Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
S2 BAB 10


__ADS_3

Malam datang menyapa. Memberi jeda bagi kita untuk melepas lelah seharian. Semilir angin berembus bersama dinginnya malam.


Seperti yang telah direncanakan. Malam ini semua hadir untuk acara baberque di rumah Dira dan Dika.


Sejak selesai sholat isya, semua orang berkumpul di halaman depan rumah. Mereka saling bercengkrama satu sama lain. Membaur, tertawa, dan saling bercerita.


Egi terlihat tengah memanggang sosis dan beberapa daging. Ia begitu konsen pada kegiatannya.


"Lis, apa Egi belum mau menikah?" tanya Mona.


Mona, Lisa dan Dira tengah duduk lesehan, sambil menikmati makanan bersama suaminya masing-masing.


"Entah! Setiap aku menanyakan soal pernikahan. Dia selalu bilang, kalau dia belum memikirkannya ...!" Menatap lurus ke depan.


"Apa dia tidak punya pacar?" sela Dira.


"Sayang, kalau Egi punya pacar. Mungkin dia sudah mengenalkannya pada kita." Dika Merangkul pinggang istrinya.


"Tolong kondisikan itu tangan, Pak Dokter!" sindir Rey.


"Udah tua juga masih aja jail!" Mona mencubit pelan pinggang Rey.


"Aduh ... sakit, Adindaku!" keluh Rey.


"Masih aja suka ngegombal dia, Mon," timpal Dika pada Mona.


"Iya, Pak Dokter. Terkadang kita lagi kumpul sama Zahra juga, rayuan mautnya tetap keluar!" balas Mona.


"Watak memang engga bisa dirubah!" sela Rendy.


Semua tertawa. Persahabatan tiga serangkai tetap terjalin baik sampai mereka memiliki anak. Mereka saling menjaga, mengasuh dan menyayangi anak mereka semua.


Sementara itu, Riki dan Riko terdengar gaduh. Dua pemuda kembar itu sedang asyik bermain game. Mereka larut dalam permainan.


"Ko," panggil Riki pada kembarannya.


"APA! Jangan bilang, Lo minta anter ke kamar mandi. Ini masih sore, Ki. Lo jadi cowok penakut banget!" sahut Riko.


"Bukan itu, Bambang!" sungut Riki.


"Terus, apa?" tanya Riko.


"Lo ngerasa engga 'sih kalau Adnan itu suka sama Zahra?" Berpaling sekilas dari layar handphone, lalu menatap Riko.


Riko masih saja memainkan game. Ia belum berniat menjawab pertanyaan konyol kembarannya.


Riki yang kesal, dengan sigap mengambil alih handphone Riko, lalu berkata, "Lu diem aja, jawab 'kek!"


Riko berusaha mengambil barang canggih miliknya. Namun, sangat sulit. Riko menghela napas kasar, lalu berkata, "Gue engga mau terlalu ikut campur soal orang lain, Ki! Kalau pun Adnan suka sama Zahra. Ya, menurut gue, sah-sah aja!"


"Adnan bukan orang lain. Dia itu sepupu kita!" Mengembalikan ponsel pada si empunya.


Riko menyambut barang itu dengan gembira. Memainkan kembali game yang sempat tertunda.

__ADS_1


"Tetep aja, Ki! Meski, Adnan itu sepupu. Kita engga boleh terlalu ikut campur urusannya, kecuali dia salah atau dalam bahaya." Matanya pokus pada layar ponsel.


"Tapi, gue khawatir sesuatu," lontar Riki.


"Apa lagi?" tanya Riko.


"Gue tadi engga sengaja liat Paman Egi ngobrol banyak sama Zahra, terus dari deket panggar depan rumah, gue liat Adnan lagi natap mereka. Gue takut me--,"


"Mereka rebutan Zahra gitu maksud Lo!" potong Riko.


"Nah, itu Lo pinter!" puji Riki.


"Gue emang udah pinter dari lahir. Lo aja yang bodoh sendirian!" jawab Riko.


"Ni anak ngatain gue bodoh. Gue itu bukan bodoh, tapi engga bisa!" bantah Riki.


"Apa bedanya, Maemunah!" sungut Riko. "Terus, soal Paman Egi dan Adnan. Gue yakin, paman itu berpikir lebih dewasa dari kita. Sekalipun paman memang suka sama Zahra juga engga berdosa. Toh, janur kuning belum melengkung ini!"


Riki menganggukkan kepala. Ia mencoba memahami perkataan kembarannya. Hanya saja hatinya tetap berpikir negatif. Akankah hubungan paman dan keponakan itu renggang?.


Di sudut lain, Adnan sedang membantu Egi memanggang. Tangannya begitu lihai, membolak-balikkan setiap sosis dan daging.


