Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
43


__ADS_3

Hari ini tepat pukul 10 pagi Lisa dan Rendy sudah berangkat ke bandara. Pesawat milik keluarga Wijaya Kusuma sudah siap membawa mereka ke tujuannya.


Di kendarai seorang pilot handal dan terpercaya, Rendy dan Lisa mengawali perjalanan bulan madu mereka.


Lisa yang baru pertama kali dalam hidupnya naik pesawat, merasa sangat gugup. Untung saja Rendy, dengan sigap selalu memegang tangan istrinya agar lebih tenang.


Setelah sedikit lama di dalam pesawat, Lisa bisa sedikit tenang. Dia menikmati keindahaan dari jendela pesawat.


Maha suci Allah menciptakan langit dan bumi, dengan segala isinya. Lisa terus memanjatkan rasa syukurnya, atas semua kebahagian yang dia dapatkan sampai sekarang.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama dan melelahkan. Mereka tiba pukul 7 malam, waktu Tokyo Jepang.


Rendy dan Lisa keluar dari pesawat. sebuah mobil sudah menanti mereka untuk menuju hotel, tempat mereka akan beristirahat.


Rendy masih setia memegang tangan istrinya, dia merasa sangat senang. Dulu saat bersama Kayla, Rendy berjanji akan membawa Kayla ke sini untuk bulan madu.


Tapi, takdir berkata lain. Rencana tinggallah rencana. Rendy harus ikhlas melihat Kayla, pergi menghadap sang pencipta. Sebelum rencana bulan madu itu terjadi.


Sesampainya di salah satu hotel terbesar di tokyo, Rendy dan Lisa di sambut ramah oleh para karyawan di sana.


"Irasshai mase (Selamat datang)." Sapa karyawan hotel dengan ramah.


Rendy hanya tersenyum simpul. Lalu karyawan itu dengan cekatan mengambil koper Rendy dan Lisa, menuntun mereka ke kamar VIP, yang sebelumnya sudah di pesankan Rey, sahabat Rendy.


"Yukkuri yasunde kudasai( selamat beristirahat)." Ucap karyawan itu. sesampainya mereka di depan kamar.


"Arigato gozaimasu ( terimakasih )." Jawab Rendy.


Lisa yang tak mengerti dengan bahasa jepang, cukup mendengarkan saja. Setelah karyawan itu tak terlihat lagi, Lisa memberanikan diri bertanya pada suaminya.


"Mas, karyawan tadi bilang apa?" Lisa penasaran.


Rendy yang tau kalau, istri kecilnya ini tak paham bahasa jepang. Terlintas ide untuk menjaili Lisa.


"Benar, kamu pengen tau? Tanya Rendy.


"Iya, mas."


"Katanya, selamat menikmati malam yang panjang dan bergairah." Ucap Rendy.


"Hah!! Benarkah itu, mas?" Lisa melongo.


Apa orang jepang memang seperti itu dalam menyambut tamu. Lisa akan risih jika tau, maksud ucapan karyawan tadi.


Rendy tertawa melihat ekspresi istri kecilnya. Lisa benar-benar polos. Ada kebahagian sendiri bagi Rendy jika, melihat wajah Lisa yang tampak kebingungan.


"Mas, bohong ya?"


"Hahahah. Maafkan aku, aku benar-benar suka setiap melihat ekspresi wajah kebingunganmu itu." Tawa Rendy pecah, dia tak bisa menahannya.


"Mas, jahat."


Rendy tak menjawab, Dia langsung membuka pintu kamar hotel dan segera masuk. Lisa segera mengikuti langkah kaki suaminya.


Saat pertama masuk kamar, Lisa di suguhkan dengan pemandangan kamar yang sangat cantik. Dari balik jendela kamar, dia bisa melihat keindahan malam kota Tokyo, Jepang.


"MasyaAllah, mas. Ini kita beneran di jepang?" Tanya Lisa kagum.


Rendy mendekat pada istrinya, memeluk Lisa dari belakang. Menyelipkan kepalanya di bahu Lisa.


"Iya, sayang. Kamu suka?" Ucap Rendy.

__ADS_1


"Iya, mas."


"Besok, kita bisa lihat yang lebih indah dari ini."


"Benarkah, mas?"


"Iya jadi, sebaiknya kita tidur dulu. Aku lelah sekali tapi, aku ingin menikmati malam yang panjang dan bergairah." Goda Rendy.


"Sudah, mas. Jangan menggoda aku terus." Lisa malu.


"Malam ini, aku biarkan kamu tidur tapi, jangan harap malam-malam selanjutnya, kamu bisa tidur dengan nyenyak."


Lisa terdiam, suaminya ini selalu saja bisa membuat Lisa merasa terbang melayang. Setiap perlakuan manis Rendy, membuat Lisa serasa menjadi ratu.


"Terimakasih, mas." Ujar Lisa lirih.


"Untuk apa, sayang?"


"Terimakasih untuk semuanya. Untuk cinta dan kasih sayang mas padaku. Untuk segala kejutan indah mas, yang di berikan untukku."


"Aku yang harus berterimakasih padamu, sayang. Kamu menolongku dari kebelengguan masalaluku. Kamu memberi warna indah dalam hidupku. Aku bersyukur, bisa bertemu denganmu."


Rendy membalikkan badan Lisa, di tatapnya wajah istri yang sudah setengah tahun lebih bersamanya.


"Jadi, jangan pernah coba lari dariku. Kamu sudah masuk dalam kehidupanku, aku tak pernah membiarkanmu pergi sekalipun dalam mimpi."


Rendy mencium bibir Lisa singkat. Dia berjanji, akan menjaga titipan yang Alloh berikan untuknya kali ini.


