Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
39


__ADS_3

Setelah kejadian tadi Lisa ikut bersama Rendy ke ruangan Rendy, tangan Lisa di genggam erat suaminya.


"Siapa lelaki itu?" Tanya Rendy begitu sampai di ruangannya.


"Dia pak Dion, mas. Dia yang membantu aku masuk ke perusahaan ini." Jawab Lisa pelan.


"Apa dia menyukaimu?"


"Itu..tidak seperti yang mas pikirkan". Lisa menundukkan kepalanya, Dia tak mau membuat suaminya murka.


"Memang apa yang aku pikirkan?" Rendy mendekati Lisa, tak ada jarak di antara mereka. Mata mereka bertemu, sekalipun Lisa sudah merasakan lebih dari ini tapi, tetap saja jantungnya bekerja lebih cepat jika dalam posisi seperti ini.


Rey yang masih berada di ruangan yang sama, menyaksikan dengan bola matanya sendiri kemesraan dua insan ini.


Dasar bos sialan, kalau mau mesra-mesraan jangan depan gue dong. Gue kan iri. Batin Rey.


."Maksud aku itu ...." Lisa gugup mulutnya sulit berkata. Dia ingin sekali bilang jika tak ada hubungan apapun antara dia dan Dion.


"Mari kita lihat. Apa Dia masih berani mendekatimu setelah tau aku adalah suami sahmu" Bisik Rendy di telinga istrinya.


Lisa mematung, suara Rendy begitu berat nafasnya terdengar di telinga Lisa.


"Ehmm..hmm.." Rey berdehem agar menyadarkan Rendy jika dia juga ada di sana.


Rendy melirik ke arah Rey, Rendy segera menjauh dari tubuh istrinya.


"Lo masih di sini." Tanya Rendy.


Rey ingin sekali memaki sahabatnya ini, bagaimana dia bisa pura-pura tidak tau kalau Rey dari tadi sudah menyaksikan kemesraan mereka.


"Apa jadwal gue hari ini?" Tanya Rendy kembali pada asisten nya.


Rendy berjalan menuju kursi kebesaran miliknya sedangkan, Lisa masih diam mematung menetralkan kerja jantungnya.


"Hari ini, lo ada pertemuan sama si Farhan. Lo juga ada meeting buat produk yang baru kita luncurkan sebulan lalu. Oh ya, satu lagi lo jangan lupa hadir di resepsi pernikahan si bram malam ini, lo udah dapat undangannya kan kemarin.' Tutur Rey jelas.


"Iya, gue dateng. Tapi Males gue ketemu si Farhan." Jawab Rendy.


"Tapi, lo harus tetep datang ke pertemuan ini. Ini penting karena, kita harus menyelesaikan kerjasama kita dengan mereka."


"Ya,ya. Gue paham. Ya udah, sana lo keluar atau lo mau jadi obat nyamuk lagi kaya tadi hahaha " Tawa Rendy.


"Sialan, gue juga ogah kali." Jawab Rey yang langsung saja keluar ruangan.

__ADS_1


Rendy melirik istrinya yang masih mematung di hadapannya ini, dia berpikir bagaimana caranya membujuk Lisa untuk segera berhenti dari pekerjaannya tapi, tidak sampai melukai harga dirinya.


"Sayang, apa kamu akan terus berdiri seperti itu?" Tanya Rendy.


Lisa memberanikan diri melihat ke arah suaminya, tatapan Rendy kali ini sedikit hangat. Tidak seperti saat berbicara tadi.


"Kemarilah, duduk di pangkunganku." Ucap Rendy.


Lisa menajamkan telinganya, apa yang barusan dia dengar ini tidak salah. Bagaimana bisa Rendy memintanya duduk di pangkuannya, suaminya benar-benar sudah tidak waras.


Bagaimana jika tiba-tiba Rey masuk dan melihat tingkah laku bos nya lagi, Entah harus di taruh dimana muka Lisa. Sekalipun memang mereka ini suami istri tapi, rasanya agak risih juga jika ketahuan orang lain.


"Apa kamu tidak mau?" Tanya Rendy kembali.


Lisa tau nada bicara Rendy sedikit berbeda lagi, dia segera melangkah kakinya menghampiri suaminya. Lisa memberanikan diri duduk di pangkuan suaminya.


"Good grils. Sayang, apa kamu masih ingin tetap bekerja setelah pengakuanku barusan?" Rendy membelai kepala Lisa yang tertutup jilbab.


"I..iya, mas."


"Kenapa? Apa nafkah yang aku berikan tidak cukup untukmu?"


"Bukan begitu, mas. Tapi...." Lisa berhenti dia menggigit bibir bawahnya karena tak tau harus memberi alasan apa pada suaminya.


