
Merah itu melambangkan keberanian. Merah itu warna bunga mawar yang cantik. Namun, jika merah itu darah. Semua terasa menyakitkan.
Tangis histeris keluar dari bibir manis Dira, tatkala menemani Farhan sampai ke ruangan operasi.
Waktu terasa lambat berjalan. Dunia seakan berhenti berputar. Semua berharap akan kejaiban Sang Ilahi. Untaian doa terus terucap, gadis manis itu menunduk dengan mulut berkomat-kamit.
Dua jam berlalu, pintu ruangan mulai terbuka. Terlihat dua Dokter dan perawat keluar dengan wajah yang tak bisa diartikan.
Dira berlari menghampiri, matanya mengisyaratkan pertanyaan. Berharap satu kata yang indah terlontar dari mulut sang Dokter.
"Maaf," sesal Dokter.
Itu hanyalah sebuah kata biasa, namun mengandung arti yang luas. Dira mematung, tubuhnya bergetar. Darah yang mulai kering di pakaiannya menjadi saksi. Dia terlambat, sudah terlambat.
"Kakak tua, Tidak! Kamu harus bangun. Kamu harus bangun demi aku. Aku mohon!" gadis itu histeris setelah sadar akan kenyataan pahit yang baru ia dapatkan.
Dika mendekat, didekapnya tubuh Dira. Gadis manis yang tengah terluka. Dika berkata, " Sabar, Dir. Biarin Farhan pulang dengan tenang."
"Maafkan, kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya. Dia terlalu kehabisan darah," ungkap Dokter laki-laki.
"Baik, Dok. Terimakasih, atas kerja samanya." Dika menjabat tangan Dokter laki-laki itu.
Rombongan Dokter itu segera berlalu, meninggal Dira yang masih terus menangis memanggil nama kekasihnya yang telah pergi.
Selang lima menit, dua orang perawat mendorong jenazah Farhan untuk dipindahkan ke kamar mayat.
Dira semakin histeris, ia bahkan meronta-ronta sambil membuka penutup tubuh Farhan.
"Mengapa begini, Kakak tua. Bukankah kamu berjanji padaku untuk selalu menemaniku. Tapi, mengapa kamu pergi meninggalkanku?" ujar Dira.
Semua yang disana ikut terpukul. Tak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suaranya. Dira berjalan gontai dipegangi Dika menuju kamar mayat. Mereka tengah menunggu keluarga Farhan menjemput.
Sesampainya di kamar mayat. Kedua perawat itu membiarkan Dira dan Dika bersama jasad Farhan.
Dira kembali membuka kain penutup wajah Farhan. Dipandanginya wajah yang tampan dan selalu memaksanya.
"Hiks... hiks... bawa aku pergi Kakak tua. Aku ingin bersamamu," ucap Dira. " aku menyesal karena telah mengabaikan perasaanmu. Aku menyesal menuruti egoku, padahal jelas-jelas kamu yang selalu membuatku nyaman."
__ADS_1
Dika di sana, menyaksikan tangis kepedihan gadis yang ia cintai. Ia hanya diam, tidak banyak yang bisa ia lakukan.
Semua manusia pasti akan kembali. Cepat atau lambat, kita hanya tinggal menunggu giliran. Tidak ada yang bisa selamat, sekali pun bersembunyi di balik tembok berbalut emas.
🌷🌷🌷🌷🌷
Keesokan paginya, semua mengantarkan Farhan ke peristirahatan terakhirnya. Dira di temani Rendy, Rey dan Dika berjalan lesu menyaksikan proses pemakaman yang berlangsung khusu.
Setelah semua beres, orang-orang pun berlalu meninggalkan mereka berempat dan kedua orang tua Farhan.
Dira berjongkok tepat di nisan cintanya yang telah pergi. Dira menaburkan bunga dengan mata sembab karena semalaman menangis. Dira berkata, " Kakak tua, andai waktu bisa ku putar. Aku ingin kembali ke masa kita sering bertengkar. Masa di mana kamu selalu memaksaku untuk bersamamu. Kini aku hanya sendiri, kamu telah pergi membawa cintaku bersamamu."
Semua saling berpandangan. Terutama kedua orang tuanya yang sama ikut menyesal, karena telah membiarkan anaknya tumbuh dan menjalani hidupnya sendirian.
Ibu Farhan berjongkok di samping Dira, ia memeluk anak gadis yang ia ketahui mencintai anaknya.
