
Dua hari berlalu. Pagi itu Egi enggan keluar kamar. Ia hanya turun sebentar untuk sarapan, lalu kembali ke kamar.
Egi seakan tidak ingin berpisah dengan tumpukan buku yang tengah dibacanya. Entah apa yang membuat lelaki ini begitu betah bercengkrama dengan tebalnya lembaran buku.
Lisa dan Rendy sudah pergi dari jam sepuluh pagi. Mereka hendak ke rumah Dira dan Dika, untuk menikmati weekend bersama. Sedangkan, Adnan masih betah berselancar di dunia maya melalui ponselnya.
Di dalam kamar, Egi tengah pokus membaca. Waktu sudah berangsur siang. Suara Adzan dzuhur berkumandang merdu. Egi mengakhiri kegiatannya, lalu bergegas melaksanakan kewajiban dirinya.
Selesai sholat. Egi masih enggan beranjak. Mulutnya masih mengucapkan sholawat demi sholawat. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan dari luar. Egi berhenti, lalu berdiri untuk membukakan pintu.
"Paman." Adnan terlihat berdiri dibalik pintu.
"Ada apa?" tanya Egi.
"Barusan Bunda telepon. Katanya Paman Dika dan Tante Dira ngadain baberque. Aku disuruh mengajak paman," kata Adnan.
"Jam berapa?" tanya Egi.
"Kata Bunda 'sih tadi Paman dan aku disuruh ke sana sekarang. Tapi, Bunda nitip belikan beberapa kebutuhan yang kurang. Cuman aku--,"
"Kamu kenapa?" tanya Egi kembali.
"Aku mau ada perlu dulu. Paman saja yang belanja, ya!" pinta Adnan.
"Kebiasaan. Bundamu menyuruh kamu, bukan paman!" tegas Egi.
"Ayolah, Paman!" rajuk Adnan.
Egi menghela napas, lalu berkata, "Baiklah. Tapi ingat! Jangan sekali lagi seperti itu, jika disuruh orang tua."
Adnan mengangguk pelan.
"Kalau begitu, aku berangkat duluan, ya. Aku ada perlu dengan temanku!" pamit Adnan.
"Hati-hati!" pesan Egi.
"Iya, Paman es." Melangkah pergi takut sang Paman marah.
Egi hanya menggelengkan kepala. Ia melihat arloji di tangan. Waktu sudah menunjukan pukul dua siang. Egi berkata, "Sebaiknya aku berangkat ke supermarket sekarang. Aku harus bertanya dulu pada Kak Lisa. Apa yang ia butuhkan!"
Egi masuk kembali ke dalam kamar. Membuka sarung dan peci, lalu menyimpannya kembali. Ia menyambar kunci mobil, dan ponsel yang selalu setia menemaninya.
Tidak lupa sebelum belanja. Egi mengirim pesan pada Lisa, untuk menanyakan apa yang harus ia beli.
Saat hendak keluar ia bertemu Mang Asep yang sedang santai dengan segelas kopi.
__ADS_1
"Eh, Den Egi mau keluar?" tanya Mang Asep ramah.
Rambut lelaki itu sudah mulai beruban. Tenaganya tidak sekuat dulu. Namun, pengabdiaannya tidak diragukan lagi. Meski, Pak Adrian sudah tiada, akan tetapi Mang Asep masih setia bersama keluarga Rendy.
"Iya, Mang. Oh, ya nanti kalau ketemu Bi Iyah. Tolong, sampaikan kalau saya mau makan di luar nanti malam!" pesan Egi.
"Iya, Den." Mengangguk pelan.
"Kalau begitu, saya berangkat dulu, Mang. Assalamualaikum." Melangkah pergi meninggalkan Mang Asep.
"Waalaikumsalam," jawab Mang Asep.
Egi segera masuk ke dalam mobil. Mengendarai kendaraan beroda empat itu untuk meramaikan jalanan kota.
Lisa sudah membalas pesannya. Egi segera mencari supermarket terdekat yang sejalan dengan arah tujuannya.
Setelah menemukan tempat belanja. Egi bergegas memarkirkan mobil, lalu memulai pemburuannya. Daftar belanja yang dikirimkan Kakanya sangat panjang.
"Ini Kak Lisa nyuruh beli kebutuhan yang kurang, apa memang nyuruh aku belanja semua kebutuhan buat acara nanti malam," pikir Egi.
