
Rey sudah sering melihat kemesraan dua insan ini. Membuat hatinya semakin tidak sabar menunggu waktu pernikahannya.
"Ngapain Lo pagi-pagi ke rumah orang?" tanya Rendy.
"Gue habis jalan pagi. Eh, tiba-tiba kelaperan," sahut Rey jujur.
"Terus ngapain malah ke rumah gue?"
"Kalau boleh sih mau numpang sarapan. He he he." Rey tersenyum memperlihatkan deratab giginya yang putih kinclong.
"Lo kayak orang kekurangan. Sarapan aja numpang di rumah orang!" ledek Rendy.
"Gue emang orang kekurangan, Bro," sahut Rey. " kekurangan kasih sayang maksudnya. Miris banget hidup gue."
"Ha ha ha." Rendy tertawa puas mendengar pengakuan sahabatnya.
Tidak berapa lama Lisa datang membawa dua piring nasi goreng. Ia meletakan di meja satu per satu piring nasi goreng ke hadapan dua laki-laki itu.
"Kamu tau aja, Lis. Aku laper banget, kangen masakanmu," ucap Rey yang tanpa ragu segera mengambil sendok, lalu menyantap makanannya.
"Silahkan dimakan, Kak Rey," jawab Lisa.
"Sayang, kamu jangan terlalu perhatian sama dia. Aku cemburu! tegur Rendy dengan sedikit tertawa.
"Yaelah, Ren Lo gitu aja cemburu. Gimana kalau dulu gue embat bini Lo. Bisa-bisa gue digantung di pohon toge,"
"Mana bisa ngegantung orang di pohon toge. Ngaco emang ni anak,"
"Sudahlah, Mas. Engga baik berdebat di tempat makan," tegur Lisa pada suaminya.
"Dia duluan yang mulai, Sayang," jawab Rendy.
"Kamu juga, masa sama sahabat sendiri aja cemburu. Kamu ini ada-ada aja, Mas!" ucap Lisa.
"Dia mah, Lis. Boro-boro sama sahabatnya, kamu di gondol kucing juga. Bisa-bisa tuh kucing tinggal nama. Ha ha ha," timpal Rey.
"Sialan, Lo! Udah cepet makan, habis itu pulang!" usir Rendy.
"Kejam amet, Bro! Gue hengkang dari perusahaan, bisa-bisa Lo nangis bombay!" ancam Rey.
"Ya, kalau Lo berani mah hengkang. Palingan entar dapet bosnya yang pelit. Mana ada perusahaan gaji asistennya sebanyak gue," tantang Rendy.
"He he he. Kalau itu mah gue kalah. Lo emang Bos paling loyal deh, tapi sayang__," laki-laki tidak melanjutkan ucapannya.
"Sayang kenapa, Kak?" timpal Lisa.
"Orangnya ngeselin. Ha ha ha," jawab Rey.
Tuk...!
__ADS_1
Seketika satu ciuman dari sendok berhasil mendarat di kening Rey.
"Aw... gila Lo, Ren. Kalau gue geger otak gimana!" seru Rey.
"Mana ada ceritanya orang cuman kena pukul sendok langsung geger otak!" protes Rendy.
"Ya, kan kita engga tahu ke depannya," ucap Rey.
Lisa menggelangkan kepala. Kedua laki-laki ini tidak ada habisnya berdebat.
"Kalau kalian engga berhenti bicara. Aku engga mau masak lagi!" ancam Lisa.
"Jangan dong, Sayang. Kalau kamu engga masak aku kelaparan," rayu Rendy.
"Kan, masih ada bi Inah yang mau masakin!" ketus Lisa.
"Masakan Bi Inah engga seenak masakanmu. Benaran aku engga bohong!"
Rey melirik pada Rendy yang tengah merayu istrinya. Seketika ia membayangkan saat nanti sudah menikah dengan Mona. Apa dirinya juga akan berubah menjadi lemah saat di hadapan istri?.
"Ya sudah, cepat makan. Nanti nasi gorengnya keburu dingin." Lisa duduk di samping Rendy.
"Aaa...," mulut Rendy terbuka lebar.
"Loh, suruh makan kok malah kaya gitu, Mas!" tegur Lisa.
"Suapin dong, Sayang," rengek Rendy.
"Aku lebih dari sekadar anak kecil kalau bersamamu,"
"Hadeh, rayuan mautnya keluar sarang!" sindir Rey yang sejak tadi mendengarkan mereka berdua.
