Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
111


__ADS_3

Langit malam terasa gelap gulita. Bintang yang hadir tidak seindah harapannya. Dira duduk termenung menikmati udara malam di halaman rumah.


Matanya terpejam. Membayangkan dirinya kembali ke masa lalu. Memutar pikirannya ke moment lucu saat itu.


Tidak berapa lama mobil Dika masuk ke halaman rumah. Dira yang tengah termenung sempat melirik sebentar, lalu kembali berdiam.


Dika keluar dari mobil, ia melihat orang yang ia rindukan tengah duduk diam. Dika memberanikan diri duduk disamping gadis itu sambil berkata, "Boleh Gue ikut duduk?"


Dira memberi jawaban hanya dengan sebuah anggukan. Ia sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun.


"Dir," sapa Dika." Lo mau engga jalan keluar sama Gue sekarang. Maksud Gue gini loh, gue cuman pengen hibur Lo doang."


Hening, tidak ada pergerakan dari gadis ini. Dika sedikit kebingungan. Harus dengan cara apa ia menghibur Dira.


Dokter tampan itu hendak beranjak, namun Dira meraih tangannya sambil berkata, " Ayo, kita pergi."


Dika sempat tertegun sebentar, kemudian mengurai senyum. Gadis itu bergerak, ia berdiri lalu melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Dika menyusul Dira ke dalam rumah, ia hendak meminta izin pada Pak Adrian.


Izin sudah dikantongi Dika dan Dira pun sudah kembali setelah berganti pakaian terlebih dahulu.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil, lalu Dika segera menancap untuk melajukan mobil meramaikan suasana jalanan.


Selama perjalanan Dira sama sekali tidak berbicara. Mulutnya tertutup rapat, Dika yang paham akan hal itu hanya bisa membiarkan gadis itu menikmati lamunannya.


Lima belas menit berlalu, mobil Dika sampai di halaman salah satu cafe. Ia keluar mobil duluan, lalu membukakan pintu untuk Dira.


Dira menurut tanpa banyak protes. Dua manusia berbeda jenis itu masuk ke dalam Cafe. Dika segera memesan es jeruk kesukaan Dira, dan satu cangkir kopi untuknya.


Suasana di Cafe sangat ramai. Di sana tengah digelar sebuah pesta ulang tahun salah satu pengunjung. Terlihat seorang laki-laki membawa kue ulang tahun pada seorang gadis manis.


Gadis itu menyambut hangat, lalu meniup semua lilin. Ia juga mulai memotong kue yang terlihat menggiurkan dengan pisau, kemudian dengan penuh cinta gadis itu menyuapi laki-laki tadi.


Terdengar suara tepuk tangan dari semua pengunjung. Ada yang berteriak selamat, ada juga yang berkata, " Ayo, jadian."


Dira menyaksikan semuanya. Hatinya terenyuh, ulang tahun yang ia nantikan berakhir tragis. Ia bukan hanya kehilangan momen untuk merayakan hari kelahirannya, tapi ia juga sekaligus kehilangan cinta pertamanya.


Dari kejauhan terdengar suara MC mempersilahkan bagi saja yang mau menyumbang lagu.


Entah angin apa yang menuntun Dira, hingga ia memberanikan diri melangkankah kakinya ke depan. Dika yang baru menyadari itu tidak sempat menghentikan Dira.


"Hallo. Perkenalkan nama saya Dira." Gadis itu memperkenalkan dirinya begitu sampai di depan.


Semua orang bersorak gembira menyambut perkenalan Dira. Gadis itu terlihat menghela napas sebelum melanjutkan perkataannya.


"Saya ingin menyumbangkan sebuah lagu. Lagu yang ingin saya persembahkan untuk dia yang telah jauh di sana," ucap Dira.

__ADS_1


Seorang MC terlihat mendekat ke arah Dira. Mereka mengobrol sebentar membahas lagu apa yang akan Dira nyanyikan. Dengan satu isyarat MC itu menyampaikan pada Band pengiring, untuk mengiringi Dira bernanyi.


**Kemarin Engkau masih ada di sini.


Bersamaku menikmati rasa ini.


Berharap semua tak kan pernah berakhir.


Bersamamu.


Bersamamu.


Kemarin dunia terlihat sangat indah.


