
Mata cantik itu terbuka, perlahan tapi pasti. Bola matanya berputar, melihat ke seluruh ruangan. Dia tidak mengenalinya. Ini bukan kamarnya, atau pun rumahnya. Lisa mulai sadar. Efek obat itu sudah berakhir, begitu pun dengan kesakitannya.
Rendy yang setia menemaninya, mulai menyadari ada gerakan dari sang istri. Dia segera melihat ke arah Lisa. Mata mereka bertemu, sama persis seperti dulu.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Rendy.
"Mas, aku di mana?"
"Di rumah sakit," jawab Rendy. "apa rasa sakitnya sudah berhenti."
"Alhamdulilah. Aku sudah enakan, tapi__,"
"Dia juga baik-baik saja. Maafkan aku, Sayang,"
"Maaf untuk apa?"
"Maaf, karena mengajakmu ke sana. Mungkin jika kita di rumah, kamu tidak seperti ini," sesal Rendy.
"Tidak, Mas. Semua ini bukan salahmu, atau pun salahku," jawab Lisa." semua sudah takdir Allah. Yang penting semua baik-baik saja."
Rendy memeluk erat tubuh sang istri. Andai kejadian itu sampai merenggut istri keduanya kembali. Akan seperti apa jadinya hidup Rendy.
"Maaf, aku akan berusaha menjagamu meski nyawaku taruhannya. Berjanjilah, kamu akan terus bersamaku sampai tiba saatnya kita pulang ke hadapan Sang Ilahi Rabbi," bisik Rendy.
Deru napas Rendy terdengar jelas di telinga Lisa. Lisa terbuai, bagai ditarik kembali ke alam mimpi. Suara Rendy yang merdu, seperti kicauan burung di pagi hari.
Hari ini menjadi pelajaran untuk mereka. Akan tetapi, hari ini juga mereka menyadari. Kekuatan cinta itu dahsyat. Sat pasangan kita terluka, kita pun merasakannya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Dua minggu berlalu, Lisa sudah keluar rumah sakit. Rendy mulai membatasi kegiatan istrinya. Lisa hanya boleh ke toko bunga, untuk sekadar menghirup udara luar.
Di toko pun, Lisa tidak boleh banyak bergerak. Dia hanya boleh duduk, dan bahkan Rendy melarang Lisa naik ke lantai dua.
Rendy mempekerjakan seorang wanita untuk membantu Lisa di toko. Dia bahkan memberikan tugas pada wanita itu, untuk menjaga dan mengawasi kegiatan istrinya.
Sementara itu, di lain tempat. Farhan tengah berbahagia, hari itu tiba. Hari di mana gadis ingusannya pulang ke tanah air.
Selama Dira di Belanda, diam-diam Farhan menyewa seseorang untuk memantau gadis imutnya.
__ADS_1
Pagi itu, Farhan sudah siap dengan style dirinya sendiri. Dia hanya memakai kaos berlengan pendek, yang di padukan dengan celana joger.
Wajahnya memang tampan, ia bahkan tidak segan-segan untuk mengakuinya sendiri. Baginya, memuji diri sendiri adalah bentuk penghargaan untuk tubuhnya.
Farhan segera menyambar kunci mobil. Dia ingin menjadi orang pertama kali, yang menyambut kepulangan Dira. Dengan hati penuh harap, ia melajukan mobil menuju bandara.
Selama dalam perjalanan, Farhan terus membayangkan wajah imut bocah ingusannya. Wajah yang selalu cemberut saat Farhan memaksa dirinya untuk ikut. Namun, Farhan malah sangat tertarik dengan wajah itu.
Farhan tidak menyangka, hatinya berlabuh di satu gadis yang dia ketahui adik musuhnya dulu. Bukankah cinta itu buta? itu yang ada dalam pikiran Farhan. Kita tidak bisa menghentikan cinta, saat cinta itu yang hadir sendiri pada kita.
dua puluh menit berlalu, mobil Farhan terparkir tepat di halaman bandara. Ia bergegas keluar, untuk menyambut sang pujaan hati.
Langkah kaki Farhan berjalan sangat cepat. Ia seakan di kejar oleh waktu. Rindu yang sudah tertanam di hatinya, tidak bisa menunggu lagi.
Setibanya di dalam bandara. Mata Farhan menangkap seseorang yang ia rindukan. Farhan berhamburan lari menuju orang itu. Entah mengapa, ia sangat senang bahkan melibihi senangnya saat mendapatkan undian.
