Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
82


__ADS_3

Mobil Dika tiba tepat di depan toko milik istri Rendy. Dira dan Egi segera keluar, sebelum masuk ke dalam toko Dira kembali berbicara pada Dika.


"Makasih ya, Kak." ujarnya.


"Ok, sama-sama," sahut Dika. " Oh ya, Dir. Entar malam mau engga jalan bareng gue?"


"Kemana, Kak?"


"Kemana aja terserah Lo." hati Dika harap-harap cemas menunggu jawaban Dira.


"Boleh aja. Tapi, kita berdua doang?"


"Ya. Kalau Lo engga keberatan itu juga, Dek!" imbuh Dika.


"Ok!" Dira kemudian melangkah kakinya menyusul Egi yang sudah duluan ke depan Toko.


Dika menatap kepergian gadis kecilnya, nampak senyum indah menghiasi wajah tampannya.


"Gue harap Lo mau nerima gue, Dek." batin Dika.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Sementara itu, Rendy hari ini sengaja tidak pergi ke kantor. Ia mengundur semua jadwal yang telah Rey susun serapih mungkin. Rendy tengah menemani istrinya di kamar, ia selalu sigap kapanpun Lisa membutuhkannya.


"Mas, kenapa engga ke kantor aja! Aku baik-baik aja kok," ucap Lisa memandangi wajah suaminya.


"Sudah jangan banyak bicara, kamu harus banyak istirahat. Ingat! Ada nyawa orang lain di tubuhmu sekarang," tegas Rendy.


"Tapi--,"


"Menurut saja, Sayang. Lagian aku sudah bilang sama Rey untuk mengundur semua jadwalku hari ini,"


"Apa tidak masalah?"


"Tentu tidak. Aku adalah pemilik perusahaan jadi, aku bisa mengatur semuanya." Rendy memegang erat tangan Lisa.


Lisa mengurai senyum, di usapnya perut yang baru saja terisi janin di dalamnya.


"Mas, aku harap anak yang ku kandung ini adalah anak kembar," harap Lisa.


"Semoga saja tapi, sekalipun bukan anak kembar," ujar Rendy. " aku tak mempermasalahkannya."


Dari balik pintu terdengar seseorang mengetuk pintu, Rendy bergegas bangun lalu, berjalan mendekati pintu.


Saat pintu terbuka Bi Inah tengah menunggu majikannya di luar , ia membawa semangkuk bubur ayam hangat untuk nyonyanya yang sedang hamil.


"Tuan, ini bubur pesananannya sudah jadi." wanita paruh bayu itu menyodorkan nampan berisikan semangkuk bubur.

__ADS_1


"Terima kasih, Bi." Rendy mengambil alih nampan itu ke tangannya.


"Semoga keadaan Nyonya segera membaik, Tuan. Jika, perlu apa-apa Bibi ada di dapur, Tuan," kata Bi Inah.


"Baik, Bi," sahut Rendy.


"Kalau begitu, Bibi pamit ke dapur lagi." wanita itu berlalu meninggalkan Rendy yang masih setia di depan pintu.


Rendy membawa nampan tersebut mendekat ke arah Lisa, ia kemudian duduk di ranjang tepat di samping istrinya lalu berkata, " Makanlah bubur ini, Sayang. Kamu harus cukup nutrisi agar bayi kita sehat."


Lisa dibantu suaminya bangun dari tidur, kepala dan punggungnya ia senderkan di ujung ranjang.


"Mas, aku takut muntah lagi." ucap Lisa membayangkan bagaimana tadi ia mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Rendy tersenyum seraya berkata, "Tidak apa-apa, Sayang. Sekalipun kamu muntah lagi, setidaknya kamu sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk anak kita.


Rendy menyendok bubur sedikit, ditiupnya perlahan agar panasnya cepat hilang. Tangan Rendy mulai menyuapi bubur itu ke mulut Lisa sedikit demi sedikit, ia harus terus membujuk istrinya agar mau makan.


Baru lima suap bubur masuk ke mulut Lisa, wanita itu sudah menghentikan tangan Rendy dengan tangannya lalu berkata, " Sudah, Mas. Aku tak sanggup lagi memakannya."


Rendy mengerti, diletakkannya mangkuk berisi bubur itu di atas meja. Tangan Rendy meraih gelas di dekat mangkuk bubur, dengan telaten ia memberi minum Lisa perlahan.


