
Lantunan ayat suci yang keluar dari mulut Egi terdengar merdu. Ia begitu khusu saat membaca kitab suci itu. Hampir setiap habis asyar, jika tidak ada kelas lagi. Egi memilih menghabiskan waktu untuk mengaji.
Ia paham betul akan kewajibannya sebagai muslim. Meski, ia akui. Ia bukanlah muslim yang taat. Buktinya terkadang ia masih lalai dalam menjalankan kewajibannya.
Zahra dan ketiga serangkai baru selesai berdoa. Mereka serentak menoleh ke arah Egi. Rasa kagum akan keistiqomahan sang paman semakin meningkat.
"Nan, paman Egi hebat ya," puji Riki.
"Iya, beliau sering sekali mengaji di masjid ini," timpal Riko.
"Begitulah Paman. Di rumah pun, paman sering menghabiskan waktu di dalam kamarnya. Aku sering mendengar ia bertilawah," ungkap Adnan.
"Tapi Lu 'kok beda ya?" sindir Riko.
"Gue 'kan engga sepabrik sama Paman Egi. Lagian masa gue bilang kalau gue juga mengaji. Itu namanya ria, Bambang!" protes Adnan.
"Si ria engga usah dibawa-bawa, Nan. Kasihan, capek dia pengen bobo!" ledek Riko.
Zahra yang berada di barisan shaf khusus wanita hanya terdiam mendengarkan suara Egi masuk ke dalam hatinya.
Ia hanya bisa memandang punggung dosen sekaligus Paman temannya itu. Setelah puas, ia segera melepas mukena. Zahra memandang penampilannya.
Hatinya sedikit terusik. Bukankah wanita muslimah itu harus menutup aurat? kenapa ia belum berhijab sampai saat ini. Zahra menundukkan kepala. Ada rasa malu, ternyata lantunan ayat suci yang Egi bacakan masuk ke dalam relung jiwanya.
Zahra menyimpan kembali mukena. Ia segera menyusul tiga serangkai yang sudah keluar terlebih dahulu. Hatinya masih berkecambuk dengan rasa malu.
Riko menangkap sesuatu yang tidak biasa dari gadis di dekatnya. Riko bertanya. "Ra, kamu baik-baik saja 'kan?"
Zahra mengangguk pelan, lalu memakai sepatu putihnya. Zahra berkata, "Teman-teman, Aku pulang duluan ya. Mama dan Papa pasti cemas!"
Zahra berlalu meninggalkan ketiga serangkai yang tengah dilanda penasaran. Adnan menatap kepergian teman wanitanya. Ia ingin bertanya. Namun, bingung harus merangkai kata seperti apa.
"Ki, Zahra kenapa?" tanya Riko.
"Mana Gue tahu!" Mengangkat kedua pundaknya.
"Mending kita juga pulang! Udah mau hujan," sela Adnan.
"Bener!" timpal Riko.
Ketiganya bergegas meninggalkan area masjid. Dalam benak Adnan masih bertanya. Bukankah tadi Zahra baik-baik saja, lalu apa yang membuat ia mendadak seperti itu.
"Apa gue chat aja, ya," batin Adnan.
💮💮💮💮💮💮
__ADS_1
Hari telah berganti malam. Egi baru saja akan pulang ke rumah. Dari kejauhan ia melihat seorang gadis tengah duduk terdiam. Gadis itu seperti sedang menunggu seseorang.
"Assalamualaikum," sapa Egi.
Gadis yang memakai gamis berwarna coklat dan jilbab putih itu terperanjat. Ia sekilas melirik Egi, lalu segera mengalihkan pandangannnya.
"Waalaikumsalam," jawabnya.
"Apa kamu sedang menunggu seseorang, Dek?" tanya Egi lembut.
"Iya, Mas. Saya menunggu Kaka saya menjemput." Masih tidak ingin menatap Egi.
"Oh ... kalau begitu, maaf. Boleh sedikit bergesar ke arah kanan. Saya ingin masuk ke dalam mobil," pinta Egi.
Gadis itu nampak menggeserkan badannya ke arah yang Egi pinta. Ia lalu mengangguk sambil mengatupkan kedua tangannya di dada. Ia berkata, "Maaf, Mas."
"Tidak masalah! Kalau begitu, saya permisi dulu!" pamit Egi.
Egi bergegas masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin, kemudian mulai mengendarai mesin beroda empat itu.
