Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
60


__ADS_3

Seperti janjinya pada Lisa, Rendy hari ini akan membawa istrinya itu ke toko bunga yang sudah dia persiapkan jauh-jauh hari.


Sepulangnya dari pemakaman, mang Rudi tanpa bertanya lagi langsung meluncur ke arah letak dimana toko itu berada karena, sebelumnya sudah di beritahukan terlebih dahulu oleh tuannya.


Lisa masih menggengam erat tangan adiknya. Dia berjanji akan menjaga adiknya sebaik mungkin.


Mobil berhenti sejenak di depan lampu merah, jejeran motor dan mobil memadati jalan kala itu.


Lisa menengok ke arah luar jendela, mata indahnya menangkap sepasang suami istri dengan motor bebeknya tengah menunggu lampu berubah menjadi hijau juga.


Terlihat sang istri menggendong seorang anak wanita berusia satu tahun, tengah tertidur pulas nyaman di pangkuan sang ibu.


Pemandangan itu menyita mata Lisa, tanpa sadar Lisa mengelus perutnya sendiri. Dia pun ingin seperti sang ibu bayi itu.


Merasakan kehadiran sesosok mahluk kecil yang lucu, tentu yang akan meramaikan rumah mewah suaminya.


Sudah hampir menjelang satu tahun pernikahannya tapi, Lisa belum kunjung hamil. Mulai ada perasaan cemas di benaknya. Apakah dia mandul? Atau mungkin Allah yang belum berkenan menitipkannya pada Lisa?.


Lampu berganti dari merah ke hijau, motor bebek yang di tumpangi si ibu bayi itu sudah melesat terlebih dahulu melanjutkan perjalanannya. Begitu pun mobil Lisa, mang Rudi kembali menjalankan mobilnya dengan tenang dan hati-hati.


"Kak, kita mau kemana?" Tanya Egi.


"Kak Rendy menyuruh kakak pergi ke toko bunga?" Jawab Lisa.


"Apa kakak mau membeli bunga lagi?"


"Engga, Dek. Kakak akan berjualan bunga. Kakak sudah engga bekerja tapi, kak Lisa juga bosan kalau harus di rumah sendirian jadi, Kak Rendy membukakan toko bunga untuk kakak." Jelas Lisa.


Egi hanya menggangguk-angguk, dia tak ingin terlalu banyak bertanya pada kakak perempuannya ini.


Setengah jam berlalu, mobil mereka tiba di sebuah ruko bertingkat dua. Terpampang jelas disana nama sebuah toko bunga. Lisa Flowers begitulah kira-kira nama toko tersebut.


Lisa dan Egi segera keluar mobil, di sana sudah menunggu Rendy dan juga Rey yang lima menit lebih dulu tiba di sana.


Lisa berjalan menghampiri sang suami dan sekertaris nya iru. Dia raih tangan suaminya lalu menciumnya begitu sampai di depan Rendy.


Rey menjadi saksi bagaimana Lisa begitu patuh dan menghormati Rendy di setiap keadaan. Rey berharap suatu saat bisa merasakan hal yang sama dari Mona.

__ADS_1


"Mas, sudah lama menunggu?" Tanya Lisa.


"Belum, aku baru saja tiba lima menit yang lalu." Jawab Rendy.


"Syukurlah. Maaf, agak sedikit telat tadi jalanan sedikit macet."


"Aku mengerti, sayang." Rendy mengelus rambut Lisa yang tertutupi jilbab.


"Lis, sebaiknya kita langsung masuk aja ke dalam. Mungkin ada yang ingin kamu koleksi dulu soal tatanan bunganya." Rey berbicara santai dengan Lisa karena, sudah terbiasa apalagi mereka bukan sedang di kantor.


"Iya, kak." Jawab Lisa.


"Ayo, kita masuk." Ajak Rendy pada istrinya.


Rendy, Lisa, Rey dan Egi masuk bersamaan ke dalam ruko. Sebelumnya Lisa menggunting pita terlebih dahulu tanda, toko itu di buka. Lisa meminta suaminya untuk tidak terlalu banyak orang saat peresmian toko bunga miliknya.


Mereka masuk ke dalam toko, ratusan bunga sudah siap menyambut kehadiran sang pemilik. Warna-warni dari berbagai bunga menambah nilai cantik tersendiri untuk toko.


