Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
Extra part 9


__ADS_3

Setiap pasangan pasti mendambakan kehadiran buah hati dalam pernikahannya. Karena salah satu fungsi menikah adalah untuk memiliki keturunan.


€€€€€€€€€€


Sejak ucapan Zahra waktu itu. Keduanya terus gencar berikhtiar untuk memiliki anak. Perlahan sipat Zahra pun mulai sedikit dewasa. Ia mulai memikirkan masa depan bersama calon anak dan suaminya kelak.


Hari ini tepat dua bulan setelah Zahra memantapkan dirinya untuk tak lagi mengkonsumsi pil penunda kehamilan. Zahra dan Egi sedang sarapan bersama di rumah mereka. Aroma khas nasi goreng buatan chef Egi menusuk hidung, membangkitkan selera makan di pagi ini.


"Nah, ini spesial untukmu." Egi memberikan satu piring nasi goreng lengkap.


"Terima kasih, Mas. Kenapa kamu harus repot-repot padahal ini adalah tugasku," cakap Zahra.


Egi mendudukan istrinya di kursi, menyendok satu suap nasi, lalu menyuapi Zahra. Egi berkata, "Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan. Bukankah pekerjaan rumah tanggung jawabku juga?"


Nasi baru saja dikunyah Zahra. Namun, mendadak rasa hambar datang. Seketika Zahra berdiri, berjalan ke wastapel dan memuntahkannya kembali. Lidahnya mati rasa, akhir-akhir ini semua makanan terasa tak enak.


Egi terperanjat, ia segera menyusul Zahra. Membantu sang istri memijat leher belakang istrinya agar sedikit reda.


"Apa kamu sakit, Sayang?"


Zahra berkumur, lalu berjalan dan mengambil tisu dan mengelap bibirnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Zahra merasa kondisinya sedikit drop. Terlebih rasa mual itu sudah ia rasakan dua hari ini.


"Mungkin masuk angin, Mas," jawab Egi.


"Kalau begitu, kamu istirahat di rumah saja. Tidak perlu ke kampus hari ini."


"Tidak bisa, Mas. Hari ini ada tugas yang harus segera aku selesaikan. Aku minum obat saja, insya Allah sakitnya segera sembuh."


"Baiklah! Tapi, ingat. Jangan memaksakan diri." Egi mengecup singkat kening istrinya.


"Insya Allah, Mas."


Pada akhirnya Zahra hanya memakan setengah potong roti tanpa selai dan setengah susu hangat. Itu pun ia sedikit kesulitan, karena rasa mual itu terus datang menyerang.


Sarapan selesai. Keduanya segera berangkat ke kampus bersama. Selama di perjalanan Zahra hanya diam memandangi luar dari jendela. Pikirannya berkelana mengingat keegoisannya selama menikah dengan Egi. Beruntung suaminya memiliki tingkat sabar dengan level tinggi. Andaikan tidak, sudah dipastikan rumah tangganya diambang kehancuran.

__ADS_1


Mobil berhenti, kemacetan mulai terjadi. Tak dipungkiri pagi hari adalah waktu semua orang memulai aktivitas. Hampir semua pengguna kendaraan, baik itu roda dua ataupun roda empat tumpah luah meramaikan jalanan.


Dari arah luar kaca mobil dua anak lelaki kecil terlihat mengalunkan lagu sambil memetik gitar kecil. Penampilannya lusuh dan tak terawat. Egi melirik, lalu menurunkan kaca hingga wajah keduanya terlihat jelas.


"Ini." Egi menyodorkan uang lembaran seratus ribu rupiah. "Pulanglah, Nak. Kasihkan pada ibumu, biar beliau senang dan kalian bisa makan bersama."


"Terima kasih, Om." Dua anak itu mengambil uang dengan raut wajah gembira, lalu berjalan ke arah pinggir jalanan sambil berjingkrak kesenangan.


Saat orang lain menghamburkan uang yang berdominasi warna merah tersebut untuk sekadar membeli minuman di cafe. Justru ada segelintir orang yang berusaha menghematnya agar bisa bertahan beberapa hari.


Zahra memperhatikan kegiatan Egi. Ia mengangkat bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman indah. Jalanan mulai normal, mobil kembali berjalan seperti sebelumnya. Tak perlu waktu banyak mereka akhirnya sampai di parkiran kampus.


"Sayang, kalau ada apa-apa hubungi aku, ya," pesan Egi.


"Iya, Mas."


"Ingat, jangan nakal! Kamu milikku." Egi mencubit pelan hidung istrinya. "Kamu tampak 200% lebih cantik akhir-akhir ini."


Zahra tersipu malu, suaminya mulai sering menyerangnya dengan sebuah rayuan maut. Padahal dulu Egi adalah sosok lelaki yang kaku dan irit bicara.


Zahra mengangguk, mengikuti ajakan Egi untuk keluar mobil. Mereka berjalan beriringan tanpa berpegangan tangan. Mereka tahu tempat dan batasan, jika saat di area kampus. Bagaimanapun status keduanya tetap dosen dan mahasiswi.


