
Cuaca yang panas hampir sama dengan panasnya hati Zahra saat ini. Ia bukan sedang terbakar cemburu, melainkan api emosi tengah memanggang jiwanya.
Setelah diusir oleh dosennya dari kelas. Gadis itu memilih berdiam diri di kantin. Ia memesan es campur, untuk sedikit memberi kesegaran pada badannya.
"Tuh, Dosen bener-bener. Coba, kalau bukan pamannya Adnan. Udah aku ajak ribut," gumam Zahra.
Gadis ini tumbuh seperti ibunya, Mona. Ia menjadi gadis yang mempunyai keberanian tinggi. Namun, tetap tahu aturan dan porsinya.
Zahra mengaduk-aduk es campurnya. Hatinya yang dongkol belum saja reda. Tiba-tiba tiga serangkai datang. Mereka si kembar, Riko dan Riko, juga Adnan.
Ketiga lelaki tampan itu duduk di bangku Zahra. Riko bertanya. "Mukamu kenapa, Ra? udah kayak setrikaan yang lama engga disentuh aja?"
Zahra melirik ke arah mereka. Melihat ketiga temannya itu membuat hati Zahra sedikit lega. Mereka berempat memang berteman sejak kecil. Namun, Adnan berbeda satu tahun lebih tua dari ketiga temannya.
"Pamanmu 'tuh, Nan!" keluh Zahra.
"Kenapa?" tanya Adnan.
"Masa cewek secantik aku dikeluarkan dari kelas," adu Zahra.
"Kamu telat, ya?" sela Riki.
Zahra melempar pulpen yang sejak tadi ia bawa, lalu berkata, "Udah tahu telat, pake nanya lagi?"
Riki dan Riko tertawa bersama. Mereka memang senang meledak teman wanitanya. Entah mengapa sampai sekarang pun hanya Zahralah, gadis yang berada di samping mereka. Padahal puluhan gadis rela mengantri, untuk sekedar dijadikan teman. Kalau kata Riko. "Zahra itu sasaran yang empuk buat dijadiin bahan ledekan, karena gadis itu engga pernah ambil hati."
"Salahmu sendiri telat. Ya, pasti paman engga nerima kamu di kelasnya," jawab Adnan.
"Yeh, ni anak. Bukannya ngehibur malah ngomong kaya gitu!" ketus Riki.
"Iya, nih. Kamu ada masalah apa 'sih, Nan sama Zahra? perasaan bawaannya kesel banget!" timpal Riko.
Adnan tidak menjawab, ia malah memilih ke arah tukang bakso. Perutnya sudah minta jatah diisi. Entah mengapa wangi kuah bakso membuat cacing di dalam perutnya demo.
Zahra menatap punggung Adnan. Ia juga tidak mengerti dengan sikap lelaki ini. Adnan tidak pernah welcome, tapi ia juga sering membantu dirinya. Zahra jarang sekali berbicara dengan Adnan. Meski mereka berteman dari kecil. Namun, Adnan jarang mengajaknya berbicara banyak.
Meski begitu Adnan masih sering memperhatikan dirinya. Saat Zahra pertama masuk kampus ini. Selama masa orientasi siswa baru, Adnanlah yang banyak membantunya. Entah apa yang ada dipikiran pemuda berwajah tampan itu.
"Ra, kamu mau ikut engga?" tanya Riko.
__ADS_1
"Ke mana?" jawab Zahra singkat.
"Nanti Lusa mama dan papa mau ngadain beberque di rumah. Katanya sih mau ngundang Tante Lisa, Tante Mona, Paman Rey sama Paman Rendy," ungkap Riki.
"Wah, kok aku engga dikasih tahu Mama, ya!" tutur Zahra.
"Mungkin Tante Mona belum ngasih tahu kamu, Ra. Kamu ikut aja, Adnan sama paman Egi juga ikut!" timpal Riko.
"Aih, malas aku kalau ada dosen killer itu!" protes Zahra.
"Tapi killer juga kamu suka 'kan?" sindir Riki.
Adnan baru saja sampai dengan sebuah nampan berisi satu mangkok bakso. Riko yang melihat kenikmatan yang disajikan dari bakso itu, lalu berkata, "Nan, ngomong 'kek kalau mau beli bakso!"
Adnan melirik ke arah Riko sambil berkata, "Kenapa? Lo ngiler?"
"Ya, jelas dong!" tegas Riko. "Gue minta satu dong baksonya!"
Riki segera menampar pelan pipi kembarannya sambil berkata, "Ni anak kebiasaan banget! Lo tuh bukan anak kecil lagi. Sana beli!"