Adnan menatap Egi, lalu berkata, "Apa tadi paman berangkat bersama Zahra?"


Egi mengangguk tanpa berbicara.


"Kenapa bisa bersama? bukannya paman tadi seharusnya belanja?" tanya Adnan.


"Paman bertemu di supermarket dengan gadis itu!" balas Egi singkat.


"Oh ... apa terjadi sesuatu antara paman dan Zahra?" tanya Adnan kembali.


"Tidak!" sahut Egi.


Adnan berusaha bersikap seperti biasa. Ia pura-pura tidak tahu apa yang ia lihat tadi sore.


"Apa kamu menyukai Zahra?" Egi bertanya mendadak. Matanya menatap tajam sang keponakan.


Adnan terdiam. Ia kembali pokus pada pekerjaannya sambil berkata, "Kenapa paman bertanya soal itu?"


"Paman hanya ingin tahu!" singkat Egi.


Tangan Adnan perlahan mengoleskan bumbu yang sudah Ibunya racik sebelumnya. Ia seakan larut bersama wanginya khas sosis bakar.


"Aku tidak menyukainya. Dia bukan type-ku!" balas Adnan tegas.


"Benarkah! Paman rasa tidak seperti itu," ucap Egi.


"Maksud Paman?" Menengok ke samping.


"Kamu tidak perlu berbohong. Paman sudah mengenalmu dari bayi. Kamu memang tidak pintar menyembunyikan apa pun dari paman!" jawab Egi.


"Lalu, apa Paman keberatan?" Menatap tajam pada Egi.

__ADS_1


"Tidak! Kamu berhak menyukai siapa pun itu! tegas Egi.


Hening. Tidak ada lagi percakapan. Dari belakang, Zahra datang sambil berkata, "Nan, sosisnya udah ada yang matang belum?"


Sontak dua lelaki itu menoleh ke arah Zahra. Egi menatap sebentar, lalu kembali mengalihkan pandangnnya. Sedangkan, Adnan masih setia memandangi gadis manis itu.


"Loh 'kok malah diem aja 'sih, Nan! protes Zahra.


Adnan terperanjat. Ia mengikuti Egi membalikkan badan kembali sambil berkata, "Ambil aja sendiri tuh di piring!"


Zahra mengerucutkan bibirnya mendapatkan respon dingin keduanya. Gadis itu segera mendekati Egi, lalu mengambil beberapa potong sosis, dan yang lainnya.


Egi sibuk sendiri. Ia tidak memperdulikan Zahra yang kini berada disampingnya. Sedangkan, Adnan sesekali melirik sekilas pada keduanya.


"Paman tidak makan?" tanya Zahra.


Egi berdehem. Ia mengunci mulut rapat-rapat.


"Sosisnya enak, Paman," puji Zahra.


"Adnan yang membakarnya!" jawab Egi singkat.


"Benarkah! Aku pikir paman yang membakarnya." Memakan satu buah sosis, lalu menikmatinya.


Zahra melahap tenang makanannya. Ia tidak sadar, bahwa noda bumbu mengotori sudut kanan bibirnya.


Egi melihat itu. Namun, ia mencoba menutup mata. Gadis itu masih saja tidak menyadari.


Egi yang mulai risih, kemudian beranjak pergi begitu saja. Membuat pikiran Zahra bertanya-tanya.


"Nan, Paman kenapa?" Mendekat ke arah Adnan yang masih sibuk memanggang.


"Memangnya ada apa dengan Paman?" tanya Adnan balik.


"Aku nanya 'kok malah nanya balik!" ketus Zahra.


"Aku tidak tahu! Kamu tanya aja sendiri!" Membolak-balikkan sosis yang baru saja ia bakar.


"Kamu 'kan dari tadi sama Paman. Aku baru aja datang," kilah Zahra.


Adnan mengoleskan bumbu sambil berkata, "Aku memang bersama Paman dari tadi. Tapi kami baik-baik saja, sebelum kamu datang."


Zahra mengerutkan keningnya. Ia tidak paham maksud ucapan Adnan. Tiba-tiba Egi datang, lalu memberikan satu helai tisu pada Zahra. Egi berkata, "Kamu sudah remaja, tapi cara makanmu berantakan seperti anak kecil. Lap noda bumbu di bibirmu. Saya risih melihatnya."


Zahra terpaku, perlahan ia mengambil tisu dari tangan Egi. Dengan cepat Zahra mengelap bibirnya, lalu berkata, 'Terima kasih, Paman."


Egi kembali menyelesaikan tugasnya tanpa menjawab. Sedangkan, Adnan hanya terdiam menyaksikan kembali interaksi mereka.


"Ada apa dengan hatiku," batin Adnan.


...****************...


BERSAMBUNG~~~

__ADS_1


__ADS_2