"Berisik, Lo ganggu aja!" kesal Rendy.
Lisa menyerah. Ia segera mengambil sendok dan mulai menyuapi bayi besarnya.
"Makan yang banyak, ya, Nak," ledek Lisa begitu suapan pertama sudah masuk mulut suaminya.
Rey menahan tawa. Ia seakan tengah menonton sinetron ketika melihat kelakuan pasangan serasi ini.
Isi piring milik Rendy sudah habis tidak tersisa. Lisa saja sampai lupa mengisi perutnya.
"Sudah habis, Mas," tutur Lisa memperlihat piring kosong pada suaminya.
"Sini, mana makananmu!" pinta Rendy.
"Ya Allah. Mas, masih belum kenyang juga,"
"Aku sudah kenyang, kok,"
__ADS_1
"Terus kenapa masih minta makananku!" Lisa cemberut. Ia bahkan membanting pelan sendok yang sejak tadi dipegangnya.
"Cup..cup..jangan ngambek dong, Sayang. Aku tuh cuman mau nyuapin kamu aja," jelas Rendy.
"Aku kesal tahu! Padahal aku lapar banget, tapi karena Mas minta suapin. Aku ngalah engga makan dulu!
"Maafin aku, ya. Aku engga lagi-lagi deh minta suapin kalau kamu belum makan," ucap Rendy.
Lisa masih memajang wajah cemberut. Selera makannya sudah hilang. Ia segera meraih air minum di gelas, lalu menghabiskannya sekaligus.
"Aku mau ke kamar aja, Mas," ucap Lisa. " Mas, jangan menyusul aku ke kamar. Aku lagi engga mau ketemu Mas dulu!
Lisa beranjak dari tempat duduk, kemudian melangkah cepat menuju lantai dua. Entah kenapa sejak hamil, ia menjadi mudah menangis. Hal sepela sekalipun bisa membuat dirinya tiba-tiba tidak selera makan.
Rendy menatap punggung istri kecilnya yang mulai menjauh. Ia melirik ke arah Rey sambil berkata, " Lo bukannya bantuin, malah diem aja. Gue potong juga tuh gaji bulan depan.
Uhuk..uhuk..!
Rey tersedak mendengar ancaman bosnya. Mereka yang bertengkar kenapa harus ia yang kehilangan gaji.
"Yaelah, Ren Lo malah ngelibatin gue. Gue engga mau ikut campur urusan rumah tangga orang. Apalagi suruh ngadepin ibu hamil. Angkat tangan gue," jawab Rey.
"Gue sumpahin Lo biar ngerasain kaya gue habis nikah nanti!
"Gue sama Mona engga mungkin kaya gitu. Kita, kan pasangan somplak. Ha ha ha,"
Rendy memilih diam. Ia ingin menyusul ke kamar, akan tetapi istrinya sudah melarang duluan. Akhirnya ia hanya bisa duduk sambil menunggu mood sang istri membaik, meski itu entah kapan.
Sementara itu Lisa tengah duduk di tepi ranjang. Ia masih kesal dengan suaminya. Dengan satu tangan ia raih ponsel dari atas meja kecil.
Lisa memilih memanjakan mata dengan berselancar di dunia maya. Dibukanya aplikasi instagram, untuk sekadar mengusir rasa kesal.
Tiba-tiba perutnya berbunyi. Rasa lapar itu menerjang meminta Lisa menghentikannya. Ia terdiam, haruskah ia ke bawah dan mengisi perut. Namun ia juga masih tidak ingin melihat wajah Rendy.
Perlahan Lisa keluar kamar. Ia tidak mungkin membiarkan dirinya kelaparan terlalu lama. Ada bayi yang harus ia beri nutrisi.
Sebelum masuk dapur Lisa mengamati sekeliling. Jaga-jaga jika suaminya memergoki dirinya yang tengah mengendap-endap layaknya pencuri.
"Aman," gumam Lisa.
Lisa hendak meneruskan langkahnya, akan tetapi seseorang menepuk bahunya sambil berbisik, " Aman kenapa, Sayang?"
Lisa terperanjat, menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangan. Rendy segera membalikkan badan Lisa lalu berkata, " Kamu lagi ngapain jalan mengendap-ngendap seperti pencuri, Sayang?"
Lisa memberanikan menatap suaminya meski sedikit malu karena ketahuan.
"Aku lapar, Mas." Lisa mengigit bibir bawahnya sambil tersipu malu.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG~~~
Jempolnya digoyang dong, Say😘