Riko beranjak dari tempat duduknya. Riko berkata, "Dasar Adek engga ada akhlak. Kaka sendiri main tampar aja! KDRT ini namanya."
"Beda cuman tiga menit doang. Pengen dipanggil Kaka!" protes Riki.
Riko yang mendengar itu segera berlalu ke arah sasarannya. Meski begitu Riko tetap menyayangi kembarannya.
Pernah saat SD dulu. Riki pulang sekolahsambil menangis, karena dijahili teman kelasnya. Riko yang saat itu tidak masuk sekolah, karena tengah sakit panas kesal mendengarnya.
Keesokaan harinya, Riko dengan postur tubuh yang sedikit tinggi dari Riki. Ia dengan kekuatan yang dimilikinya, membalas rasa sakit yang dirasakan adiknya. Ia bahkan memukul meski pelan pada orang yang telah membuat kembarannya terluka.
Sementara itu, Adnan melahap dengan rakus bakso yang baru ia pesan. Saat suapan terakhir, tiba-tiba ia tersedak. Zahra yang berada di depannya dengan cepat menyodorkan satu botol air mineral sambil berkata, "Makanya kalau makan jangan cepet-cepet. Kamu kebiasaan dari kecil!"
Adnan menatap lekat pada gadis itu. Ia tidak langsung menerima pemberian Zahra. Bola mata indah milik Zahra bertemu dengan matanya. Ada keteduhaan disetiap pancaran yang Zahra berikan.
"Ini ambil!" sambung Zahra.
Adnan segera menarik dirinya dari dunia khayal. Dengan satu tarikan, air mineral itu berpindah tangan. Adnan segera meneguk hampir setengah isi botol.
"Makasih," cicit Adnan.
__ADS_1
Zahra hanya tersenyum manis. Sedangkan Riki asyik bermain game diponsel milik Riko yang ditinggakan di atas meja.
💮💮💮💮💮💮
Seperti halnya sebuah bola yang terus berputar, jika dimainkan. Waktu pun sama berputar, meski tidak bisa kita kembali ke masa dulu.
Adzan berkumandang di area kampus. Pertanda waktu sholat asyar telah tiba. Egi yang baru saja menghadiri kelas ketiganya segera meluncur ke arah masjid kecil di area kampus.
Egi tumbuh baik oleh asuhan Pak Adrian. Semenjak Dira menikah, dan pindah rumah bersama Dika, suaminya. Egi selalu setia bersama Pak Adrian sampai akhir hayatnya.
Egi bagai sebuah serpihan debu saat Pak Adrian menutup mata, untuk selama-lamanya. Ia bahkan sama hancurnya dengan Rendy dan Dira.
Perkataan terakhir Pak Adrian selalu teringang ditelinganya. Kata Pak Adrian. "Egi, jadilah lelaki hebat yang selalu ingat akan kewajiban kita sebagai muslim. Sholatlah tepat waktu, agar hidupmu tenang. Jika suatu saat menikah, jadikanlah wanitamu ratu. Maka istrimu akan menjadikanmu lebih dari seorang raja." Itulah yang membuat Egi belum menikah.
Ada rasa takut, jika ia tidak bisa menjadikan ratu pada istrinya nanti. Terlebih sifat dirinya yang sedikit tertutup pada orang lain.
Egi baru saja sampai di masjid bersamaan dengan Zahra dan ketiga serangkai. Mata Zahra menatap lekat ke arah pelupuk mata dosennya. Pandangan mereka bertemu. Namun, Egi segera mengalihkannya.
"Paman mau sholat juga? tanya Riki.
"Kalau ke masjid ya, mau sholat, Riki! Masa mau gelar dagangan!" Menyikut pinggang kembarannya.
"Kan cuma basa- basi aja, Bambang!" sungut Riki.
"Paman, belum pulang?" sela Adnan.
"Belum. Masih ada satu kelas yang harus paman hadiri. Ayo, semua segera ambil wudhu, sebentar lagi imam akan segera memulai sholat!" ajak Egi.
"Baik, Paman!" jawab ketiga serangkai.
Zahra hanya diam. Ia masih sedikit kesal melihat wajah lelaki ini, meski begitu rasa sukanya tidak berkurang. Saat yang lain sudah masuk untuk bergantian wudhu.
Egi berjalan melewati Zahra sambil berkata, "Kamu tidak cocok dengan wajah cemberut seperti itu!"
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Jangan lupa like, coment dan vote sebanyak-banyaknya😍
__ADS_1
Terima kasih yang masih setia membaca ceritaku sampai saat ini. Peluk hangat dariku🤗