
Seperti dugaan Rendy semalam, Lisa pagi hari sudah cerewet merajuk pada suaminya untuk segera membuatkan bebek panggang.
Di meja makan, Rendy dengan setia mendengar semua ocehan istri kecilnya.
"Mas, kamu engga boleh bohong, ya? rasanya bebek panggan itu udah ada di tenggorakanku." wanita itu menunjukan tenggorakannya sendiri.
"Iya, Sayang. Semalam aku sudah minta Bi Inah belikan daging bebeknya dulu di pasar. Nanti malam pulang kerja aku buatkan untukmu," jawab Rendy.
"Benaran, Mas?"
"Iya, apa sih yang engga buat istri kecilku." Rendy mengurai senyuman manisnya.
"Nah, sekarang lebih baik kamu sarapan dulu, ya?" bujuk Rendy.
"Baik, Mas." tangan Lisa mulai menyendok lauk, nasi dan sayur.
Namun baru saja satu suapan, rasa mual ingin muntah melanda Lisa. Dia segera berlari ke dapur dan memuntahkan kembali makanan tadi di wastafel.
Rendy, Egi dan Dira yang kaget melihat Lisa berlari langsung menyusulnya, mereka melihat Lisa mengeluarkan semua isi perutnya.
Huek ... Huek ...!
Rendy mendekati istrinya dengan wajah penuh kehawatiran. Ia memijat pelan tengkuk kepala Lisa membantunya agar sedikit lega.
"Sayang, Kamu kenapa?" tanya Rendy.
"Engga tahu, Mas." sahut Lisa.
"Sebaiknya kamu istirahat di kamar saja. Nanti aku akan memanggil dokter ke sini untuk memeriksamu!" perintah Rendy.
Lisa tak menjawab, tubuhnya terasa lemas. Tak ada sisa tenaga yang bisa ia pakai untuk berjalan, Rendy menggendongnya ke kamar.
Dira dan Egi saling melempar pandangan, mereka juga khwatir akan kondisi kakaknya.
"Kak Dira, apa Kak Lisa akan baik-baik saja?" anak lelaki itu sangat mencemaskan kakaknya.
"Iya, Dek. Kak Lisa baik-baik aja kok. Nanti juga akan sembuh!" jawab Dira. " Sebaiknya kita habiskan dulu sarapan kita, kamu mau ikut Kakak ke toko, kan?"
Egi mengangguk, dia tidak ingin menyusahkan Kakaknya saat ini yang tengah sakit. Dalam hatinya seuntai doa terus terucap untuk sang Kakak.
Di kamar Rendy merebahkan istrinya perlahan, ia segera merogoh saku dan mengambil ponsel. Ia tengah mencari nomer seseorang yang bisa membantu istrinya.
"Hallo, Assalamulaikum." suara Dika terdengar di ujung telepon sana.
"Waalaikumsalam, Dik. Gue minta tolong Lo periksa istri gue sekarang!" perintah Rendy dengan penuh kecemasan.
"Kenapa istri, Lo?"
"Engga tau, doi barusan habis muntah-muntah,"
__ADS_1
"Ok! Gue meluncur ke sana." dokter itu memutuskan sambungan teleponnya tanpa mengucap salam saking paniknya.
Rendy membelai lembut pipi istrinya, dia takut terjadi sesuatu pada Lisa. Dalam keheningan, Rey masuk tanpa permisi ke kamar Rendy. Dia juga sama khwatir begitu tahu Lisa sakit dari Dira dan Egi yang sedang sarapan.
"Ren," panggil Rey. " Lisa kenapa, Bro?"
Rendy menoleh ke arah Rey lalu berkata, " Gue engga tau Rey, tadi baru aja makan satu suap dia muntah-muntah."
"Lo udah telepon Dika?"
"Udah! Dia lagi meluncur ke sini," sahut Rendy.
"Syukurlah. Semoga Lisa baik-baik aja." Rey melangkah kakinya ke deket Rendy.
Sementara itu, Dika dan seorang dokter wanita baru saja sampai di rumah Rendy. Ia dan temannya masuk begitu saja, ia dan Rey memang sudah terbiasa hilir mudik di rumah Rendy.
"Loh, Kak Dika di sini," ucap Dira yang baru selesai sarapan.
"Iya, Dek. Gue mau periksa kakak ipar Lo," sahut Dika.
"Oh, iya. Ayo, aku antar! tawar Dira. " Egi, kamu udah beres sarapan. Kita liat kondisi Kakakmu di atas."
mereka berempat menaiki tangga satu per satu menuju kamar Rendy. Dika terlihat sedikit lebih gugup saat berjalan beriringan dengan Dira. Ia berusaha Profesional menyampingkan antara perasaan dan pekerjaan.
