Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
66


__ADS_3

Di sebuah rumah yang megah nan mewah, seorang lelaki tertawa senang saat menerima telepon dari orang kepercayaannya.


"Gue suka kerjaan lo, lo selalu tau apa yang gue mau," ucapnya sembari tertawa.


"lo bisa andelin gue, yang penting bayarannya lancar br," jawab seseorang di sebrang telepon sana.


"Kalau soal itu lo tenang aja, gue engga perhitungan apalagi sama temen sendiri. Gue transfer langsung hari ini."


"Ok..Gue tunggu bro." seseorang di sana menutup sambungan teleponnya.


Lelaki itu menatap tajam pada foto seorang gadis yang baru dia dapatkan dari si penelpon. Tentu saja dengan segala informasinya.


Seminggu yang lalu, lelaki itu tak sengaja bertemu kembali dengan gadis yang pernah menabraknya di sebuah pusat perbelanjaan.


Dia sengaja memfoto wajah sang gadis bertujuan untuk mendapatkan infomasi tentang gadis itu sedalam-dalamnya.


Karena dia merasa pernah mengenal dengan gadis itu, tapi pikirannya tak mau bekerja sama untuk mengingat memori tentang si gadis.


"Gue engga tau kalau lo itu adik saingan gue." Ucapnya sembari tersenyum.


Lelaki muda itu tak lain adalah farhan, teman kuliah Rendy dulu. Dia yang penasaran dengan sosok Dira, si bocah ingusan yang menabraknya.


Pantas saja saat pertama kali bertemu Dira, Farhan sedikit mengenali wajah Dira. Karena dulu dia pernah melihat Rendy beberapa kali membawa Dira ke kampus.


Entah apa tujuan sebenarnya lelaki yang sering bergonta-ganti wanita itu. Ada debaran yang tak biasa di hatinya.


Dia hanya ingin memastikan perasaan ini. Apakah ini cinta pandangan pertama? Atau hanya sebatas kagum semata.


Baginya Dira memang bocah ingusan, usianya terpaut jauh hampir sepuluh tahun. Bagaimana mungkin dia mencintai anak kecil yang menurut pandangannya, sekaligus adik saingannya dulu.


"Gue udah mulai gila kayanya, bisa-bisanya gue sampe mikirin hal sepele kaya gini. Cewek kaya gitu bisa gue dapetin dalam sekejap tapi, kenapa rasanya sama ni bocah gue beda banget," ucap Farhan sambil menyeruput kopinya perlahan.


Farhan baru mendapatkan informasi. Kalau Dira masih berstatus mahasiswi di salah satu kampus ternama di luar negri.


si penelpon itu juga berkata, jika Dira sering pergi ke toko bunga milik istri Rendy yang baru saja buka minggu ini.


Farhan berniat mendatangi bocah ingusan itu hari ini. Ada rasa rindu ingin menatap wajahnya secara langsung.


"Gue harus ketemu dia hari ini juga."


Farhan menyambar kunci mobilnya lalu bergegas keluar rumah untuk bertemu sang gadis.


Dia melajukan kemudi mobil dengan stabil, penampilannya berbeda dari hari biasa. Dia yang sehari-hari memakai setelan jas rapih jika ke kantor. Hari ini Farhan memakai pakaian casual yang nampak pas di badannya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sementara itu, Dira tengah sibuk menata bunga-bunga yang cantik di toko kakak iparnya.


Hari ini Lisa tak bisa ke toko bunga karena ikut bersama suaminya. Jadi, hanya Dira seorang yang berada di sana.

__ADS_1


Tangannya begitu telaten menata bunga satu persatu. Almarhum mamahnya yang juga penyuka bunga sehingga membuat Dira sudah hapal betul cara memperlakukan bunga yang baik.


"Kamu memang cantik. Aku bahkan iri pada kecantikanmu," ucap Dira pada sebuah bunga mawar merah yang cantik dan mekar sempurna.


Dira membawa bunga-bunga itu ke depan toko, menyimpannya dekat dengan bunga lily dan teman-temannya.


"Hari ini belum ada pelanggan datang. Hmmm.. Mungkin karena toko ini baru di buka jadi, belum banyak orang yang tau," ujarnya kembali sembari melangkah masuk ke dalam toko.


Baru saja lima langkah Dira masuk, suara lelaki menghentikannya.


"Permisi. Bisakah saya membeli seikat bunga?" ucap lelaki itu yang terlihat memakai kaca mata hitam.


Dira segera membalikkan badannya, melihat siapakah pelanggan pertamanya hari ini.


"Bisa, Mas," jawab Dira.


Lelaki itu memperhatikan satu persatu bunga yang ada di sana, dia tak tau harus membeli bunga seperti apa.