"Nak, terimakasih karena sudah mencintai anak Ibu. Ibu berharap kamu tetap menjalani hidupmu seperti biasa, meski tanpa adanya Farhan," ujar Ibu Farhan.
Dira menoleh ke arah wanita paruh baya. Menikmati hangatnya pelukan Sang Ibu yang sudah lama tidak ia dapatkan. Untuk kedua kalinya dalam hidup Dira, ia kehilangan orang yang ia cintai.
"Aku yang seharusnya berterimakasih pada anak Ibu. Dia begitu tulus mencintaiku dengan caranya sendiri, akan tetapi aku malah mengabaikannya. Hingga pada akhirnya Allah mengambilnya, sebelum aku membalas perasaannya," jawab Dira.
Hari semakin siang, orang tua Farhan pamit duluan untuk pulang. Sedangkan Dira masih enggan meninggalkan kekasihnya sendirian.
Dengan segala cara jitu dari Rey, Rendy dan Dika akhirnya gadis itu mau melangkahkan kakinya dari nisan Farhan.
Semua telah berakhir. Dunia Dira gelap gulita, tak ada cahaya yang menyinarinya seperti dulu. Farhan pergi membawa hati dan cintanya, meninggalkan Dira dengan segala penyesalannya.
Selama di mobil Dira hanya diam mematung, sedangkan ketiga laki-laki itu larut dalam pembicaraan mereka.
"Dik, Lo mau gue anter ke rumah sakit atau ke rumah Lo aja?" tanya Rey yang sibuk menyetir.
"Ke rumah sakit aja, Rey. Gue mesti bertugas hari ini," jawab Dika.
"Lo sehat kan, Dik?" timpal Rendy.
"Gue baik-baik aja kok, Ren," sahut Dika. " gue ini Dokter. Gue udah di sumpah untuk mau siap sedia kapan pun, dan dalam keadaan bagaimana pun."
__ADS_1
"Gue salut sama, Lo. Lo bener-bener profesional dalam bekerja. Lo engga kenal lelah membantu mereka yang membutuhkan bantuan Lo," puji Rey.
"Udah tugas gue, Bro. Gue mau apa yang gue pelajari bermanfaat bagi orang lain," cakap Dika.
Dira tidak memperdulikan mereka. Ia hanya ingin memejamkan mata, mencoba berdamai dengan hatinya yang terluka.
Masih teringat jelas senyum Farhan saat terakhir kali bertemu. Bisikan suara Farhan di telinga Dira terus terngiang tanpa berhenti.
Ia berharap Farhan bisa tenang, sekali pun ia sendiri akan hidup dengan segala penyesalan. Cinta pertamanya pergi tanpa aba-aba, ia begitu mendadak meninggalkan Dira.
Lima belas menit berlalu, mobil Rey sampai di pelataran rumah sakit. Dira memandang sendu pada bangun bertingkat ini. Bangunan itu menjadi saksi, saat Dira menjerit histeris melepas kepergian cintanya.
"Makasih, ya, Bro." Dika melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah sakit setelah mengucapkan terimakasih pada Rey dan Rendy.
Dia tidak ingin melihat pada Dira. Hatinya sakit setiap melihat air mata Dira yang tidak henti mengalir.
Rey melajukan kembali mobilnya membelah jalanan yang sangat ramai. Rendy menoleh ke arah Dira yang kini telah berubah menjadi sosok pendiam.
Rendy paham akan perasaan adiknya. Dulu ia pun sama seperti halnya Dira. Ia tidak bisa menerima kenyataan yang begitu mendadak hadir di hidupnya.
"Dir," sapa Rendy.
Dira hanya menoleh tanpa berkata. Ia menjawab lewat tatapan matanya yang sendu.
"Kita pulang, ya?" ajak Rendy.
Dira hanya mengangguk. Tenaganya sudah habis, ia bahkan serasa tak menapak di atas tanah.
Rey melirik sekilas pada Dira. Gadis manis itu benar-benar bersedih. Rey mendadak merindukan Dira yang dulu. Dira yang selalu bertengkar dengannya.
...****************...
BERSAMBUNG~~
Author minta maaf, jika alur yang Author buat membuat kecewa kalian. Namun inilah alur yang Author buat sebelum menulis novel ini.
Terimakasih untuk yang berkenan menerima alur ini. Author pun tetap menghargai kalian yang kecewa dengan alur yang tidak sesuai ekspetasi kalian.
__ADS_1
Setiap cerita pasti akan ada pro dan kontra dan Author menyambut hangat semua itu.
Terimakasih🤗🤗