Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
53


__ADS_3

Rendy dan Lisa masuk ke dalam ruangan mamahnya, sedangkan pak Adrian dan Dira di luar menunggu giliran. Karena, pihak rumah sakit tak mengizinkan lebih dari dua orang masuk ke ruangan pasien.


Terlihat bu Ratna tertidur lelap dengan selang oksigen juga beberapa alat rumah sakit, yang di pakaikan di badannya.


Hati Rendy teriris, menyaksikan sendiri keadaan mamah yang sudah iklas merawatnya dari kecil.


Bayang-bayang almarhum Kayla, hadir dalam pikiran Rendy. Dia takut kehilangan untuk kedua kalinya. Lisa memegang erat tangan suaminya.


Rendy duduk di samping mamahnya, air matanya tumpah tak tertahankan lagi. Sekalipun Rendy lelaki sejati tapi, dia tetaplah manusia yang punya perasaan.


"Mah, ini Rendy. Mamah cepat bangun, Rendy ingin makan masakan mamah. Mamah kenapa harus merahasikannya dari kami semua kalau, selama ini mamah tengah kesakitan." Ucap Rendy.


Lisa mengusap perlahan air mata di pipi suaminya, dia tak tega dengan keadaan Rendy saat ini.


"Mah, Rendy janji akan menuruti semua keinganan mamah. Yang penting mamah harus kuat, mamah harus menang dan kembali berkumpul bersama lagi." Lanjut Rendy.


Lisa mengelus lembut punggung suaminya, dia bisa merasakaan bagaimana hancurnya hati Rendy. Bagaimana melihat orang yang tercinta diam membisu tak berdaya di ranjang rumah sakit.


Lisa sudah pernah merasakaannya dan, kini Lisa harus menyaksikan ibu mertuanya juga seperti Egi dahulu.


"Mas, aku yakin mamah pasti kuat. Sebaiknya kita banyak berdoa, kita pasrahkan semuanya sama Allah." Lisa mencoba menenangkan Rendy.


Rendy menengok ke arah Lisa, wanita ini dengan setia mendampinginya sejak tadi. Bahkan, genggaman tangannya tak pernah dia lepaskan.


"Ya, aku yakin sayang. Mamah pasti bisa melewati ini." Jawab Rendy.


Lisa memberanikan diri memeluk suaminya, setidaknya Lisa ingin menyampaikan kalau semuanya akan baik-baik saja.


Di balik jendela, pak Adrian dan Dira menyaksikan Rendy dan Lisa. Mereka tak kuasa menahan haru dan air mata.


Pak Adrian yang sejak pertama mengetahui istrinya pingsan berusaha tegar tapi, kali ini dia ikut meneteskan air mata. Dia rangkul anak perempuannya, dia berharap istrinya akan segera sadar dan bisa berkumpul kembali.


Rendy dan Lisa baru keluar dari ruangan, terlihat Lisa menggandeng tangan suaminya. Dira dan pak Adrian segera menghampiri.


"Boy, ada sesuatu yang ingin papah berikan untuk kamu." Pak Adrian memulai pembicaraan.


"Apa, pah?"


"Ini, mamahmu sempat menuliskan ini sebelum tak sadarkan diri. Papah menemukannya tergeletak di meja rias mamahmu." Pak Adrian memberikan secarik kertas pada Rendy.

__ADS_1


"Ini apa, pah?" Rendy menerima kertas itu.


"Papah juga tidak tau pasti. Buka dan bacalah saat ada waktu luang. Papah yakin, mamahmu ingin menyampaikan sesuatu lewat surat itu."


"Baik, pah." Rendy menyimpan kertas itu ke saku jasnya.


"Kalau begitu, papah dan Dira masuk dulu ke dalam. Kamu mau menunggu di sini atau pergi ke kantor, Boy?"


"Rendy di sini saja, pah. Rendy ingin menemani mamah." Jawab Rendy.


"Baiklah. Dira, ayo kita masuk?" Ajak pak Adrian pada anak wanitanya.


"Iya, pah." Jawab Dira bergegas mengikuti langkah kaki papahnya.


Rendy duduk di kursi, pikirannya benar-benar kacau. Dia masih teringat jelas ucapan mamahnya dulu saat menyuruhnya menikah kembali.


Apakah ini alasan mamahnya? Karena mamahnya mengidap penyakit serius, Rendy di paksa menikah kembali. Agar saat mamahnya tiada, Rendy sudah memiliki pendamping hidup.