Lisa berdecak kagum penuh syukur, apa yang dia impikan selama ini bisa terwujud. Lisa yang pada dasarnya menyukai semua jenis bunga, pernah bermimpi bisa memiliki toko bunganya sendiri.


"Iya, mas. Mereka semua sangat cantik dan harum. Aku akan betah tinggal di sini." Jawab Lisa, matanya masih terus menjelajahi setiap sudut toko.


"Mari, kita naik ke atas." Ajak Rendy sambil menggenggam tangan istrinya.


Satu persatu anak tangga mereka naiki, lantai atas ini di khususkan untuk ruangan pribadi. Terlihat dari barang-barang yang memenuhi ruangan itu. Terdapat satu tempat tidur, sofa, tv, kulkas dan tak lupa mini kitchen yang di desain khusus untuk Lisa.


Warna yang di pilihpun sangat cantik, pink muda sesuai kesukaan istrinya. Lisa semakin di buat kagum atas semua kejutan indah ini.


"Mas, ini semua untukku?" Lisa memastikan apa benar ini memang di persiapkan khusus untuknya.


"Iya, sayang. Aku meminta Rey untuk membuat sesuai warna kesukaanmu. Ya, meski aku tak tau ini sudah sesuai impianmu apa belum?" Rendy sedikit tersenyum.


"Mas, ini lebih dari mimpiku. Aku bahkan tak pernah berpikir akan memiliki semua ini."


"Ini semua dari allah, aku hanya perantara saja. Nah, mulai sekarang setiap hari tunggulah aku di sini, sampai aku menjemputmu pulang di sore hari." Rendy mengecup singkat kening Lisa.


"Baik, mas."

__ADS_1


"Good girls. Tetaplah jadi wanita penurut kesayanganku." Rendy mencubit sedikit pipi istrinya.


Rey yang ternyata mengikuti mereka ke atas, menyaksikan lagi kemesraan mereka berdua.


Apes amet hidup gue. Tiap hari di suguhin kemesraan mereka mulu, gue kapan atuh. Emaaaaak Rey pengen kawin. Batin Rey.


"Hmm.. Udah belum nih mesraannya, inget masih ada orang noh di bawah." Ucap Rey mengganggu dua sejoli ini.


Rendy melirik kesal ke arah sahabatnya ini. Bocah satu ini selalu saja mengganggu keasyikannya.


"Kalau iri bilang, bos. Makanya tuh mulut cepet ijab qabul, biar bisa mesra-mesraan." Goda Rendy yang kembali tanpa malu memeluk erat istrinya di hadapan Rey.


Lisa hanya tertunduk malu. Dia sudah tidak tau harus bagaimana menyikapi suaminya, yang sering sekali menggoda sahabatnya dengan kemesraan mereka.


"Mulut gue mah udah pengen tapi, noh tanya temen istri lo. Kapan gitu ngasih kepastian gue. Emang gue jemuran, di gantung mulu." Kesal Rey.


Lisa tertawa pelan, dia memang tau watak Mona. Wanita itu sebenarnya juga ingin tapi, rasa mindernya mengalahkan segalanya.


Mona selalu bilang pada Lisa, dia tak sanggup menolak Rey tapi segan juga jika menerimanya. Mental mona belum ke tahap seperti Lisa.


Yang berani mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Yang mau mengorbankan masa mudanya.


"Hahahahaha. Makanya dengerin saran gue waktu itu, engga usah basa basi langsung tancap gas." Rendy tertawa mendengar jawaban Rey.


"Yaelah, Ren. Lo kira gue mobil, maen tancap gas aja. Ya, kalau jalannya lurus. Nah jalan yang gue lalui berliku-liku, naik turun udah kaya mendaki gunung aja gue."


"Udahlah, langsung lamar aja tuh cewek. Keduluan orang nangis bombay lu. Gue kagak mau denger tangisan lebay lo gara-gara, nyali lu ciut." Saran Rendy.


Rey berpikir sejenak. Yang di katakan Rendy benar juga. Untuk apa dia menunggu terlalu lama. Dia tak ingin jadi bujang lapuk karena menunggu kepastian Mona yang tak kunjung dia dapatkan.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


Mohon dukungannya untuk author dengan like, coment dan vote sebanyak-banyaknya🤗🤗


SELAMAT MEMBACA😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2