Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
S2 BAB 12


__ADS_3

Hampir semua orang di dunia ini memiliki sebuah trauma. Ia seperti mimpi buruk saat kamu mengingatnya kembali. Terkadang rasa itu mengikat jiwa seseorang, untuk takut melangkah masuk ke dalam hal baru.


Egi terdiam. Sedangkan, Zahra masih menunggu. Ia berharap kata tidak keluar dari mulut lelaki di sampingnya.


"Tidak!" tegas Egi.


Senyum kecil menghiasi bibir Zahra. Sebuah kata yang mendadak membuatnya bahagia.


"Saya tidak menyukai wanita manapun. Setidaknya sampai detik ini!" sambung Egi.


Seperti sebuah layangan yang tengah melayang, lalu tertiup angin hingga akhirnya jatuh terhempas begitu saja. Begitulah gambaran hati Zahra saat ini.


Senyuman manis tadi mulai memudar. Ia menghela napas, lalu berkata, "Ah, iya aku lupa ponsel-ku."


Zahra bergegas masuk ke dalam kelas. Ia tidak ingin Egi melihat kehancuran yang tengah menerjang hatinya.


Sementara itu, Egi masih terdiam di posisinya sekarang. Ia mungkin menyakiti hati gadis itu. Namun, ia pun tidak bisa memberi harapan palsu padanya.


Egi melanjutkan langkahnya. Ia tidak ingin terlambat menghadiri kelas berikutnya. Biarlah saat ini hati Zahra tersakiti. Mungkin perlahan gadis manis itu akan menjauh darinya.


šŸµšŸµšŸµšŸµšŸµšŸµ


Waktu menunjukkan pukul 12 siang tepat. Adzan berkumandang menggema ke seluruh penjuru kampus. Hampir semua penghuni kampua yang berstatus muslim memenuhi panggilan Sang Ilahi Rabbi.


Adnan tengah berjalan menuju masjid. Ia selalu ingat pesan Bundanya bahwa Sholat adalah tiang agama. Jadikan ia seperti sebuah kebutuhan. Maka, kamu akan terus berusaha melaksanakannya.


Adnan berjalan terburu-buru, hingga ia sama sekali tidak memperhatikan sekitar. Tanpa tersadar ia menabrak seorang wanita hingga terjatuh ke tanah.


"Maaf," cicit Adnan.


Adnan mengulurkan tangannnya. Namun, wanita itu menolak dengan berkata, "Tidak usah, aku bisa berdiri sendiri."


Wanita berhijab tersebut perlahan berdiri. Membersihkan bajunya yang terkena tanah.


"Maaf, aku tidak sengaja menabrakmu," sesal Adnan.


Wanita itu melirik sekilas pada Adnan, lalu tersenyum manis. Dari kejauhan dua pemuda kembar menghampiri Adnan.


"Nan, Lo kita panggilin kagak denger! Gue cape nih mesti lari!" Riko mengatur napasnya.


"Lagian Lo engga ada kerjaan pake lari segala!" sungur Riki yang sama seperti kembarannya.


Mata Riki menatap wanita yang berada di depan mereka.


"Kaka Rina!" seru Riki.

__ADS_1


Rina yang merasa terpanggil menoleh ke arah Riki. Ia mengerutkan keningnya.


"Kak Rina kenapa? ah, maaf aku salah satu fans Kak Rina," cakap Riki.


"Fans!" timpal Adnan.


"Iya, emang Lo engga tahu soal Kak Rina?" tanya Riki.


Adnan menggelengkan kepala. Ia saja baru melihatnya hari ini. Mana mungkin ia tahu. Adnan memang tidak peduli apa pun selain belajar. Ia hampir sama seperti pamannya.


"Ke mana aja Lo selama kuliah di sini!" ledek Riki.


"Gue kuliah niatnya belajar, bukan mau ngurusin hal yang engga penting! tekan Adnan.


"Iya, deh sepupu gue yang paling pinter!" sungut Riki.


Rina yang merasa sedikit risih di antara lelaki ini izin pamit ke masjid terlebih dahulu. Ia tidak ingin ada yang melaporkannya pada Dirga.


"Aku harap engga ada yang lihat dan lapor ke Dirga," gumam Rina.


Adnan dan si kembar menatap punggung Rina. Ada gerak-gerik aneh dari gadis itu. Menurut pengetahuan Riki. Rina itu adalah gadis manis yang populer, karena kecantikannya yang alami.


Rina adalah senior mereka di kampus. Rina juga satu tingkat dari Adnan. Namun, Adnan sama sekali tidak mengenalinya.


