Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
120


__ADS_3

Hening bagai dunia di tengah malam. Tidak ada jawaban apa pun dari suaminya. Entah apa yang tengah melanda Rendy di sana. Yang jelas Lisa tidak tahu.


Setelah mengatakan itu. Rendy tidak terdengar bersuara. Ia seakan menutup mulut. Lisa semakin gelisah. Apakah suaminya tidak menyukainya?"


Saat perasaan mulai campur anduk. Tiba-tiba dari ujung telepon sana Rendy berkata, "Aku juga merindukanmu. Aku sangat Rindu sampai aku tidak bisa berkata-kata. Saat kamu mengungkapkan kata Rindu itu terlebih dulu."


Lega rasanya! Hati Lisa terasa plong. Ia hampir berpikir bahwa suaminya tidak menyukai itu.


"Aku...," lirih Lisa.


"Kamu menangis, Sayang?" sela Rendy. Ia mendengar suara Lisa yang sedikit berbeda.


"Ya, Mas. Aku menangis," ungkap Lisa. Mengusap sedikit bulir bening di pelupuk matanya. "Aku menangis karena terlalu merindukanmu."


"Aku sudah takut duluan. Aku pikir terjadi sessuatu denganmu," lontar Rendy.


"Tidak, Mas. Aku baik-baik saja, dan akan baik-baik saja. Aku sudah berjanji padamu, untuk menjaga diriku sendiri selama kamu pergi," balas Lisa.


"Syukurlah. Kamu harus baik-baik saja, karena aku pasti akan gila. Jika, sesuatu yang buruk menerpamu." Terdengar Rendy seperti tengah berjalan.


"Mas, apa kamu sedang sibuk? tanya Lisa.


"Tidak, aku baru saja sampai hotel. Besok baru aku akan bertemu klaen," jawab Rendy.


"Apa semua baik-baik saja?"


"Ya. Memang kenapa, Sayang?"


"Tidak, ha_hanya intonasi bicaramu seperti orang yang tengah memendam kekesalan," tutur Lisa.


Rendy terdiam. Mengapa istrinya sangat hapal apa yang sedang ia rasakan? apa ini yang dinamakan soal ikatan batin? ya, di saat kita tengah merasakan luka, perih, sedih, bahagia, dan kecewa. Pasangan kita pun bisa merasakannya, meski sedang tidak bersama.


"Semua baik-baik saja. Aku hanya lelah!" bantah Rendy. Kebohongan yang ia pikir akan membuat sedikit ketenangan, untuk istrinya.


"Benarkah?" tanya Lisa kembali. Ia ingin memastikan, karena feelingnya sangat kuat akan hal ini.


"Tentu!"

__ADS_1


"Baiklah. Aku percaya kamu akan selalu bisa menghadapi setiap ujian, Mas." Lisa memilih mengalah. Hanya seuntai doa terbaik yang ia panjatkan, untuk mengiringi suaminya di sana.


"Kalau begitu aku tutup dulu, ya, Mas. Tidak enak, Mang Rudy sudah datang menjemput." Matanya menangkap sebuah mobil yang tadi pagi mengantarnya ke toko.


"Baiklah. Hati-hati di jalan. Pastikan aku ada di dalam mimpimu malam ini, Honey. Muuuach...!" Rendy begitu lekat memberikan ciuman jarak jauh lewat ponsel untuk istrinya.


"Iya, Mas. Mas juga hati-hati di sana. Assalamulaikum." Lisa hendak menutup sambungan telepon. Ia merasa malu mendapatkan ciuman seperti itu.


"Tunggu!" seru Rendy dari ujung sana.


"Kamu belum membalas ciumanku," sambung Rendy.


Lisa terdiam. Ia sangat malu saat ini. Sekarang suaminya malah meminta ia membalasanya. Ini sedikit tidak baik untuk jantungnya.


Entah mengapa Lisa masih merasa sedikit gugup. Padahal hanya sebuah ciuman melalui telepon. Bukankah mereka sudah sering melakukan hal lebih dari ini? kalau tidak, mana mungkin Lisa bisa hamil?.


Dengan menutup mata Lisa mengarahkan bibirnya ke telepon, lalu berkata, "Muach... muach...!"


Dengan secepat kilat Lisa langsung menutup sambungan telepon. Bahkan sebelum suaminya berkata kembali. Ia tidak ingin Rendy menertawakannya.


"Aih, ini sangat memalukan," batin Lisa.