"Nah, sebaiknya sekarang kamu minum obat dan vitaminnya dulu." Rendy mengambil obat, membukanya satu per satu dan menyimpannya di tangan Lisa.


"Iya, Mas." Lisa memasukkan obat itu ke dalam mulutnya, rasa pahit dari obat terasa di lidah. Lisa segera meminum air yang masih ada di tangan Rendy.


"Sehat selalu, Sayang," lanjut Rendy seraya mengecup singkat kening Lisa.


Lisa memejamkan matanya, efek obat itu seketika membuat dirinya mengantuk. Ia sangat lelah tapi, semua ini baru permulaan. Masih panjang perjalanan kehamilannya yang harus ia nikmati.


Setelah memastikan istrinya terlelap tidur, Rendy beranjak pergi menuju meja kerja. Ia mulai membuka laptop dan mengecek satu per satu laporan yang diberi Rey padanya.


Pikirannya melayang jauh menembus awan, sebentar lagi akan ada seorang anak yang memanggilnya ayah. Seandainya Mamahnya masih ada, sudah pasti Bu Ratna akan senang mendapat kabar bahagia ini.


Seketika Rendy teringat akan Papahnya yang sudah lama belum bertemu, ia mengambil ponsel dari dalam saku celana. Mencari kontak Papahnya kemudian mulai melakukan panggilan telepon.


"Assalamaulaiku, Pah." suara Rendy terdengar berat, ia ingin menangis bahagia menyampaikan kabar ini.


"Waalaikumsalam, Boy," jawab Pak Adrian di ujung telepon.


"Pah, Rendy ingin bilang sesuatu,"


"Ada apa, Boy? Semua baik-baik saja, Kan?" Pak Adrian terdengar mengkhawatirkan anak lelakinya.


"Alhamdulilah, Pah. Semua baik, hanya saja --,"


"Hanya apa, Nak? Apa terjadi sesuatu denganmu atau Dira? potong Pak Adrian.

__ADS_1


"Tidak, Pah. Rendy ingin bilang, kalau Lisa sedang mengandung anak Rendy sekarang,"


"Benarkah, Boy!" teriak Pak Adrian.


"Iya, Pah,"


"Alhamdulillah. Papah akan jadi kakek, Nak!" ujar Pak Adrian. " Papah akan secepatnya menengok menantu Papah."


"Iya, Pah. Papah jaga kesehatan di sana, jangan sering bergadang. Papah sudah tua, Rendy juga sudah melarang Papah untuk mengurus perusahan di sana sendiri," ucap Rendy.


"Papah hanya ingin punya kesibukan, Boy. Jika di rumah terus, kenangan bersama Mamahmu selalu terbayang di pikiran Papah ...." lirih Pak Adrian.


"Ya, Rendy paham betul perasaan Papah."


"Jaga istrimu dengan baik, Boy. Apalagi dia tengah hamil sekarang, biasanya wanita hamil agak sedikit manja dan cengeng. Kamu harus tetap sabar menghadapinya," pesan Pak Adrian.


"Baik, Pah. Rendy akan ingat terus pesan Papah,"


"Ya sudah, Papah harus meneruskan pekerjaan lagi. Kamu jaga diri di sana, jangan lupa jaga adikmu juga. Assalamualaikum." Pak Adrian memutuskan sambungan teleponnya.


"Waalaikumsalam," jawab Rendy.


Rendy menatap layar ponsel, hatinya bergetar mendengar ucapan Papahnya. Ia tahu betul rasanya ditinggal pergi selama-lamanya. Beruntungnya, Rendy cepat bertemu Lisa yang sekarang sudah sah menjadi milik ia seutuhnya.


"Mah, Rendy harap Mamah tenang disana. Lihatlah Mah, sebentar lagi Rendy akan segera menjadi ayah. Suara tangisan bayi akan meramaikan rumah ini, Rendy bahagia sekali." Rendy tak kuasa menahan tangis bahagia bercampur Rindu pada sosok sang Ibu.


Rendy mengecek satu per satu pesan masuk ke ponselnya, hingga ada satu pesan dari sahabatnya yang membuat ia tertarik untuk membuka apa isi pesan tersebut.


~Dokter jones~


Ren, gue izin nembak Dira hari ini. Gue tahu sebenarnya gue engga perlu izin dari Lo tapi, gue menghargai persahabatan kita.


...****************...


BERSAMBUNG~~


Dukungannya dong, Kak.


Like


Coment


Vote


Rate 5


Haturnuhun๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2