Dengan satu tangkapan, tubuh gadis itu di peluknya dari belakang. Harum tubuhnya sangat wangi, rambutnya juga lembut dan segar.
Farhan menikmati momen ini. Hatinya semakin tidak sabar untuk segera meminang Dira menjadi istri. Seketika ada perlawanan kecil dari gadis itu, ia meronta meminta Farhan melepaskannya.
"Tolong lepasin" ucap gadis itu.
Farhan mengerutkan kening. Kenapa suara Dira berbeda? mungkinkah Dira sedang bermain tebak-tebakan suara dengannya. Hingga satu teriakan mampu menyeret Farhan ke dalam kenyataan.
Farhan segera melepaskan pelukannya. Ia segera menoleh ke sumber suara. Terlihat Dira tengah berdiri sedikit jauh dari dirinya. Farhan mengucek mata, mencoba meyakinkan jika penglihatannya tidak buram.
Farhan menyadari sesuatu. Itu memang Dira, lalu siapa gadis yang ia peluk sedari tadi. Dia tidak mungkin salah memeluk orang bukan? Farhan sudah memastikan bentuk tubuh belakang gadis itu sama persis dengan Dira.
"Aduh, gue salah orang kayaknya," batin Farhan.
Tuk...!
Suara sepatu itu mendarat tepat di kepala belakang Farhan. Gadis itu terlihat marah. Farhan memberanikan diri membalikkan badan ke arah gadis tersebut.
"Hei, Mas. Kalau mau peluk tuh liat-liat! ucap gadis itu, " Mas, pikir saya guling main peluk sembarangan aja."
"Maaf, Mbak. Saya pikir Mbak pacar saya. Habis__,"
"Habis apa? dasar cowok jaman sekarang, matanya udah kaya kucing. Ada ikan asin langsung main santap aja," potong gadis itu.
__ADS_1
"Lah, berati Mbak ikan asinnya dong, kalau saya kucing," ujar Farhan.
"Eh, udah salah bukannya minta maaf yang bener, malah ngatain saya ikan asin segala!"
"Saya engga ngatain, Mbak! Kan, Mbaknya sendiri yang bilang. Kucing kalau ketemu ikan asin main santap aja. Itu berarti__,"
"Udah, ah. Terserah Masnya aja. Saya permisi," pamit gadis itu.
Dira yang menyaksikan itu tidak sanggup menahan tawanya. Bagaimana bisa Farhan salah memeluk orang. Apa pengliatan matanya sudah berkurang?.
"Parah ni orang. Untung bukan aku yang di peluk, kalau sampai iya. Udah aku bejek-bejek kaya perkedel," batin Dira.
Dengan muka ditekuk, Farhan menghampiri Dira yang tengah asyik menertawakannya. Dia bahkan mengutuk matanya yang salah menangkap seseorang.
"Ha ha ha. Aduh, perutku sampai sakit," keluh Dira.
"Lo ngetawain gue, Bocah ingusan!" seru Farhan.
"Engga. Aku tertawa karena melihat tingkah lucu kedua anak itu." Jari tangan kanan Dira menunjuk ke arah sepasang bocah yang tengah asyik berlarian sambil tertawa.
"Apanya yang lucu? mereka cuman Bocah ingusan sepertimu, tidak ada bedanya!"
"Ya, bedalah. Aku ini bukan bocah, tinggi badan mereka saja hanya sepahaku. Bagaimana bisa Kakak tua mengatakan aku sama dengan mereka!" protes Dira.
"Ha ha ha. Lo ini memang lebih tinggi dari mereka, tapi pemikirannya sama aja,"
"Tahulah, menyebalkan! kesal Dira. " terus ngapaian Kakak tua pagi-pagi udah ada di sini?"
Farhan sedikit mendekatkan tubuhnya pada Dira. Pandangan mereka bertemu, bola mata indah milik Dira mampu menghipnotis Farhan.
"Gue mau jemput Bocah ingusan yang selama dua minggu, udah bikin hati gue berdebar nunggu kepastian," bisik Farhan.
Dira mematung di tempatnya. Suara serak dan berat milik Farhan memenuhi gendang telinga miliknya. Ada debaran yang tidak biasa, yang Dira rasakan saat ini. Dia tidak tahu apa ini, yang jelas saat ini hati Dira tengah bahagia.
...****************...
Bersambung~~~
Yang penasaran, kira-kira siapa, ya. Yang bakal Dira pilih🙈 terus pantengin karyaku, ya.
__ADS_1
Jangan lupa like, coment dan Vote.
Selamat membaca😍😍