Tiba-tiba rasa pusing menjalar di kepala Zahra sehingga sedikit membuatnya hilang keseimbangan, beruntung ia tak jatuh. Jadi, tak ada adegan yang seperti ia bayangkan.


"Ada apa denganku?" batin Zahra.


Egi pamit ke ruangannya. Sedangkan Zahra hendak pergi ke kelas. Hari ini dua kelas yang harus ia lewati dan salah satunya adalah kelaa suaminya sendiri.


Tanpa ada teman baik itu duo R dan Amalia. Zahra duduk di bangku pojok menyimak dosen bersuara lantang tersebut menjelaskan materi. Ia tak tahu mengapa ketiga temannya itu kompak tak masuk kuliah. Mungkinkah mereka tengah berunding perihal siapa yang akan menikahi Amalia.


"Mereka tiga serangkai yang sulit dipisahkan," gerutu Zahra.


Kelas pertama selesai, Zahra pergi ke kantin sebelum memulai kelas keduanya. Rasanya ia terus gugup saat harus berhadapan dengan Egi yang berubah menjadi dosen bukan suaminya. Setengah jam berikutnya Zahra berlari menuju kelas kembali. Ia tak ingin merasakan dihukum oleh suami sendiri.


Kini semua mahasiswa dan mahasiswi termasuk Zahra sudah memenuhi kelas. Egi datang, banyak mata wanita yang silau akan kegagahan dan ketampanannya. Tanpa basa basi dosen yang terkenal dingin itu memulai kelas.

__ADS_1


Rasa pusing kembali menyerang kepala Zahra. Saat ini rasanya semakin sakit dan membuat Zahra hilang konsentrasi. Sayup-sayup suara Egi membuat pusingnya semakin menjadi, Zahra berdiri hendak meminta izin ke kamar mandi. Namun, belum sempat berbicara badannya sudah ambruk di atas lantai. Sontak semuanya pamit termasuk Egi.


Dengan cepat Egi berjalan, meraih badan Zahra dan membawanya dalam gendongan. Aksi Egi ini mendapatkan banyak pujian. Adapula yang merasa iri dan ingin menikmati rasanya dalam gendongan sang dosen.


Dengan rasa panik yang menggunung, Egi memboyong Zahra ke parkiran. Ia hendak membawa istrinya ke rumah sakit dibandingkan ke UKS. Baginya Zahra harus mendapatkan perawatan. Ia khawatir terjadi sesuatu yang serius.


Setelah merebahkan Zahra di kursi belakang. Egi segera melajukan mobil, hatinya tak tenang. Pikiran negatif terus mendominasi pikirannya.


"Ya Allah, jaga istriku," gumam Egi.


Tak perlu waktu lama mobil Egi telah sampai di parkiran rumah sakit. Ia segera memboyong tubuh istrinya ke UGD dan para perawat pun segera memeriksa.


"Mas-nya bisa tunggu sebentar di sana," tunjuk perawat pada kursi yang tersedia di luar UGD.


Egi menurut, ia tak ingin menghambat kinerja tenaga medis. Dengan terus melapadzkan bacaan dzikir Egi menunggu dengan kecemasan.


Seorang dokter wanita memeriksa Zahra, memberikan minyak kayu putih di hidung Zahra bertujuan untuk membuatnya sadar. Zahra terbangun, wajahnya pucat. Dengan hati-hati dokter mulai memeriksa sekitar lima belas menit.


Seorang perawat memanggil Egi. Memberitahu bahwa, dokter ingin berjumpa dengannya. Egi mengekor di belakang menuju ranjang di mana istrinya tadi terbaring tak sadarkan diri.


Mata Egi mendapati Zahra sudah sadar, ia mengucap syukur beberapa kali dalam hati.


"Apa bapak suaminya?" tanya dokter wanita tersebut.


"Iya, dok," balas Egi.


"Selamat, Pak atas kehamilan istri anda. Tolong jaga baik-baik dan terus mengontrol asupan makanannya, karena saat ini ada janin yang baru berusia 5 minggu dalam perut istri anda," ungkap dokter itu.


Egi mematung, matanya membulat sempurna. Ada rasa tak percaya, tetapi inilah kenyataannya. Tanpa menunggu jawaban dokter tadi segera menjelaskan kembali, lalu meminta Zahra dan Egi ke poli kandungan. Kemudian dokter dan perawat berlalu menyisakan Egi dan Zahra.


"Mas," panggil Zahra.


Egi menoleh, menatap Zahra dengan wajah berbinar-binar. Ia segera menarik istrinya dalam dekapan, lalu berkata, "Terima kasih, karena sudah memberikan aku kabar terbaik. Allah akhirnya menitipkan pada kita seorang janin yang mulai tumbuh di rahimmu, Sayang."


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG~~~~


__ADS_2