Rendy mengerti sekarang, dia tak tau harus berterimakasih atau marah pada mamahnya. Kenapa harus merahasiakan hal sebesar ini dari dirinya.


Rey berlari sekuat tenaga menuju ruangan bu Ratna. Dia sama seperti Rendy, hatinya takut terjadi hal patal pada ibu sahabatnya itu.


"Ren." Panggil Rey.


Rendy menoleh ke arah suara yang yang memanggil namanya.


"Gimana keadaan tante Ratna sekarang?" Rey terlihat cemas.


"Mamah tak sadarkan diri, Rey. Kemungkin kecil untuk bisa sadar lagi. Kanker yang di derita mamah, sudah menjalar ke seluruh tubuh " Jawab Rendy lesu.


Rey terdiam mendengar ucapan sahabatnya. Dia tak menyangka wanita yang sudah mau menampung dirinya, menyayanginya seperti anak sendiri itu tengah kesakitan.


"Lo yang sabar ya. Gue yakin tante pasti bisa melewati semua ini. Gue berharep Allah kasih keajaiban buat tante Ratna." ucap Rey.


"Aamiin." Cicit Rendy.


Rey ikut duduk di samping sahabatnya ini. Mereka terlihat larut dalam pikiran masing-masing.


Lisa yang melihatnya, hanya bisa duduk terdiam. Sungguh mereka bukan seperti sahabatnya tapi, layaknya saudara yang saling menguatkan.

__ADS_1


Lisa berdiri dari tempat duduknya, dia ingin bersimpuh menghadap sang Ilahi di atas sajadah. Berdoa untuk kesembuhan ibu mertuanya.


"Mas, saya pamit ke masjid dulu." Pamit Lisa.


Rendy hanya mengangguk, saat ini dia tak ingin banyak bicara dengan siapapun. Hatinya sedang tak bisa di ajak kompromi.


Lisa yang paham, segera berlalu meninggalkan mereka. Mencari masjid atau mushola di rumah sakit ini.


Setelah ketemu, Lisa segera mengambil air wudhu. Tetesan air yang mengalir ke bagian -bagian tubuh Lisa saat wudhu, serasa menentramkan jiwa yang sedang kacau.


Lisa bergegas masuk ke dalam mushola, mengambil mukena dan memakainya. Lisa ingin mengerjakan sholat duhha.


Selepas sholat, Lisa menengadahkan kedua tangannya ke atas. Air matanya mengalir begitu saja.


Sekarang dia ingin mengadu pada sang pencipta, memohon keajaiban untuk ibu mertuanya seperti yang Allah berikan pada adiknya, Egi.


"Ya Allah. Hamba bersimpuh di hadapanmu, memohon ampun juga keajaibanmu. Tak ada kekuatan yang dahsyat selain dirimu, Engkau maha penyembuh dari segala penyakit." Lisa menangis


Hatinya bergejolak, ingatan akan masalalunya berputar di pikiran. Betapa sedihnya dia dulu, saat harus merelakan kedua orang tuanya menghadap Ilahi juga, harus berjuang sendiri untuk adiknya yang koma.


Lisa menghela nafas lalu, melanjutkan doanya.


"Ya Allah, hamba tau semua adalah milikmu. Suami, adik, mertua bahkan diri hambapun juga milikmu. Engkau hanya menitipkannya pada hamba. Jika tiba saatnya, engkau pasti akan mengambilnya dari hamba. Tapi, ya Allah. Bolehkah hamba meminta padamu, izinkan hamba lebih lama menikmati waktu dengan ibu mertua hamba. Berilah beliau kesembuhan, agar hamba bisa membahagiakannya. Aamiin." Lisa berdoa dengan khusu.


Tanpa Lisa sadari sepasang mata, sejak tadi mendengar dan melihat dia berdoa. Lelaki itu tak berani masuk, dia tak ingin mengganggu istrinya yang sedang berdoa tulus untuk mamahnya.


Rendy yang tadi menyusul istrinya ke mushola untuk, bisa berdoa bersama. Tapi, malah terdiam mematung di ambang pintu mushola mendengarkan doa istrinya.


Hatinya terharu, betapa beruntungnya dia saat ini. Andai saja Rendy tak bertemu Lisa, mungkin dia tak akan merasakan kebahagian ini dalam hidupnya.


Sungguh Allah maha adil. Memberi kebahagian setelah semua kesedihan Rendy.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Jangan lupa dukung author ya dengan like, coment&vote😍😍


Mampir juga ke karya baru author, di tunggu kehadirannya ya🤗🙏

__ADS_1


SELAMAT MEMBACA🤗🤗


__ADS_2