"Ayo, kita tidur. Aku tau kamu lelah." Rendy menuntun istrinya ke arah ranjang dan membaringkan di sampingnya.


Rendy ingin terus seperti ini. Dia berharap Alloh berikan waktu yang panjang kali ini. Waktu untuk bisa menikmati kebersamaan mereka juga, agar Rendy bisa membahagiakan Lisa.


🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Rendy pergi meninggalkan segudang pekerjaan, sampai-sampai Rey merasa kewalahan.


Orang pada honey moon. Lah, gue kencan juga kagak bisa. Nasib-nasib. Gerutu Rey dalam hati.


Baru saja, Rey akan keluar dari kantor. Dia melihat Mona tengah berdiri mengintip ke arah luar.


Rey yang penasaran, segera menghampiri wanita pujaannya itu. Terdengar Mona tengah mendumel sendiri.


"Aduh. Kok dia ada di sini sih, kalau dia liat aku terus, nanya yang aneh-aneh gimana?"


Rey mengikuti arah pandangan Mona, terlihat seorang lelaki muda berpakaian rapih sedang berdiri di depan kantor. Rey mengira lelaki ini orang yang Mona suka.


"Ayo dong cepet pergi sana. Aku engga mungkin keluar sendirian kaya gini, aku udah terlanjur bilang kalau, pacarku juga kerja di sini. Dia pasti nanya siapa orangnya. Emaakk, tolongin Mona dong." Ucap Mona yang belum sadar akan kehadiran Rey.


Rey yang sekarang paham dengan situasinya, mendekatkan dirinya pada Mona. Mulutnya berbisik di telinga Mona.


"Mau saya bantuin engga?"


Mona yang kaget hampir jatuh tersungkur ke bawah untung saja, Rey dengan sigap menahan badan Mona.


Mona segera membalikkan badan ke arah Rey, dia melepaskan tangan Rey dari badannya.


"Kebiasaan banget sih, pak. Kalau dateng suka ngagetin gini." Omel Mona


"Saya sudah dari tadi di sini. Kamu aja yang engga nyadar." Bantah Rey.


Mona sedikit malu, itu artinya Rey mendengar semua ucapan Mona barusan.

__ADS_1


"Berarti, pak Rey..."


"Iya, saya denger semuanya. Makanya, saya menawarkan bantuan." Rey memotong ucapan Mona.


"Bantuan apa, pak?"


"Saya bisa jadi pacar kamu. Biar lelaki itu segera pergi dari sini." Tunjuk Rey pada lelaki yang dari tadi berdiri di luar kantor.


"Tapi.."


"Ya udah, kalau kamu engga mau. Saya juga engga maksa."


"Eh, siapa bilang saya engga mau. Saya mau kok, pak." Ucap Mona.


"Nah gitu dong dari tadi. Jangan kebanyakan mikir nanti kamu gila. Cukup saya aja yang gila karena kamu."


"Mulai deh, gombalnya. Ayo, keburu kemalaman saya pulang." Mona memberanikan diri menggandeng tangan Rey.


Rey tersenyum, dia merasa sangat senang sekalipun cuman seperti ini. Rey dan Mona keluar dari kantor.


Lelaki itu segera menghampiri Mona, begitu Mona keluar dari kantor.


"Mona, aku datang mau jemput kamu." Ucapnya.


"Maaf, kak. Aku mau pulang sama pacarku. Aku kan udah bilang kalau, aku udah punya pacar." Jawab Mona.


Lelaki itu melirik Rey, dia tak percaya dengan yang dia lihat. Rey seperti lelaki kantoran pada umumnya hanya saja, dia terlihat lebih maskulin.


"Kamu bohong kan?" Ucapnya tak percaya.


"Apa anda tidak bisa lihat, kami ini pasangan kekasih. Apa anda tidak punya malu menjemput pacar orang?" Ketus Rey.


"Saya sedang berbicara dengan Mona, bukan dengan anda."


"Saya berhak menjawab karena Mona bukan hanya sekedar pacar, dia adalah calon istri saya. Jadi, sebaiknya anda menjauh dari Mona sebelum saya kasar dengan anda." ucap Rey penuh penekanan.


"Oke, saya pergi sekarang tapi, saya pastikan kalian tidak akan bahagia." lelaki itu menjauh pergi dari Rey dan Mona.


Mona bernafas lega akhirnya, lelaki yang dia hindari sudah pergi. Mona melepaskan gandengan tangannya pada Rey.


"Terimakasih, pak Rey. Kalau engga ada pak Rey, saya pasti sudah diam di kantor semalaman. Makasih ya, udah mau jadi pacar bohongan saya." Mona tersenyum.


"Saya tidak mengatakan jadi pacar bohongan kamu." Jawab Rey.


"Tadi, kan."


"Saya bilang, saya mau jadi pacar kamu bukan pacar bohongan."


"Hah!!"


"Jadi, mulai sekarang. Kamu pacar saya. Eh, bukan lebih tegasnya calon istri saya."


"Engga bisa gitu dong, pak. Saya kan belum nerima pak Rey " kesal Mona.


"Tadi, kamu sendiri yang bilang kalau kamu tidak menolak. Jadilah calon istri yang baik." Rey mengacak rambut indah Mona.


Mona ingin sekali protes tapi, itu tidak akan membantu. Lelaki di hadapannya ini, benar- benar keras kepala. Apa yang Rey harapkan darinya?. Padahal masih banyak wanita yang jauh lebih baik di luaran sana.


...****************...


BERSAMBUNG~~~~

__ADS_1


Mohon dukungannya untuk author dengan like, coment&vote😍😍


SELAMAT MEMBACA🤗🤗🤗


__ADS_2