Dan denganmu merasakan ini semua.


Melewati hitam putih dunia ini.


Bersamamu.


Bersamamu.


Kini sendiri di sini.


Mencarimu tak tahu di mana.


Semoga tenang Kau di sana.


Selamanya.


Doakanmu setiap malamku.


Semoga tenang kau di sana.


Selamanya.


Kini sendiri di sini.


Mencarimu tak tahu di mana.


Semoga tenang Kau di sana.


Selamanya.


Doakanmu setiap malamku.

__ADS_1


Semoga tenang kau di sana.


Selamanya**.


Lagu dari Band Seventen berjudul kemarin. Dira nyanyikan dengan deraian air mata. Suaranya yang merdu mampu membuat semua orang hanyut, dan merasakan kepedihan di setiap liriknya.


Dira memejamkan mata setelah menyelesaikan lagunya. Ia terlihat menahan sekuat tenaga agar cairan bening itu tidak lolos terlalu banyak.


"Untuk kalian yang saat ini masih bisa bersama orang yang kalian cintai. Aku berharap kalian selalu menjaga pasangan kalian, karena jika kalian sudah kehilangan dia. Rasanya sangatlah menyakitkan, bahkan dunia ini terasa berhenti," pesan Dira dengan wajah beruraian air mata.


Suasana menjadi hening. Dika yang berada di sana, ikut hanyut dalam suasana haru yang Dira ciptakan. Ia tidak menyangka begitu dalam rasa cinta Dira pada Farhan.


Dika mungkin tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Farhan di hati Dira. Ia pun tidak berharap lagi Dira bisa membalas cintanya. Ia hanya berdoa semoga luka yang Dira rasakan segera berakhir.


"Aku baru saja kehilangan cinta pertamaku, karena keegoisanku sendiri. Aku baru menyadari akan hadirnya cinta, setelah ia benar-benar pergi meninggalkanku untuk selamanya-lamanya," ucap Dira.


Dira mengusap perlahan air matanya. Seorang MC memberinya tisu untuk Dira.


"Dia pergi ke tempat yang belum bisa aku kunjungi. Dia pergi bukan untuk kembali. Dia pergi membawa cintanya dan perasaanku bersamanya. Kini hanya ada penyesalan di setiap deru napasku. Aku menyesal karena terlambat menyadari hal indah yang ia berikan untukku," lanjut Dira. " untukmu Kakak Tua yang kini berada jauh di sana. Aku mencintaimu,"


Semua orang terhanyut, semua orang berderai air mata. Menyaksikan Dira begitu tulus mengatakan semua perkataannya.


Dengan langkah gontai. Dira berjalan menuju tempatnya semula. Tatapan penuh haru dan kasian terpancar dari setiap orang yang memandang.


Pikiran Dira melayang. Ia merasa kesepian meski sedang berada dalam keramaian. Dira duduk kembali di kursi tepat berhadapan dengan Dika. Dokter tampan itu menatap lekat pada gadis cantik ini. Mata menyusup masuk lewat celah-celah bola mata indah Dira. Tersimpan rapih gurat kesedihan yang mendalam dari Dira.


"Dir," sapa Dika.


"Iya, Kak," jawab Dira.


"Lo baik-baik aja kan, Dek?"


Dira menampilkan senyum terpaksa sambil berkata, " Aku tidak bisa bilang sedang baik-baik aja, Kak. Karena itu sama saja bohong. Aku tidak dalam keadaan baik saat ini."


"Dir, Gue__,"


"Jangan bahas soal Farhan, Kak. Biarlah namanya tersimpan rapih di memoriku. Biarkan aku saja yang boleh menyebut nama indahnya" potong Dira.


Dika terdiam. Ia mengerti akan keadaan Dira saat ini. Biarlah perasaannya tidak terbalas, asalkan ia bisa terus menemani Dira selamanya meski sebagai Kakak saja.


Dika mengusap lembut pucuk kepala gadis itu sambil berkata, " Lo boleh cerita apa saja sama gue. Tumpahin semua rasa pedih di hati Lo ke gue. Gue dengan ikhlas dan setia bakal nemenin Lo di saat sulit sekalipun."


...****************...


Bersambung~~~

__ADS_1


Jangan lupa like, coment dan vote😍


__ADS_2