"Ren!" Dika mendekat ke arah Rendy yang terus memegang tangan Lisa, sedangkan Lisa yang tengah terbaring lemas mengurai senyum pada Dika.
"Ok, sebaiknya kalian semua keluar dulu! Biar temen gue ini periksa Lisa!" ucap Dika.
Rey, Rendy, Dira dan Egi segera keluar dari kamar, mereka menunggu di depan kamar dengab perasaan harap-harap cemas.
Dokter wanita segera memeriksa Lisa, ia mulai memeriksa tensi darah. Dokter itu berkata, " Apa bulan ini Mba sudah haid?"
"Belum, Dok ..." suara lisa terdengar lemah.
"Baiklah, kita tespeck dulu. Kemungkinan Mba sedang hamil," ujar Dokter itu.
Lisa menurut di papahnya Lisa ke kamar mandi, dokter itu menyuruh Lisa menampung air kencing kemudian ia mulai menyelupkan alat kehamilan di air tersebut.
Selang beberapa menit hasil tes kehamilan itu keluar, Dokter wanita itu pun menanyakan prihal detail tanggal berapa Lisa mendapatkan haid terakhir, untuk menentukan masa kehamilan.
Setelah selesai segala rangkaian pemeriksaan, Dika menyuruh masuk kembali ke empat orang yang tengah menunggu di luar pintu.
"Gimana, Dok? apa istri saya baik-baik saja?" tanya Rendy.
Dokter wanita itu memperlihatkan tespeck pada Rendy seraya berkata, " Alhamdulillah, istri Pak Rendy tengah mengandung buah cinta kalian."
Semua orang yang mendengar saling melempar pandangan, mereka bukan hanya kaget tapi, lebih tepatnya ini sangat mengejutkan.
Rendy masih terdiam semenjak dokter itu mengatakan jika istrinya sedang hamil, dia bukan tak menerima tapi, dia bingung harus berekspresi seperti apa saking senangnya.
__ADS_1
"Emak ... Rey bakal punya ponakan nih!" teriakan Rey menyadarkan Rendy dari lamunannya.
"Jadi, istri saya hamil, Dok!" seru Rendy.
"Iya, Mas.".
Rendy menatap ke arah Rey lalu berkata, " Rey, gue bakal jadii ayah, Bro!"
"Ya, Bro. Selamat ya!" sahut Rendy.
"Dik, gue calon ayah!" ulang Rendy dengan antusias pada Dika.
Dokter wanita ini ingin tertawa melihat Rendy seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen.
"Selamat ya, Bro!" Dika menepuk bahu Rendy.
Dira dan Egi sama berbahagianya dengan Rendy, Dira bahkan memeluk Egi begitu tau kakak iparnya tengah berbadan dua.
"Karena usia kehamilannya baru masuk lima minggu, sebaiknya Mba nya banyak istirahat! Jangan terlalu kecapean, makanan harus di jaga karena trimester pertama itu sangat rentan keguguran, " terang Dokter wanita itu.
"Baik, Dok," sahut Lisa.
"Kalau begitu, saya pamit pulang duluan. Masih ada pasien di rumah sakit yang menunggu," pamit Dokter itu.
"Silahkan! Terima kasih atas bantuannya, Dok," sahut Rendy.
"Ayo, aku antar sampai ke depan," tawar Dika pada teman dokter wanita.
Dika dan Dokter wanita itu berlalu meninggalkan kamar, sedangkan Rendy segera mendekati istrinya. Hatinya hari ini tengah berbunga-bunga, anak yang mereka nantikan akan segera hadir di tengah-tengah mereka.
"Sayang, terimakasih!" lelaki itu mengecup singkat kening istrinya.
"Terima kasih untuk apa, Mas ...," lirih Lisa.
"Terima kasih karena sudah memberikanku kejutan spesial ini,"
Lisa tersenyum bahagia, dia akan segera menikmati masa-masa kehamilan. Lisa tahu semua tak akan mudah, akan tetapi ia yakin mampu menjaga kandungannya sampai waktu melahirkan nanti.
...****************...
BERSAMBUNG`~~~
Seperti janji Author kemarin, Author mau memperkenalkan karya baru
Mohon dukungannya, jangan lupa Author tunggu kehadirannya di karya terbaru Author.
Jangan lupa tinggakan jejak, Say. Dengan cara Like, coment dan vote. Biar Author tahu kalian mampir🤗
__ADS_1