
Di lain tempat, Dira yang baru saja selesai mendaftar kuliah di salah satu universitas di kota ini, hendak berjalan-jalan dulu sebelum pulang.
Mobil yang dibawa Mang Asep melaju membelah jalanan. Ia memang tidak punya teman di sini selain Lisa dan Mona. Sayangnya kedua Kakaknya itu sedang tidak bisa diajak keluar.
Selang dua menit, ponsel di tas Dira berdering mengusik duduk tenangnya. Ia segera merogoh tas, lalu mengambil benda persegi panjang itu.
"Kak Rendy," gumam Dira.
Ia segera menekan tombol telepon berwarna hijau, lalu berkata, "Assalamulaikum."
"Waalaikumsalam." Suara lelaki yang sudah lama tidak bertemu itu terdengar sedikit panik di telinga Dira.
"Dir, kamu lagi sama Kak Lisa engga?" sambung Rendy.
"Engga, Kak. Dira baru pulang dari kampus baru," ungkap Dira. "Memang kenapa?"
"Dari tadi Kakak telepon Lisa, tapi dia engga angkat sekalipun panggilan dari Kakak!" ucap Rendy.
"Mungkin lagi banyak pelanggan, Kak," balas Dira.
"Biasanya juga cukup dua kali Kakak hubungi, Lisa langsung hubungi balik. Tapi, sekarang sama sekali engga! Kalau kamu mau, Kakak mau minta tolong," pinta Rendy.
"Tolong apa, Kak?" tanya Dira.
"Kamu ke toko, cek keadaan Kakakmu. Entah kenapa hati Kak Rendy agak cemas. Kakak engga bisa lama-lama, batrai handphone Kakak sudah mau habis,"
"Baiklah. Dira ke toko sekarang,"
"Terima kasih ya, Dek. Kaka tutup dulu teleponnya, Kaka masih ada pertemuan sama klien. Assalamualaikum." Bunyi tut terdengar bersamaan dengan hilangnya suara Rendy.
Dira mencari kontak telepon Kaka Iparnya. Ia mencoba menghubungi Lisa terlebih dahulu. Mungkin saja saat Rendy menelpon Lisa sedang sibuk-sibuknya.
Sudah ke empat kali, tetapi Lisa juga sama sekali tidak mengangkat telepon darinya. Dira mulai sedikit cemas. Mungkinkah terjadi sesuatu pada Kaka Iparnya itu.
"Ini aneh, biasanya Kak Lisa engga kaya gini," gumam Dira.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia akhirnya menyuruh Mang Asep memutar balik mobilnya ke arah toko Lisa.
__ADS_1
Jalanan mendadak sangat macet. Mobil yang dikendarai Dira terjebak di dalamnya. Mau tak mau ia harus menunggu sampai jalanan normal kembali.
"Mang, ada apa ya? kok macetnya parah banget!" tanya Dira.
"Engga tahu, Neng. Mungkin karena jam pulang kerja, jadi macet." Mang Asep masih setia dengan tangan di atas kemudi. Sesekali ia kepalanya menengok keluar lewat jendela mobil.
"Bener sih. Ini sudah sore, waktunya orang-orang pulang. Tapi 'kok hatiku, jadi engga enak gini, ya!" tutur Dira.
"Semoga aja engga terjadi sesuatu sama Neng Lisa," sela Mang Asep.
Dira sedikit mengangguk, pertanda mengiyakan perkataan Mang Asep. Ia mencoba berpikiran positif. Semoga Allah menjaga Kaka Iparnya dari segala hal yang membahayakan.
Setengah jam berlalu, setelah menunggu dengan hati cemas. Akhinya jalanan mulai lancar kembali. Mang Asep menancap gas, agar mobil ini bisa segera membawa mereka ke tempat tujuan.
Selama di perjalanan, Dira masih coba menghubungi Lisa. Ia berharap ada satu panggilannya yang diangkat oleh Kaka Iparnya. Namun, lagi-lagi rasa cemas itu memupuk di hati. Lisa sama sekali tidak menjawab panggilang dari Dira. Bahkan saat Dira menghubungi untuk yang terkakhir. Nomer ponsel Lisa tidak bisa dihubungi.
"Ada apa sebenarnya ini?" gumam Dira.
"Mang, bisa kencangan dikit engga? aku takut Kak Lisa dalam bahaya! lanjut Dira pada Mang Asep.
