
Mereka sarapan dengan tenang. Semua makanan terasa nikmat. Egi lahap sekali menyantap ayam goreng kesukaannya. Sampai-sampai dia menghabiskan 2 potong ayam sekaligus.
Lisa senang sekali melihat adiknya, pasalnya dulu mereka tak bisa menikmati makanan mewah seperti ini.
Ayahnya yang hanya seorang buruh harian dengan penghasilan yang tak menentu. Terkadang penghasilan sang ayah hanya cukup untuk membeli seliter beras, seperampat telur dan seikat sayur bayam.
Jika ingin menyantap makanan seperti halnya ayam goreng, mereka harus menunggu sang ayah membawa uang sedikit berlebih dari biasanya.
Miris sekali memang tapi, Lisa tak pernah mengeluh. Setidaknya dia dan adiknya masih bisa makan meski dengan satu telur dadar di bagi dua, tentu di makan beserta nasi agar kenyang.
Andai kedua orang tuanya masih ada, Lisa pasti akan memasakan makanan enak setiap harinya. Hanya saja, allah berkhendak lain. Lisa tak bisa menyiapkan hidangan mewah itu sekarang, mereka sudah tenang di surga sana.
"Kak, Egi bisa masih sekolah kan?" Tanya Egi begitu selesai makan.
Lisa terdiam sejenak, dia hampir lupa tentang pendidikan adiknya ini.
"Tentu, Dek. Kamu harus melanjutkan sekolah mewujudkan cita-cita ayah menjadi seorang dokter." Jawab Lisa.
"Sayang, apa sebaiknya Egi pindah sekolah saja. Emm.. Maksudku aku akan memasukkan Egi ke sekolah Elit di sekitar sini." Rendy ikut dalam pembicaraan mereka.
"Tidak usah, mas. Sekolah Egi yang dulu juga tidak jauh dari sini kok."
"Bukan begitu, aku hanya Egi mendapatkan pendidikan yang terbaik. Aku sudah mengangapnya seperti adikku sendiri."
"Baiklah, kita tanya Egi saja. Egi kamu ingin sekolah di tempat lamamu atau pindah ke sekolah pilihan kak Rendy?" Lisa mencoba mencari solusi.
"Egi ikut kak Rendy saja, kalau memang sekolah pilihan kak Rendy bagus." Jawab Egi tak ingin menyusahkan kakaknya.
"Baiklah. Besok kakak akan mengantarmu dan kak Lisa ke sekolah pilihan kakak. Belajar yang benar dan rajin, kamu ingin menjadi dokter yang hebat kan?" Rendy tersenyum pada adik iparnya.
"Iya, kak. Egi ingin seperti dokter Dika yang merawat Egi."
"Good boy." Rendy mengacungkan jempolnya.
"Nah, Egi kakak hari ini harus pergi ke luar dengan kak Lisa. Kamu di sini saja dengan bi Inah dan mang Rudi. Kalau kamu bosan kamu bisa minta antar mang Rudi ke tempat permainan, mengerti boy?" Lanjut Rendy.
"Siap, kak."
Lisa melirik suaminya, kemana hari ini Rendy akan membawanya. Dia tak membicarakan soal ini tadi di dapur. Apa ini ada hubungannya dengan percakapan suaminya tadi di telepon?.
__ADS_1
Lisa tak ingin berburuk sangka. Dia tak mau menyimpulkan sesuatu terlalu cepat. Setelah membereskan piring kotor. Rendy dan Lisa bersiap untuk pergi.
Selama di perjalanan Lisa hanya diam melihat ke jalanan, dia masih menerka-nerka tempat tujuan suaminya.
"Sayang, kenapa diam terus dari tadi?" Ujar Rendy yang sejak tadi tak melihat pergerakan apapun dari istrinya.
"Eh, anu mas. Aku lagi liatin jalanan." Lisa menjawab dengan senyuman terpaksa.
"Aku pikir kamu tak senang ku bawa pergi keluar?"
"Engga kok, mas."
Tak ada lagi percakapan di antara mereka. Hingga sampailah Mobil yang mereka tumpangi di sebuah panti asuhan.
Lisa mengerutkan keningnya. Untuk apa Rendy membawanya ke panti asuhan? Apa suaminya ini seorang donatur di panti ini?.
Begitu Rendy turun, segerombolan anak-anak menyambutnya dengan hangat. Mereka berebut agar bisa menyalami tangan Rendy.
Lisa hanya berdiri mematung menyaksikan semuanya, Tiba-tiba seorang anak perempuan kecil berlari ke arahnya.
