Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
57


__ADS_3

Sementara itu di rumah yang mewah, Lisa sedang harap-harap cemas. Dia mendapatkan kapar jika, hari ini Egi sudah bisa pulang ke tanah air.


Perasaan bahagia tak terbendung yang Lisa rasakan saat ini. Lisa juga sudah meminta izin pada suaminya, agar Egi bisa ikut tinggal dengan mereka. Beruntung Rendy menyetujui usul Lisa.


Dokter Dika mengatakan kalau, Egi sepenuhnya pulih. Akan tetapi, Lisa masih bingung. Bagaimana cara dia menyampaikan perihal orang tuanya.


Dia tak ingin melihat adiknya bersedih tapi, dia juga tak bisa terus menutupi. Lambat laun Egi akan tau yang sebenarnya.


Dering ponsel membuyarkan lamunan Lisa, dia raih ponselnya di samping. Tertera nama Rendy menghubungi dirinya.


"Assalamualaikum, mas." Ucap Lisa begitu sambungan telepon terhubung.


"Waalaikumsalam. Sayang, kamu bisa ke bandara sekarang biar mang Rudi mengantarmu. Aku akan menunggumu di sana bersama Rey." Jawab Rendy.


"Baik, mas. Aku akan segera ke sana."


"Kamu yang tenang ya, sayang. Aku yakin Egi pasti bisa menerima kenyataan yang sebenarnya." Rendy paham betul kecemasaan istrinya.


"Mudah-mudahan, mas. Kalau begitu, aku akan segera ke sana."


"Baiklah, aku tunggu. Assalamualaikum." Rendy mengakhiri panggilan teleponnya.


"Waalaikumsalam." Jawab Lisa.


Tak ingin membuang waktu, Lisa segera ke kamar mengambil tas saja lalu kembali ke bawah untuk berangkat ke bandara.


Mang Rudi yang sebelumnya sudah di perintahkan oleh tuannya. Langsung siap sedia menunggu majikan perempuannya di luar mobil.


"Sudah siap, neng." Ucap Mang Rudi.


Seperti halnya bi Inah, Lisa menyuruh mang Rudi untuk tidak memanggilnya nyonya saat tidak ada Rendy.


Lisa merasa risih jika di panggil seperti itu. Dia lebih nyaman di panggil neng, bukan dia merasa menjadi gadis kembali.


Hanya saja dia ingin, baik mang Rudi atau pun bi Inah bisa akrab dengannya. Karena, Lisa sudah tidak punya orang tua lagi.


"Sudah, mang." Jawabku Ramah.


"Silahkan masuk, neng. Tuan sudah menunggu." Mang Rudy membukakan pintu mobil untuk Lisa.


Aku segera masuk, begitupun mang Rudi. Mobil yang kami tumpangi melaju membelah jalanan ibu kota.


Dua puluh menit berlalu, Lisa sampai di depan bandara. Terlihat mobil suaminya terparkir tepat di depan mobil yang mang Rudi bawa.


Lisa bergegas keluar mobil dan menghampiri suaminya, dia mengetuk jendela kaca mobil. Perlahan kaca itu terbuka sedikit demi sedikit, memperlihat sang pemilik mobil yang tengah duduk manis.

__ADS_1


Lisa tersenyum pada suaminya, Rendy menyambut baik senyuman bidadarinya dulu.


"Masuklah dulu, sayang." Ucap Rendy menarik tangan Lisa begitu pintu mobil terbuka.


Tubuh Lisa terseret ke dalam mobil, ambruk tepat di pelukan suaminya. Rendy mempererat pelukannya pada istri kecilnya.


"Biar Rey, yang menunggu mereka. Kita di sini saja." Lanjut Rendy sambil menutup pintu mobil juga kacanya kembali.


"Tapi..."


"Suut.. Jangan membantah suamimu." Rendy memotong ucapan Lisa.


Lisa menurut saja, dia juga tak ingin suaminya marah hanya karena hal sepele. Selama ini, Lisa selalu berusaha mengikuti kemauan Rendy selama itu, tak melenceng dari aturan Allah.


"Sayang, hari ini aku lelah sekali. Biarkan aku tidur sebentar saja di pelukanmu." Rendy membenamkan kepalanya di dada Lisa.


Kehangatan yang Lisa berikan, membuat Rendy selalu nyaman saat berada di sisi Lisa. Dia mencium wangi tubuh istri kecilnya, semenjak kepergian mamahnya Rendy belum menyentuh istrinya lagi.