Karena kedatangannya ke sini hanya untuk melihat si pelayan toko yang sekarang sudah ada di depan matanya.


"Saya ingin bunga yang sangat cantik," pinta lelaki itu yang sudah pasti adalah Farhan.


Dira berpikir sejenak. Bunga apa kira-kira harus dia rekomendasikan.


"Kalau saya boleh tau, untuk siapa mas memberikan bunga ini? Apa untuk pacar atau keluarga?" Dira mencoba bertanya.


"Untuk seorang wanita yang baru saja ingin saya temui hari ini," jawab Farhan jelas.


Farhan menatap Dira dari balik kaca matanya. Apakah bocah ingusan ini tak mengenali suaranya?.


"Baiklah. Buatkan saya satu ikat mawar merah," perintah Farhan.


"Baik, mas," jawab Dira.


Dira segera merangkai beberapa tangkai bunga mawar merah menjadi satu ikat yang cantik.


"Apa ada yang mau mas tulis di ikatan bunga ini?" Tanya Dira.


"Tidak perlu. Saya akan menyampaikannya secara langsung."


"Baiklah."


Dira kemudian segera menyelesaikan buket bunga itu. Tangannya sangat lincah hingga membuat Farhan kagum melihatnya.


"Ini, Mas. Semuanya jadi 100ribu." Ujar Dira sembari memberikan buket bunga pada Farhan.


Farhan merogoh dompet dari dalam sakunya, kemudian mengeluarkan satu lembar uang pecahan seratur ribu.


"Ini. Dan soal bunganya, itu untukmu." Farhan memberikan uang itu ke telapak tangan Dira.

__ADS_1


Dira kaget mendengar ucapan Farhan. Mengapa tiba-tiba ada seorang lelaki yang tak di kenalnya memberi bunga. Siapakah gerangan lelaki ini?


"Untuk saya, Mas." Dira bertanya untuk memperjelas.


"Iya, apa kamu tuli?"


"Bukan begitu. Tapi, maaf saya tidak mengenal mas. Kenapa mas tiba-tiba memberi saya bunga?" Dira kebingungan.


"Kamu sama sekali tak mengenali suaraku, Bocah ingusan?" Kini Farhan memanggil Dira dengan panggilan kesayangannya.


"Bocah ingusan!! Sebentar, aku pernah mendengar seseorang memanggilku seperti itu. Tapi, siapa dan dimana?" Dira terlihat berpikir.


Tiba-tiba Farhan membuka kaca mata yang sedari tadi dia kenakan, betapa terkejutnya Dira. Jika orang yang sedari tadi berbicara lembut dengannya itu, kakak tua yang ia tabrak di mall waktu itu.


"Kakak tua!" Pekik Dira kaget.


"Hei, bisa engga lo jangan panggil gue dengan sebutan itu!" protes Farhan.


Kini cara bicara Farhan seperti biasa lagi. Sama persis yang Dira dengar di mall saat itu.


"Kenapa kakak tua bisa di sini? Atau jangan-jangan kakak tua memata-matai aku, ya?" tebak Dira.


"Seenaknya aja Lo. Gue engga sengaja lewat sini, dan ngeliat lo di toko ini. Gue cuman mau ngerjain lo doang." Farhan berbohong tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya. Bisa jatuh harga dirinya sebagai playboy cap kaki kuda.


"Terus, buat apa ngasih bunga segala? Dasar kakak tua," ejek Dira.


"Ya, dari pada gue ngasih hukuman ke lo karena kesalahan lo dulu. Ya, mending gue kasih bunga."


"Idih sorry ya, aku engga butuh bunga dari kakak tua. Nih ambil." Dira memberikan bunga itu pada tangan Farhan.


Farhan menatap bola mata indah Dira. Wanita ini berbeda jauh dengan kebanyakan gadis yang dia kencani. Biasanya mereka sangat senang didekati Farhan, akan tetapi gadis ini justru menolak mentah-mentah bunga pemberiannya.


"Gue kasih ini buat lo. Terserah lo mau apain nih bunga, gue engga peduli. Yang jelas gue memberikannya khusus buat lo," ujar Farhan mengembalikan kembali buket bunga itu pada Dira lalu, beranjak pergi dari toko.


Dira hanya diam mematung. Sebenarnya apa maksud lelaki tua itu. Dira saja baru bertemu dengannya dua kali.


"Ah, taulah. bodo amet deh, suka-suka Dia aja," gerutu Dira begitu melihat Farhan sudah masuk ke dalam mobilnya.


...****************...


BERSAMBUNG~~~


BERI DUKUNGAN UNTUK AUTHOR DENGAN CARA


Like


Coment


Vote

__ADS_1


Rate 5


SELAMAT MEMBACA🤗


__ADS_2