Wajahnya sangat imut, dengan pipi cubby dan gigi ginsul saat tersenyum. Menjadi daya tarik tersendiri dari anak itu.
Lisa bisa menebak kira-kira usianya baru Empat tahun, dia menghampiri Lisa lalu menarik tangan Lisa agar mau berjongkok untuk mensejajarkan dengan tinggi badannya.
"Tante siapa? Kenapa datang bersama om Rendy?" Tanyanya polos.
"Tante temannya om Rendy, sayang." Ucap Lisa membalas senyuman anak itu.
"Kenapa tante Kayla engga ikut kesini?."
Lisa terdiam. Anak itu sepertinya mengenal betul almarhum istri pertama suaminya. Mungkin semasa hidupnya Kayla dan Rendy sering berkunjung ke sini.
"Tante Kayla la..."
"Tante Kayla sudah pergi ke surga, sayang." Rendy menyela ucapan Lisa.
Rendy menghampiri mereka, membawa anak itu ke dalam pelukannya. Ia usap lembut rambut anak wanita itu.
"Tante Kayla sudah tenang di surga. Maafkan tante Kayla, yang tidak sempat mampir ke sini dulu sebelum pergi." Tutur Rendy lembut.
__ADS_1
Lisa menatap tajam suaminya. Kenapa dia menceritakan yang sebenarnya. Bahkan anak ini belum paham apa itu surga dan neraka.
"Hiks..Hiks.. Kenapa tante Kayla pergi ninggalin Nia, Om? Apa di surga sana sangat indah, sampai tante Kayla memilih pergi ke sana daripada tinggal di sini sama Nia?" Pertanyaan itu lolos dari bibir mungilnya.
Lisa baru mengetahui nama anak mungil ini. Lisa sedikit iri pada Kayla. Raganya memang sudah tak ada tapi, kebaikannya terukir jelas hati anak ini.
"Cup...Cup...Jangan nangis lagi dong, sayang. Nanti tante Kayla marah dari sana. Tante Kayla sengaja pergi ke tempat itu terlebih dahulu, untuk menata bunga. Agar saat kita menyusul ke sana, tempat itu akan sangat jauh lebih indah." Jelas Rendy.
"Benarkah, Om?"
"Tentu. Nah, sekarang sebaiknya Nia masuk ke dalam. Om sudah bawakan banyak makanan dan mainan."
"Yeah. Terimakasih, Om." Nia mencium pipi kanan Rendy lalu berlari masuk ke dalam panti.
Rendy berdiri kembali, di tatapnya wajah istrinya. Dia tau apa yang ada di benak sang istri.
"Anak itu namanya Nia, umurnya sekitar Empat tahunan. Orang tuanya sudah meninggal semua. Dua tahun lalu Nia di titipkan di panti ini oleh neneknya, karena beliau yang sudah tua tidak bisa menghidupi sang cucu. Itu pertama kalinya Nia bertemu almarhum istriku dulu." Ujar Rendy sembari menghela nafas.
Lisa bisa melihat jelas ada gurat kesedihan di wajah tampan suaminya. Sepertinya Nia ada tempat tersendiri di hati suaminya.
"Kayla adalah anak panti sini, dia di besarkan dan tinggal di sini. Orang tuanya meninggalkan dia di pintu panti asuhan saat bayi dulu. Kayla merasa iba dengan Nia, sehingga dia menganggapnya sebagai adiknya. Mamah Ratna dulu adalah donatur terbesar di panti asuhan ini, mamah sangat menyukai Kayla yang pekerja keras. Hingga menyuruhku untuk menikahinya dulu." Jelas Rendy tanpa ada yang dia sembunyikan.
Lisa tersenyum kecil. Dia ingin seperti Kayla yang mampu memilki tempat istimewa di setiap hati semua orang. Sanggup menorehkan kebahagian yang tak terlupakan bagi siapa saja yang mengenalnya.
Lisa paham mengapa suaminya dulu sangat menyalahkan dirinya sendiri, saat Kayla meninggal dulu. Ternyata Kayla memiliki cerita istimewa di keluarga Rendy, termasuk bu Ratna mertuanya.
...**************...
BERSAMBUNG~~~
Dukung penulis dengan memberikan
Like
Coment
Vote
Rate 5
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA🤗
DAN MOHON MAAF ALUR CERITA INI MEMANG DI BUAT AGAK SEDIKIT LAMBAT, DENGAN TUJUAN PEMBACA BISA MERESAPI SAMPAI SEAKAN MASUK KE DALAM ISI CERITA.