
Benda super canggih berbentuk segi panjang itu tergeletak begitu saja. Kenyataan yang baru saja ia dengar. Seakan membuat tubuhnya lemas.
Rey yang masih setia bersamanya. Mendadak kaget melihat reaksi Rendy setelah menjawab telepon.
"Ren, Lo kenapa?" tanya Rendy.
"Kita harus pulang, Rey. Sekarang juga!" seru Rendy.
"Ada apa, Ren. Kenapa kita harus pulang sekarang? urusan kita belum selesai di sini," jawab Rey.
"Lisa koma di rumah sakit," tutur Rendy.
"Apa!" teriak Rey.
Rendy mengambil ponselnya di lantai, lalu berdiri sambil berkata, "Pokoknya sekarang juga kita pulang, Rey! Gue engga peduli soal kerjaan!"
Rendy berjalan ke arah kamar hotel. Posisi mereka saat ini tengah di restaurant yang ada di hotel. Rey yang melihat sahabatnya berlalu, segera menyusul.
Hari ini seakan menjadi paling buruk. Seharian hatinya dibuat tidak tenang, hingga akhirnya ia harus menerima kenyataan pahit itu.
🏵🏵🏵🏵🏵
Sementara itu di halaman rumah sakit. Pak Adrian dan Egi baru saja tiba di antar Mang Asep. Supir keluarga Pak Adrian itu langsung pulang begitu selesai mengantar Dika dan Lisa ke rumah sakit. Ia hendak memberitahu Tuan besarnya dan Egi, adik Lisa.
Egi, bocah itu tidak berhentinya mengeluarkan air mata. Ia ingin cepat berjumpa dengan Kakanya.
Selang lima menit, akhirnya Egi dan Pak Adrian sudah sampai di depan kamar rawat Lisa. Bergabung dengan Dira dan Dika yang sudah terlebih dahulu. Sebelumnya Pak Adrian sudah menelpon Dika. Menanyakan di kamar mana menantunya itu dirawat.
"Kak Dira...!" teriak Egi berlarian menghampiri Dira yang tengah duduk lemas di samping Dika.
Dira yang mendengar suara bocah itu segera menoleh, lalu menghapus air matanya. Ia ingin terlihat tegar di hadapan Egi. Ia tidak mau memperlihatkan, bahwa saat ini hatinya tengah hancur berkeping-keping.
Dira menyambut tubuh kecil Egi masuk ke dalam pelukannya, lalu berkata, "Jangan nangis, Egi. Kak Lisa pasti segera bangun."
Tangis Egi semakin pecah. Ia terus memeluk Dira sekuat tenaganya. Seakan ia mengatakan lewat tubuhnya, bahwa dia tengah terluka.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Lisa, Dir?" tanya Pak Adrian.
__ADS_1
"Dira juga engga tahu, Pa. Saat Dira ke toko, Kak Lisa sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri," ungkap Dira.
Dika terlihat berpikir. Otaknya bekerja mencoba menerka-nerka, hingga satu ungkapan dari Dika membuat Dira hampir melupakan seseorang. Ya, seseorang yang mungkin tahu akan hal itu.
"Bukannya di toko Lisa tidak sendirian!' ungkap Dika.
"Ah, iya. Ada seorang gadis yang membantunya, tapi aku baru bertemunya hanya sekali," jawab Dira.
"Apa kamu melihatnya saat menemukan Lisa tadi sore?" tanya Dika.
"Aku rasa tidak! Aku masuk ke toko dalam keadaan sepi dengan Mang Asep. Aku sama sekali tidak melihatnya," balas Dira.
Dika tidak berkata apa-apa lagi. Sebaiknya ia membicarakan soal ini dengan Rendy dan Rey saja.
Hening, tidak ada lagi percakapan apa pun diantara mereka. Dika dan Egi masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan Lisa. Sedangkan Pak Adrian dan Dika berbincang di luar ruangan.
Selang dua jam lebih berlalu, dua lelaki tampan keluar dari mobil mewah. Mereka membuat para hati wanita yang melihatnya di sana meleleh. Wajah Rendy tetap memukau meski dalam keadaan gelisah.
Dengan berlari kencang ia menuju ruangan di mana istrinya tengah terbaring koma. Ia rindu, sangat rindu. Ingin melihat wajah cantik itu.
Sesampainya di luar ruangan yang di tuju. Rendy langsung masuk tanpa menyapa Dika, Dira, Pak Adrian dan Egi. Pintu itu terbuka. Terlihat dengan matanya sendiri, sang istri terbaring lemah dengan alat-alat rumah sakit yang dipasangkan di tubuhnya.
Lelaki itu berjalan lemah menghampiri istri kecilnya. Ia tidak kuasa menatap mata indah itu, yang kini memilih tertutup rapat. Lisa seakan sedang bermimpi indah. Raut wajahnya sangat cantik meski tengah dalam keadaan koma.