Rendy menegakkan kepalanya sejajar dengan Lisa, pandangan mereka bertemu. Bola mata indah itu mampu membuat Rendy bertepuk lutut di hadapan Lisa.


Rendy memiringkan kepalanya, perlahan mendekat pada istrinya. Dengan sekali gerakan Dia mengecup bibir ranum milik istrinya.


"Sayang, kita teruskan nanti di rumah. Aku menantikannya," ucap Rendy begitu melepaskan ciumannya.


Lisa tersipu malu, dia tak bisa berkata apa-apa jika suaminya sudah seperti ini.


Rendy menurunkan kaca mobil, Rey terlihat sedikit shock melihat ada sedikit lipstik di bibir Rendy.


"Ren, lo rakus amet. Lipstik juga lo makan." Goda Rey.


Rendy segera melihat ke arah kaca mobil, benar saja ada sedikit lipstik istrinya di bibir Rendy. Mungkin karena Rendy terlalu dalam ******* bibir ranum istrinya, sampai lipstik itu sedikit pindah ke bibirnya.


Rendy dengan tenang menghapus dengan tisu yang tersedia di mobil. Berbeda dengan istrinya, yang tertunduk malu ketahuan Rey lagi.


"Gimana mereka udah mendarat belum?" Tanya Rendy.


"Pesawatnya barusan tiba, lo nunggu di depan mobil aja. Dika udah gue suruh langsung ke sini." Tutur Rey.


"Ok."


Lisa dan Rendy keluar dari mobil, begitu melihat dari kejauhan Dika dan seorang anak lelaki berjalan ke arah mereka.


Lisa tersenyum menyambut kedatangan anak lelaki itu yang tak lain adalah Egi. Egi langsung berlari ke arah kakaknya, begitu dia mengenali wajah Lisa.


"Kakak...." Teriaknya.

__ADS_1


Lisa dengan senang hati menyambut Egi ke dalam pelukannya. Lisa sangat merindukan adiknya, dia tak ingin berpisah kembali seperti dulu lagi.


"Kakak, Egi senang bisa melihat kakak lagi." Ucap Egi.


"Kakak juga, Dek. Kamu tumbuh sangat cepat rasanya, badanmu bertambah tinggi." Lisa tersenyum.


Lisa ingin sekali menangis karena terlalu bahagia. Momen yang dia harapkan, akhirnya benar-benar terjadi.


Adiknya bisa sadar dan berada di pelukannya lagi. Dia tak menyangka, semua perjuangan dan pengorbanan berbuah manis untuk dirinya.


"Ibu dan Ayah kemana, kak? Kenapa tak datang menyambut kedatangan Egi?"


Lisa terdiam, dia harus menjawab apa. Dia sudah tak bisa mengelak lagi sekarang. Rendy yang melihat istrinya kebingungan, segera mendekati dua saudara itu.


"Egi, apa Egi tak ingin berkenalan dengan kakak?" Sapa Rendy.


Egi menoleh ke arah Rendy, dia masih ingat tentang wajah lelaki yang waktu itu bersama kakaknya di layar ponsel.


"Kak Rendy?" Tanya Egi.


"Wah, kamu hebat bisa mengingat wajah kakak. Nah sekarang, lebih baik kita pulang dulu ke rumah." Ajak Rendy.


"Lalu, ibu dan ayah?" Egi tetap pada pendiriannya.


"Kita akan mengunjunginya, Egi mau bertemu mereka kan?" Rendy mengusap anak lelaki yang mungkin baru berusia 10 tahun itu.


"Iya, kak."


"Nah, mari kita pulang dulu untuk istirahat. Kasian Dokter Dika, dia juga pasti lelah karena sudah merawat Egi selama ini."


"Baik, kak."


Lisa bernafas lega, setidaknya untuk sesaat. Sebelum Lisa mempersiapkan hatinya melihat reaksi Egi saat tau kebenarannya.


"Ayo, kita pulang. Kamu pasti lapar dan lelah, Dek." Ajak Lisa yang di beri anggukan kepala dari Egi.


Mereka pulang bersama. Rey mengemudikan mobil sambil menatap kasian pada anak lelaki di sampingnya.


Sedangakan Dokter Dika pulang bersama mang Rudi yang masih setia menunggu majikannya.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Mohon dukungannya untuk author dengan like, coment dan vote🤗

__ADS_1


SELAMAT MEMBACA😍😍


__ADS_2