririn yang mulai ketakutan, lalu merogoh sesuatu di tas kecilnya.


Dengan satu gerakan Ririn menempelkan pisau kecil di tenggorokan Mona, sedangkan tangan satunya memegang kedua tangan Mona dibelakang. Ririn berkata, "Jangan berani mendekat! Kalau tidak, wanita ini akan mati ditanganku!"


Rey dan Dika baru saja menyusul Rendy ke arah kedua gadis itu. Rey menggeram kesal, karena melihat calon pengantin wanitanya menjadi sasaran rubah sialan.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Kira-kira apa hubungan Ririn dengan Mona? Lalu motif apa yang membuat Ririn sejahat itu?

__ADS_1


Temukan jawabannya di part-part selanjutnya🤗


Jangan lupa like, coment dan vote sebanyak-banyaknya😊


__ADS_2