"Iya, Neng," jawab Mang Asep.
Setelah melewati perjalanan yang cukup menegangkan. Sampailah mereka di toko bunga milik Lisa. Dira segera keluar mobil, diikuti Mang Asep dari belakang.
Tidak ada yang aneh dari toko ini. Hanya saja sedikit sepi, mungkin karena hari sudah sore. Dira dan Mang Asep melangkah masuk ke dalam toko. Mereka mencoba mencari Lisa.
"Assalamulaikum, Kak Lisa!" teriak Dira.
Tidak ada sahutan apa pun dari pemilik nama itu. Dira melangkah kembali hampir mendekati tangga. Matanya menangkap sosok yang ia cari namun, alangkah kagetnya Dira saat menemukan Lisa dalam kondisi seperti itu.
Tubuh Lisa tengkurep dengan sedikit darah keluar dari jalan lahirnya.
"Kak Lisa!" teriak Dira langsung berlari ke arah Lisa. Membalikkan badan Kaka Iparnya yang sudah lemas, karena hampir kehabisan tenaga.
Mang Asep yang juga berada di sana. Segera berlari saat mendengar teriakan anak majikannya. Ia tidak kalah terkejutnya, saat melihat kepala istri tuan mudanya berada di pangkuan Dira. Tubuh itu terkulai lemas tidak berdaya.
"Neng Lisa kenapa, Neng?" tanya Mang Asep yang panik.
__ADS_1
"Tolong panggilkan ambulance, Mang?" pinta Dira dengan air mata yang sudah membanjiri pipi.
"Sepertinya akan lama menunggu Ambulance datang, Neng. Sebaiknya kita bawa langsung saja ke rumah sakit," usul Mang Asep.
"Iya, Mang. Tolong bantu angkat tubuh Kak Lisa ke mobil," ucap Dira.
Mereka berdua menggotong tubuh Lisa keluar toko, untuk di bawa ke dalam mobil. Dira masih terus menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Entah apa yang terjadi pada Kakanya sehingga bisa seperti ini.
"Hiks... hiks... Kak Lisa bertahanlah! Aku mohon bertahanlah!" seru Dira.
Mang Asep baru selesai menutup pintu toko. Ia segera bergegas masuk ke dalam mobil, untuk membawa istri tuan mudanya ke rumah sakit.
"Ya Allah, selamatkanlah Neng Lisa. Dia orang baik, bahkan sangat baik," batin Mang Asep.
Dira terus menyebut nama Kaka Iparnya. Berharap mata yang tertutup itu segera terbuka. Tangannya bergetar, ia teringat akan tubuh Farhan kala itu.
Seuntai doa terus terucap dari mulut gadis cantik itu. Ia berdoa semoga Allah tidak mengambil Kaka Iparnya, seperti Allah mengambil cinta pertamanya.
"Bertahanlah, Kak. Aku mohon...! Demi Kak Rendy dan calon anak Kaka..," lirih Dira.
Mang Asep terus pokus ke jalanan. Ia mempercepat laju kendaraannya. Semoga saja Allah masih memberi keselamatan, untuk istri tuan mudanya.
Selang dua puluh menit berlalu. Akhirnya mereka sampai tepat di pintu depan rumah sakit. Mang Asep bergegas keluar, meminta pertolongan pada perawat di sana.
Tidak berapa lama, beberapa perawat datang ke dekat mobil membawa brankers dorong. Dira yang masih menangis, langsung keluar mobil.
Dua perawat lelaki memboyong tubuh Lisa, lalu merebahkannya di branker dorong. Perawat wanita bertag nama Yuni berkata, "Cepat, bawa pasien ke ruang gawat darurat.
Dua perawat lelaki dan dua perawat wanita segera mendorong branker itu secepat mungkin. Kondisi Lisa yang mengkhawatirkan, membuat mereka harus bertindak cepat.
Dira mengikuti dari belakang. Air matanya sudah beranak pinak. Ia tidak tahu harus bagaimana mengabari Rendy. Sudah dipastikan Rendy akan marah besar saat tahu istri kecilnya terluka seperti ini.
"Ya Allah, tolong selamatkan Kak Lisa. Aku mohon, aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi lagi," batin Dira.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
__ADS_1
Terima kasih atas semua dukungan untuk Aku selama ini. Jangan lupa like, coment dan vote sebanyak-banyaknya😍