"Tapi apa? Apa kamu takut bosan karena sudah terbiasa bekerja? Bagaimana kalau aku buatkan usaha untukmu?" Rendy memberi ide pada istrinya.


"Maksudnya, aku akan membukakan kamu sebuah butik atau mungkin toko bunga, bukankah kamu sangat menyukai wangi bunga?" Tangan Rendy kini turun ke pipi mulus Lisa, perlahan tangannya menikmati sentuhan lembut di pipi istrinya.


"Iya, mas." Jawab Lisa.


"Bagaimana? Apa kamu mau menuruti suamimu berhenti bekerja dan aku akan membukakan toko bunga untukmu?"


Lisa berpikir sejenak, apa yang di katakan suaminya memang benar. Lebih baik dia berhenti dan memulai usaha saja.


"Baik, mas. Aku akan mengundurkan diri." Jawab Lisa pelan.


"Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya, tau kah kamu, sayang. Aku sangat cemburu saat lelaki itu berani memegang tangan indahmu. Aku ingin sekali mematahkan tangannya saat itu juga." Ucap Rendy dengan sorot mata memancarkan kemarahan.


"Jangan, mas. Dia punya keluarga juga, seperti kita. Lagian aku langsung menepisnya begitu dia meraih tanganku." Jelas Lisa.


"Kamu itu milikku jadi, tak kan ku biarkan seorang pun berani menyentuhmu." Ujar Rendy yang tanpa peringatan apapun langsung mencium sekilas bibir Lisa.


"Oh ya, jangan Lupa nanti malam kita akan menghadiri pesta pernikahan teman kuliahku. Danndanlah yang cantik tapi, jangan terlalu cantik juga. Aku tak mau banyak mata pria hidung belang menatap istriku." Lanjut Rendy.

__ADS_1


Lisa hanya tersipu malu, dia merasa beruntung memiliki suami seperti Rendy. Rendy tau betul bagaimana memperlakukan wanita.


๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€


Kabar soal Lisa dan Rendy adalah suami istri cepat sekali menyebar, hampir seluruh karyawan yang berkerja sudah mengetahuinya.


Sedangkan itu Dion memendam amarah yang dalam , saat tau Lisa adalah istri bos nya sendiri. Ternyata apa yang di lihatnya waktu itu benar, Lisa memang sedang berkencan dengan suaminya.


Dari arah berlawanan Mona terlihat sedang berjalan ke arah Dion, Dion yang ingin tau banyak soal Lisa segera menghampiri Mona.


"Mona." Sapa Dion


"Eh, pak Dion. Ada apa pak? Jangan-jangan mau traktir Mona lagi nih." Goda Mona.


"Bukan itu. Tapi, saya ingin menanyakan soal Lisa dan pak Rendy."


Mona yang langsung paham arah pembicaraan Dion merasa gelisah, dia menduga Dion akan bertanya banyak hal tentang Lisa padanya.


"Ada apa memang, pak?" Jawab Mona pura-pura tak mengerti.


"Kamu pasti sudah tau kan, kalau Lisa menikah dengan pak Rendy?"


Mona berpikir sejenak, sudah saatnya dia berbicara yang sejujurnya. Toh semua sudah mengetahuinya jadi, apa yang harus dia takutkan.


"Iya. Memang kenapa, pak?" Jawab Mona.


"Kenapa kamu menyembunyikannya dari saya?"


"Apa hubungannya dengan pak Dion? Ini urusan hidup Lisa jadi, pak dion tak punya hak untuk tau terlalu dalam soal sahabat saya."


"Saya mencintainya jadi, saya berhak tau tentang Lisa dan seharusnya saya yang menjadi suaminya."


Mona geram dengan ucapan Dion, lelaki di hadapannya ini sungguh tak tau malu masih berani berkata soal cinta pada wanita yang sudah bersuami.


"Pak Dion, saya bilang sekali lagi. Ini hidup Lisa, dia berhak menentukan pilihannya sendiri. Jika memang pak Dion mencintainya lebih baik pak Dion mendoakan yang terbaik untuk kebahagian Lisa." Ucap Mona.


Mona menghela nafas, dia masih ingin berbicara pada Dion.


"Dan satu lagi, lelaki yang mencintai tapi tak berusaha mendekat akan kalah dengan lelaki yang berani melamar langsung tanpa banyak bicara." Lanjut Mona yang langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Dion sendiri.


...****************...


BERSAMBUBG~~~

__ADS_1


Jangan Lupa dukung author terus ya dengan Like, coment&vote๐Ÿค—๐Ÿค—


SELAMAT MEMBACA๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2