Menurut penuturan Riki bahwa Rina dulunya tidak seaneh ini. Setidaknya itu sebelum gadis tersebut menyandang status calon istri Dirga.


Tidak terdengar berita buruk soal hubungan Rina dan Dirga. Keduanya pun jarang terlihat bersama. Rina jarang berkumpul dengan teman sebayanya. Ia lebih memilih membatasi pergaulannya.


Banyak yang mengatakan bahwa Rina memiliki satu rahasia yang tidak bisa ia ungkapkan. Namun, itu hanyalah opini sebagian penghuni kampus.


"Apa terjadi sesuatu dengan gadis itu?" tanya Adnan pada Riki saat selesai melaksanakan sholat.


"Entahlah! Gue cuman tahu segitu soal Kak Rina." Memakai sepatunya kembali.


"Ki, Lo soal cewek aja tahu. Giliran pelajaran aja, tuh otak mendadak lemot!" sergah Riko.


"Beda dong, Ko. Kan, cewek mah bikin seger! kilah Riki.


"Dasar, Maemunah!" sungut Riko.


Ketiga serangkai itu melanjutkan langkahnya menuju masjid, melaksanakan kewajiban mereka pada Sang Ilahi Rabbi.


Sholat telah usai, ketiganya pergi ke kantin Adanan yang mendadak penasaran akan kejanggalan dari Rina masih saja bergelut dengan pikirannya.


"Apa yang membuat gadis itu takut sekali dengan calon suaminya," batin Adnan.

__ADS_1


Zahra yang sudah menunggu ketiganya sejak tadi langsung menyambut mereka dengan omelan.


Hari ini suasana hati Zahra sedang tidak bersahabat. Ia seakan ingin memangsa hampir setiap manusia. Jika, mereka sebuah makanan.


"Ra, kamu kenapa?" tanya Riko yang merasa aneh dengan sikap Zahra.


"Engga usah nanya, aku lagi kesel!" ketus Zahra. "Bang, mau somay dua porsi."


Zahra memanggil penjual somay yang berada tidak jauh dari tempatnya berada.


"Dua aja, Neng," sahut si penjual.


"Kalau ada mah sepanci, Bang," jawab Zahra.


"Yah, telat Neng. Tinggal dikit jualan Abangnya," lontar si penjual.


"Dua aja deh, Bang. Bikin yang pedes, ya," pesan Zahra.


"Siap!" Berjalan kembali ke kedai jualannya.


Si kembar memperhatikan Zahra dengan penuh tanda tanya. Apa setan penghuni pohon mangga sedang merasuki tubuh gadis ini. Tidak biasanya Zahra makan sebanyak ini.


Terlebih di atas meja sudah terhidang es jeruk dan sop buah. Apa perut gadis ini sebesar karung beras.


Adnan yang bersama mereka sejak tadi hanya menyimak percakapan ketiganya. Ia seperti menutup mata perihal perubahan sikap Zahra hari ini.


Adnan merogoh saku, mengambil gawai miliknya. Ia memilih berselancar ke dunia maya.


Sesuai pesanan Zahra. Dua porsi somay kini bergabung di meja bersama yang lainnya. Aroma khas ikan giling yang bercampur tepung mengetuk perut Zahra untuk minta masuk ke dalam.


Tanpa berpikir panjang Zahra segera menyantap somay Bang Ilham yang tersohor sepenjuru kampus. Bumbu kacang yang lekat membuat naspu makan Zahra meningkat tajam.


Gadis ini tidak memperdulikan si kembar yang sejak tadi melongo memperhartikannya. Saat ini ia hanya ingin meluapkan rasa kesal, kecewa yang berkecambuk dalam dada.


Ucapan Egi terus berkeliling di pikirannya. Seakan ia enggan membuat Zahra tenang sekejap saja.


Adnan yang mulai risih dengan porsi makan Zahra, lalu berkata, "Kalau kamu kesal, atau marah. Kamu tidak perlu memaksakan dirimu dengan melahap banyak menu makanan. Sudah sakit perut baru mengerti."


Zahra seketika berhenti. Ia memusatkan pandangannya pada Adnan. Pemuda ini tidak beda dengan pamannya. Sama-sama memiliki sipat es yang sulit mencair.


"Kamu tidak perlu memberiku perhatian. Kamu hanya cukup diam tanpa bertanya!" jawab Zahra.


...****************...


BERSAMBUNG~~~

__ADS_1


Hai, Teman.


Seandainya aku buat cerita lain. Kamu ingin cerita seperti apa? komen, yašŸ¤—


__ADS_2