Dari kaca jendela, Egi jelas melihat gadis itu tiba-tiba pingsan. Tubuhnya terkulai lemas di parkiran. Egi seketika menghentikan mobilnya, lalu keluar untuk melihat keadaan gadis tadi.
Egi berjalan cepat, lalu berjongkok mencoba membangunkan gadis yang baru ia temui.
"Mba ...," panggil Egi.
Egi memasukkan gadis itu ke dalam mobilnya. Ia berniat membawanya ke rumah sakit terdekat. Dengan hati yang cemas, Egi melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.
Ia takut terjadi sesuatu pada gadis itu. Ia baru melihatnya tadi, akan tetapi ia merasa kasihan. Jika, harus meninggalkannya sendirian.
Setibanya di rumah sakit. Egi segera berlari ke arah UGD sambil berkata, "Tolong, Sus. Teman saya tiba-tiba pingsan."
"Coba tidurkan di sana, Mas!" tunjuk suster pada sebuah ranjang.
Tanpa bertanya lagi Egi segera menuruti perintah suster. Tidak berapa lama seorang Dokter wanita datang dan langsung memeriksanya.
"Apa dia tidak makan seharian ini?" tanya Dokter itu.
"Saya tidak tahu, Dok! Saya bertemu dengannya di parkiran. Dia bilang sedang menunggu Kakanya, lalu saat saya meninggalkannya. Ia sudah tergeletak di pelataran parkiran," ungkap Egi.
"Sepertinya gadis ini sudah menahan rasa laparnya terlalu lama! Kalau begitu, saat sadar nanti. Tolong kasih dia makan terlebih dahulu. Saya akan meresepkan obat untuknya!" Menatap Egi tersenyum.
"Baik, Dok. Terima kasih," kata Egi.
Dokter itu melangkahkan kaki menuju pasien lainnya. Sedangkan Egi masih terdiam. Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel dari tas si gadis.
__ADS_1
Egi mencoba mengambilnya. Mungkin saja yang menelepon adalah Kaka atau keluarganya.
"Assalamualaikum," sapa Egi.
"Rina, Lu di mana!" Terdengar suara lelaki berteriak dari ujungg telepon.
"Maaf, apa Anda keluarga gadis bernama Rina ini?" tanya Egi.
"Lu siapa? si Rina ke mana?" cerocosnya.
"Dia di rumah sakit," jawab Egi singkat.
"Hah, rumah sakit! Ngapain tuh Bocah main ke sana!" kesalnya.
"Tadi saya menemukannya pingsan di area kampus. Ia sempat bilang bahwa ia menunggu Kakanya. Apa Anda Kakanya?" tanya Egi.
"Bukan! Gue Rian, calon suaminya!" tegasnya.
"Oh, kalau begitu. Bisakah Anda ke rumah sakit sekarang? dia masih belum sadarkan diri!" pinta Egi.
"Merepotkan!" Menutup sambungan telepon.
Egi terdiam mendengar kata terakhir yang lelaki itu ucapkan. Namun, ia tidak ingin terlalu memikirkannya. Tidak sengaja ia melihat walpaper layar handphone si gadis.
Terlihat sebuah foto keluarga yang tengah tersenyum bahagia. Ia melihat wajah gadis itu ada diantara mereka.
"Mungkinkah mereka keluarganya," batin Egi.
Egi kembali menaruh benda canggih itu ke dalam tas. Ia hendak berdiri. Namun, suara erangan dari gadis itu menghentikannya.
"Hm ...Saya di mana?" tanya sang gadis.
"Jangan bangun dulu. Kamu baru saja sadar," jawab Egi.
Gadis itu menoleh ke arah Egi, lalu berkata, " Anda 'kan?"
"Iya, saya yang tadi bertemu kamu di parkiran. Maaf, tadi saya sempat menggendong kamu ke dalam mobil. Saya hanya berniat membawa kamu ke rumah sakit saja," jelas Egi.
Gadis itu mengangguk pelan. Ia paham siatuasinya. Jadi, ia tidak bisa menyalahkan Egi sepenuhnya.
"Kamu belum makan 'kan? saya akan ke kantin untuk membelikanmu bubur. Kamu tenang saja, calon suamimu akan segera datang!" kata Egi.
Sontak raut wajah sang gadis terlihat muram. Ia seakan tidak senang dengan perkataan Egi. Namun, ia berusaha tersenyum kecil.
"Terima kasih," cicit gadis itu.
__ADS_1
...****************...
Bersambung~~~~