Sambil mendorong troli. Egi mengambil satu per satu barang yang ia butuhkan. Sejak SMP, Egi sudah terbiasa disuruh Lisa, untuk berbelanja kebutuhan rumah. Jadi, tidak heran lelaki ini begitu paham tempat setiap barang.
Saat hendak mengambil cemilan, tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan tangan lain. Egi melirik ke arah pemilik tangan itu. Matanya membulat, melihat orang yang tengah mengambil barang yang sama.
"Kamu!" kata Egi.
Mata Egi meniliti penampilan gadis yang sudah dua hari tidak ia lihat di kampus. Gadis itu terlihat memakai setelan tunik berlengan panjang, celana panjang dengan hijab pasmina menutup dada. Membuat Egi serasa tidak percaya.
"Kamu Zahra, temannya Adnan?" tanya Egi.
"Iya, Paman ...," lirih Zahra.
Zahra yang sudah terbiasa bermain dengan Adnan. Membuat dirinya juga memanggil Egi dengan sebutan Paman seperti ketiga serangkai.
"Kamu menginginkan ini?" Menunjuk ke arah cemilan yang tadi mereka ambil bersama.
Zahra mengangguk pelan.
"Ambillah! Saya bisa mengambil rasa yang lain!" Meraih cemilan dari rak, lalu menyimpannya di keranjang belanja milik Zahra.
"Terima kasih, Paman," cicit Zahra.
Egi tidak menjawab. Ia bergegas ke arah etalase daging. Hatinya masih sedikit berdebar melihat penampilan manis Zahra.
"Ia terlihat lebih cantik, jika seperti itu," gumam Egi pelan.
__ADS_1
Semua List kebutuhan sudah terisi dalam troli. Egi bergegas ke kasir, lalu membayarnya. Dua kantung berisi makanan dan berbagai kebutuhan ia tenteng menuju mobil.
Saat sampai diparkiran. Egi melihat Zahra tengah menelepon dengan seseorang. Terdengar sayup-sayup pembicaraan Zahra pada orang di ujung telepon sana.
"Yah, kok kalian engga bisa jemput!" keluh Zahra.
"Maaf, Ra. Mami minta kita bantuin di rumah. Tapi, kamu jadikan beliin cemilan titipan kita?" tanya Riko.
"Iya, Bawel. Haduh, kalau kayak gini jadinya. Tadi aku minta Mang Jaka aja anterin ke supermarketnya, kan bisa langsung ke sana," ketus Zahra.
"Memang kamu tadi ke supermarket naik apa?" tanya Riko.
"Naek Gober," jawab Zahra. "Ya, udah. Aku mau naik taksi aja. Assalamualaikum."
Zahra menyimpan kembali ponsel miliknya ke dalam tas. Egi masih memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Ia menyimpan terlebih dahulu belanjaannya ke dalam bagasi.
Egi melangkah menghampiri Zahra yang hendak keluar parkiran. Egi berkata, "Kamu mau ke rumah Riko?"
Zahra terperanjat. Matanya menatap ke arah Egi. Beberapa detik pandangan mereka bertemu, itu membuat jantung Zahra tidak berdaya.
Sekuat mungkin Zahra bersikap biasa. Zahra berkata, "Iya, Paman."
"Mari, ikut bersama saya!" ucap Egi.
"HAH!" seru Zahra.
"Jangan kaget seperti itu. Saya juga akan ke rumah Riko. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut dengan saya." Berbalik arah menuju mobilnya.
Zahra yang masih kaget, mendengar banyak kata yang Egi ucapkan dari mulut lelaki itu membuat ia terdiam.
Egi yang biasanya hanya menjawab dengan tatapan tajam seperti seorang singa siap menerkam. Kali ini, berbicara banyak dengan dirinya.
"Kamu mau ikut atau tidak?" tanya Egi sedikit keras.
"Iya, Paman. Aku ikut." Sedikit berlari menghampiri Egi.
Karena terlalu bersemangat. Kaki Zahra tersandung, hingga badannya oleng. Egi yang berada tepat didepannya dengan cekatan meraih badan Zahra. Niat Egi hanya agar gadis itu tidak terjatuh.
"Kamu bukan anak kecil lagi. Kenapa harus berlari!" tegur Egi dengan lembut.
Egi segera melepaskan tangannya dari pinggang Zahra. Ia tidak ingin terlalu lama dalam posisi yang bisa menimbulkan fitnah. Apa lagi posisi mereka sedang di keramaian.
"Maaf, Paman. Aku hanya tidak ingin membuat Paman menunggu lama," tutur Zahra pelan sambil menunduk.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG~~~~