"Sayang... apa yang terjadi denganmu? mengapa kamu bisa seperti ini?" ucap Rendy pelan.
Rey yang baru sampai ke ruangan Lisa segera masuk ke dalam bersama ke empat orang yang sejak tadi menunggu di luar. Tatapan mereka sendu melihat Rendy memegang erat tangan istrinya.
"Kak, maafkan Dira...," cicit Dira.
Rendy tidak menjawab, ia tengah menikmati halusnya kulit tangan istri kecilnya. Rey menghampiri Rendy, lalu berkata, "Sabar, Bro! Gue yakin Lisa bakal segera sadar."
Tidak terasa cairan kepedihan itu menetes perlahan dari pelupuk mata Rendy. Ia mencium telapak tangan istrinya. Matanya terpejam, seakan ia ingin ikut tertidur lelap saja seperti Lisa.
"Sayang... bangunlah! Apa kamu tidak rindu denganku? apa kamu tidak ingin membuka matamu, agar bisa melihat betapa tampannya suamimu ini! Bukalah matamu, Sayang!" pinta Rendy.
Semua orang di sana ikut larut dalam kesedihan Rendy. Mereka merasakan bagaimana sedihnya lelaki yang terlihat dingin dari luar itu.
__ADS_1
Pak Adrian tak kuasa melihat pemandangan menyedihkan ini. Ia meraih tangan Egi sambil berkata, "Nak, kita di luar saja! Papa tidak sanggup melihat Kaka Iparmu menangis seperti itu.
Egi menurut, ia mengikuti Pak Adrian keluar ruangan. Sedangakan Dika mendekatkan dirinya pada Dira, lalu berbisik, "Istirahatlah! Aku tahu kamu lelah. Aku akan mengantar kamu pulang dengan Om Adrian juga Egi."
Dira tidak menjawab. Ia langsung keluar ruangan setelah Dika membisikkan seperti itu. Tenaganya sudah terkuras semua hari ini. Mungkin Dokter tampan itu benar, ia butuh istirahat. Mengistirahatkan tubuhnya untuk mengisi tenaga kembali.
Setelah memastikan punggung Dira tidak terlihat lagi. Dika menoleh ke arah Rendy, lalu menepuk pundaknya perlahan sambil berkata, "Ada yang ingin gue bicarakan sama Lo! Ini soal Lisa."
Rendy yang tengah asyik memejamkan mata seketika membuka matanya. Melirik ke arah Dika, begitu pun dengan Rey yang berada di samping Rendy.
"Ada apa?" tanya Rendy. "Apa Lo tahu sesuatu tentang di balik kejadian yang menimpa Lisa!"
Mata Rendy memancarkan rasa penasaran, sedangkan Rey melihat lekat pada Dika.
"Gue engga tahu ini benar atau engga! Tapi gue pengen kita cari tahu apa yang terjadi sebenarnya di toko saat itu," ucap Dika.
Dokter itu menghela napas kasar. Memberi jeda sebentar ucapannya, lalu mulai melanjutkannya kembali.
"Lo tahu Lisa engga kerja sendirian 'kan di toko. Ada gadis yang selalu bantuin dia. Gue ngerasa ada sesuatu yang ia tahu soal ini? Entah, ini perasaan gue doang, tapi gue ngerasa Lisa engga mungkin jatuh dari tangga kalau engga ada sesuatu yang bikin dia kegelincir ke bawah," jelas Dika.
Hati Rendy memanas, rahangnya mengeras. Tangannya mengepal erat, ia tidak akan memaafkan siapa pun yang telah membuat istrinya celaka.
"Dari mana Lo tahu kalau Lisa jatih dari tangga?" sela Rey.
"Dokter Tania bilang. Ada benturan keras di kepala Lisa yang menyebabkan ia koma. Dan Dira bilang, kalau dia nemuin Lisa tepat di bawah tangga dengan tubuh tengkurep," ungkap Dika.
Tiba-tiba Rendy berdiri membuat kedua sahabatnya kaget. Matanya penuh kemarahan. Ada gejolak emosi bergemuruh di dadanya.
"Malam ini juga, kita ke toko! Kita lihat cctv, dan kalau benar gadis itu pelakunya. Gue bakal cari dia sampai ke lubang semut sekalipun. Gadis itu harus merasakan apa yang istri gue derita saat ini!" seru Rendy.
Dika dan Rey saling berpandangan. Mereka setuju dengan perkataan Rendy. Akhirnya ketiga serangkai itu pergi dari ruangan. Meninggalkan Lisa yang tengah berkelana ke alam bawah sadarnya.
...****************...
BERSAMBUNG~~
Hai, ada yang mencium bau-bau persengkokola Dion dengan Ririn? atau ada yang menebak Ririn melakukan karena mencintai Rendy.
__ADS_1
Tunggu jawabannya di part-part selanjutnya ya, Teman🤗
Jangan lupa like, coment dan vote sebanyak-banyaknya🤗