"Mang, bisa bantu saya cari pedagang rujak buah?" pinta Lisa.


Mang Rudy yang mendengarnya sedikit tertegun. Bagaimana mendapatkan rujak buah saat hari berganti malam? jarang sekali ia menemukan tukang rujak berdagang di malam hari.


Mang Rudy sekilas melihat wajah majikan perempuan ini. Tersirat jelas Lisa sangat menginginkannya. Mungkin saat ini majikannya itu tengah ngidam. Mau tidak mau, ia harus mencarikannya.


"Baik, Neng. Tapi, sebaiknya Neng tunggu di rumah saja. Biar saya yang mencari. Saya takut Neng Lisa kelelahan yang berdampak lamgsung sama kandungan Neng Lisa," usul Mang Rudy.


Mang Rudy sudah menganggap Lisa seperti anak. Ia dan Bi Inah sangat senang. Saat mendengar majikan perempuannya tengah berbadan dua. Mereka akan segera mendengar tangisan bayi menggema di rumah besar itu.


"Ya, sebaiknya memang seperti itu. Tapi, Mang Rudy tidak keberatan?" tanya Lisa ulang.


"Tidak, Neng. Insyaallah akan Amang carikan," sahut Mang Rudy sambil tersenyum.


"Terima kasih, Mang." Lisa mengurai senyuman. Ia bahagia, meski Mang Rudy, dan Bi Inah tidak ada hubungan darah dengannya. Namun, mereka sangat menjaga Lisa dengan baik.

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo, kita pulang, Mang. Sebentar lagi waktu sholat magrib akan tiba!" ajak Lisa.


Mang Rudy mengangguk. Ia segera melajukaan mobil dengan kecepatan sedang. Ia harus berhati-hati, karena bukan hanya membawa majikan, dan dirinya saja. Melainkan ada nyawa seseorang yang bahkan belum lahir ke dunia.


šŸµšŸµšŸµšŸµšŸµ


Di lain tempat, Rendy yang baru saja selesai bersunda gurau dengan istrinya lewat telepon. Terlihat tersenyum sendiri. Ia tengah menikmati ciuman hangat dari istrinya.


"Jadi, tambah kangen. Pengen banget kabur dari sini. Sabar, Tong empat hari lagi juga bisa masuk kandang," batin Rendy.


Rey yang baru selesai dengan ritual mandinya, terlihat kebingungan melihat Rendy tersenyum sendiri. Ia sempat berpikir hantu penghuni hotel tengah asyik bercanda dengan sahabatnya.


"Eh, Setan Lo masih jam segini udah gentayangan. Mana masuk ke badan bos gue lagi," batin Rey.


Rey berjalan perlahan, lalu menepuk kencang bahu Rendy. Ia berniat menarik Rendy ke dalam dunia nyata kembali. Rendy yang tengah asyik membayangkan istriny seketika kaget bukan main. Ia bahkan sampai loncat dari kasur.


Rey yang melihat sahabatnya meloncat seketika langsung menertawakannya.


"Hahaha." Suara Rey yang puas menggema ke seluruh penjuru kamar hotel. Laki-laki itu bahkan memegang perutnya yang mulai terasa sakit, karena terlalu kencang tertawa.


"Lo ngapain nepuk bahu gue kenceng kayak gitu!" seru Rendy.


"Hahaha. Gue pikir Lo kesambet, Ren. Dari tadi gue perhatiin, Lo senyum-senyum engga jelas," tutur Rey.


"Gue engga lagi kesambet, Bambang!" kesal Rendy. Kembali duduk di atas ranjang dengan tampang kesal.


"Hahaha. Aduh, perut gue sakit banget ngetawain Lo dari tadi. Sumpah, Ren!" Rey memegang perut dengan kedua tangannya.


"Lo, kayak yang engga ada kerjaan aja. Udah bosen kerja sama gue, Lo!" sungut Rendy kesal.


"Ya, engga gitu juga, Ren. Gue takut aja satu kamar sama orang kesambet setan," lontar Rey.


"Yang ada Setannya juga ngacir duluan lihat muka Lo! Kan, Lo sama dia engga ada bedanya. Suka jailin orang" seru Rendy.


"Yaelah, muka ganteng gini disamain sama Setan. Minta dicium tuh mulut pake tangan gue!" kesal Rey.


Rendy melirik sekilas pada Rey sambil berkata, "Engga perlu. Gue udah dapet ciuman dari istri tercinta."

__ADS_1


...****************...


Bersambung~~~


__ADS_2