Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
S2 BAB 21


__ADS_3

Keheningan tercipta di antara kedua-nya. Rasa canggung, dan tidak enak mulai terasa di dada Adnan, akan tetapi ada rasa penasaran mendorong kuat dirinya.


"Maksud, Kakak?" tanya Adnan.


Suasana kostan tidak seramai biasa. Sungguh beruntungnya Rina saat ini.


"A-aku pernah melakukan hubungan badan dengan teman Dirga," akunya.


Adnan tersentak.


"Dulu, aku bukanlah seperti ini. Pertama menginjakkan kaki di kota ini. Aku gadis bar-bar. Meski begitu, aku tidak pernah mabuk, menyentuh narkoba, ataupun berhubungan badan. Aku hanya menyukai kebebasan. Hingga satu hari setelah mendaftar kuliah, ayahku kecelakaan tunggal. Beliau memerlukan tindakan operasi secepatnya. Sedangkan, Ibuku sudah tidak memiliki biaya lagi," sambung Rina.


"Lalu?"


"Saat itu aku meminta Ibu mengambil kembali uang yang sudah masuk ke pendaftaran kampus. Namun, Ibu bilang itu tidak bisa. Aku sama sekali kalut. Ibu sudah coba meminjam saudara, akan tetapi hasilnya masih kurang. Entah, mungkin sudah takdirku, atau mungkin syetan tengah merayu-ku. Saat aku kalut, ia menawarkan hal itu padaku dengan imbalan akan melunasi biaya operasi ayahku. Aku yang sudah terlanjur bingung dengan terpaksa menerima, karena ayah membutuhkan uang itu secepatnya," jelas Rina.


Rina sesekali mengusap cairan bening di pipinya. Masih dengan posisi berdiri menghadap Adnan. Ia kembali bercerita.


"Akhirnya semua itu terjadi, dan Dirga menepati janjinya. Sebulan setelah itu, aku merasa jijik pada diriku. Hingga memutuskan menutup aurat, dan bertaubat sepenuhnya. Aku dan Dirga adalah teman satu kampung. Kala itu kami pulang bersama, ayah sangat senang melihatku. Ayah menitipkan-ku pada Dirga. Beliau berjanji akan selalu mengirimkan uang untuk sekadar keperluanku, dan Dirga juga. Meski, tidak banyak," tutur Rina.


Mata Rina mulai sembab. Adnan masih setia menatapnya. Ada rasa iba dalam diri Adnan, akan tetapi rasa itu cenderung marah pada sosok Dirga.


"Apa benar lelaki brengsek itu calon suami Kakak?" tanya Adnan.


Rina menggelengkan kepala, membuat Adnan semakin penasaran.


"Sejujurnya, Dirga hanyalah tetangga di kampungku yang kebetulan satu kampus denganku. Pertama di sini aku hanya mengenal Dirga. Soal Dirga mengaku menjadi calon suamiku itu hanyalah inistiaf dia sendiri. Ia mengatakan itu, agar lelaki lain tidak mendekatiku. Dia takut, aku menceritakaan keburukannya yang selalu memerasku. Video yang dia rekam secara sembunyi itulah senjata andalannya," jelas Rina.

__ADS_1


"Kenapa Kakak menceritakan semuanya padaku?" desak Adnan.


"Bukannya Dirga sudah mengatakan bahwa aku ini gadis kotor. Jadi, aku pikir untuk apa menutupi lagi. Hanya saja aku harus bersiap diri, kalau Dirga sampai memberikan video itu pada ayahku ...," lirih Rina.


Adnan mendengarkan semua pengakuan Rina. Ia tidak berkomentar apa pun. Setelah di rasa cukup, Rina mempersilahkan Adnan segera pulang, karena malam semakin larut.


Adnan pun pamit sembari membawa rahasia Rina dalam hatinya. Kini ia mengerti alasan senior-nya itu tidak banyak bergaul. Rasa takut menjadi alasan Rina berbaur dengan yang lain.


"Gadis yang malang," pikir Adnan.


💐💐💐💐💐💐


Pagi hadir menggantikan gelapnya malam. Setelah adzan subuh terdengar Egi bangun. Lalu, mengambil wudhu untuk bersiap melaksanakan sholat berjamaah.


Subuh itu udara masih segar. Egi dan Rendy pamit joging di sekitaran rumah. Hari weekend ini akan Egi habiskan dengan bermanjaan bersama tumpukan bukunya di kamar.


"Apa itu, Kak?" tanya Egi.


"Kita duduk dulu di sana," tunjuk Rendy pada sebuah bangku di salah satu taman dekat rumah mereka.


Egi mengekor di belakang Kakak iparnya. Hatinya bertanya apa yang sebenarnya ingin disampaikan Rendy?


Duduklah kedua-nya. Rendy memijat kakinya pelan. Lalu, menengadahkan kepala ke atas.


"Kakak dan Lisa berniat menjodohkan-mu," ungkap Rendy.


Egi seketika menoleh menatap Rendy. "Dengan siapa?"

__ADS_1


Rendy merogoh ponsel di saku celana, lalu memperlihatkan poto seorang gadis berjilbab merah.


"Namanya Syifa. Dia anak dari teman rekan bisnis Kakak. Mahasiswi berusia dua puluh satu tahun. Anak-nya baik dan cantik, Kakakmu saja menyukainya," jelas Rendy.


Egi mengambil ponsel Rendy. "Lalu, apa kalian tidak akan menanyakan pendapatku soal itu?"


"Inilah alasan Kakak mengajakmu lari bersama. Kakak ingin mendengar pendapatmu," jawab Rendy.


Egi memperhatikan dalam-dalam poto gadis itu. Wajahnya memang cantik, dan tentu masih muda. Namun, Egi tidak tertarik sama sekali.


Egi mengembalikan ponsel Rendy, lalu berkata, "Aku tidak tertarik, Kak. Ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi."


Rendy meraih barang canggih tersebut, memasukkannya kembali ke dalam saku.


"Kenapa? Apa kamu tidak mau menikah selamanya?" tanya Rendy.


"Bukan begitu, aku hanya tidak ingin dijodohkan!" bantah Egi.


"Kakak tidak akan memaksamu. Kamu bebas memilih jalan hidup-mu, tetapi lihatlah kakak perempuan-mu. Ia selalu mencemaskan-mu setiap saat. Jika kamu tidak keberatan, setidaknya cobalah dulu. Mungkin setelah dijalani, tumbuh rasa cinta di antara kalian," saran Rendy.


Egi tidak menjawab. Ia teringat kembali ucapan Rey tadi malam. Mengapa pikiran-nya terus berputar pada perkataan ayah Zahra.


Rasa trauma menutupi segalanya. Bahkan cinta Zahra tidak sanggup menebus dalamnya hati yang sakit.


"Kenapa aku tidak bisa membuka hati kembali? Ia serasa mati begitu saja," batin Egi.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG~~~


__ADS_2