
Sebulan berlalu setelah kepergian bu Ratna, Rendy mulai bisa menerima kepergian mamahnya.
Rendy sudah kembali seperti biasanya. Dia sudah pergi ke kantor juga, sudah mulai kembali mesra dengan istrinya.
Setelah hampir sebulan Rendy tak banyak bicara pada siapapun kecuali pada istrinya. Kini Rendy yang dulu datang kembali.
Berbeda dengan adik kandungnya, Dira. Dia masih menimbun kesedihan yang mendalam. Dia yang biasa ceria, tak lagi terlihat tertawa.
Dira yang sangat manja pada mamahnya, sekarang harus kehilangan tempatnya berkeluh kesah.
Hari ini Dira sedang duduk di kursi taman belakang rumah. Dia tak bersemangat untuk apapun.
pak Adrian yang khawatir dengan keadaan anak gadisnya itu, mencoba mengajak berbicara.
"Sayang." Sapa pak Adrian.
Dira menoleh ke arah papahnya lalu sedikit tersenyum.
"Kamu belum makan, nak?" Pak Adrian duduk di samping anaknya.
"Dira engga lapar, pah." Jawabnya lesu.
"Jangan begitu, sayang. Nanti kamu jatuh sakit."
"Engga apa-apa kok, pah."
Pak Adrian membuang nafas kasar, apa yang harus dia lakukan pada anaknya ini. Agar Dia bisa melihat senyum manis terukir di wajah cantik Dira.
"Sayang, Rey katanya mau ke sini ajak kamu main." Pak Adrian mengelus lembur rambut anaknya.
"Dira engga mau kemana-mana, pah. Dira mau di rumah aja."
"Jangan gitu dong, nak. Papah sedih melihat kamu seperti ini terus."
"Tapi, pah."
"Percayalah, sayang. Mamah sudah tenang di alam sana. Mamah pasti akan sedih kalau, liat kamu seperti ini terus." Bujuk pak Adrian.
Dira terdiam sejenak. Mungkin perkataan papahnya ada benarnya juga. Dia tak boleh larut dalam kesedihan seperti ini selamanya.
"Baiklah, pah. Dira akan pergi sama kak Rey." Jawab Dira mengalah.
"Nah, itu baru anak papah yang cantik." Puji pak Adrian.
Dira tersenyum kecil. Baru saja mereka membicarakan Rey, suara lelaki kocak itu terdengar menggema di dalam rumah.
"Assalamualaikum. Om, Dira. Orang tampan datang nih." Teriak Rey begitu masuk rumah.
Pak Adrian yang tengah bersama Dira, segera menghampiri Rey.
"Kamu sudah datang, Rey?" Ucap pak Adrian begitu melihat sahabat anaknya ini.
"Iya, Om. Diranya mana, om?" Rey mencium tangan pak Adrian.
__ADS_1
"Dira di belakang rumah. Ajak dia main ya, Rey. Om kasian liat Dira melamun terus."
"Siap, om. Laksanakan." Rey memberi hormat seperti hormat pada bendera.
Pak Adrian hanya tersenyum, melihat kelakuan Rey. Bagi pak Adrian, menitipkan Dira pada Rey adalah pilihan tepat.
Selain Rey yang bisa menghibur orang, dia juga sangat menyayangi Dira, sama seperti Rendy.
Rey berlalu meninggalkan pak Adrian dan segera menghampiri Dira yang masih saja melamun.
"Aduh, aduh. Anak gadis ngelamun mulu, kesambat baru tau rasa." Ujar Rey begitu sampai di belakang Dira.
Dira hapal betul suara lelaki ini, lelaki yang kadang menyebalkan tapi juga menyenangkan.
"Udah deh, kak Rey. Aku lagi males bercanda nih." Jawab Dira.
"Hei, siapa yang ngajak lo bercanda. Gue malah mau ngajak lo keluar buat jalan. Jangan di rumah mulu, lama-lama akaran lo nanti.hehehe." Rey sedikit tertawa.
"Ih, kalau ngomong sembarangan. Orang cantik mana bisa akaran, di kira aku pohon." Dira kesal.
"Hahaha. Udah sana buruan ganti baju, gue tunggu di mobil." Rey pergi meninggalkan Dira keluar.
"Iya, bawel. Ih gemes dah, heran kenapa kak Mona bisa betah sama tuh cowok satu." Omel Dira.
Dira segera pergi ke kamar, mengganti pakaian kemudian berjalan keluar rumah menghampiri Rey.
Mereka sudah berada di mobil saat ini, Rey melajukan mobil dengan tenang dan santai. Sedangkan Dira, diam menatap ke arah luar dari kaca jendela mobil.
Mobil sudah sampai di parkiran mall terbesar di kota J. Dira dan Rey segera keluar mobil dan masuk ke dalam.
Hampir sebulan penuh, Dira tak pernah menginjakkan kakinya keluar dari pintu rumah sekalipun.
Hari ini Dira menghirup kembali udara luar, dia berjalan beriringan bersama Rey.
"Lo mau ngapain dulu?" Tanya Rey setelah pusing melihat Dira hanya memutar saja dari tadi.
"Kita makan aja yuk, kak. Dira tiba-tiba lapar." Jawab Dira tersenyum kecil.
"Hayu, kalau urusan makan mah gue semangat."
"Dasar gembul." Ejek Dira.
"Biar gembul juga, yang penting Mona suka. Hahaha." Rey tertawa puas.
"Paling juga, kak Mona terpaksa mau sama kak Rey. Lah wong, kak Rey sebelas dua belas sama kak Rendy, tukang maksa."
"Wah, kalau ngomong suka bener nih bocah." Rey menggelengkan kepalanya, begitu melihat Dira berlalu ke arah salah satu kedai makanan.
Mereka sudah duduk di salah satu meja kedai makanan, Dira memesan jus alpukat dan chiken katsu. Berbeda dengan Rey, yang hanya memesan jus alpukat saja dengan dalil tak ingin di bully Dira lagi.
"Kak Rey, aku mau ke toilet sebentar ya." Pamit Dira.
"Jangan lama-lama."
__ADS_1
"Iya, komandan." Dira berlalu meninggalkan Rey sendirian.
Dira melangkahkan kakinya ke arah toilet khusus wanita. Dia sudah tak tahan ingin buang air kecil.
Selesai dengan kegiatannya, Dira segera keluar toilet untuk kembali menghampiri Rey. Karena saking berjalan terburu-buru, Dira tanpa sengaja menabrak seorang lelaki muda.
Bruk..
"Aww." Lelaki itu terdengar mengaduh sakit.
Dira segera melihat ke arah depan. Dia tak sengaja menabrak orang lain.
"Maaf, mas." Cicit Dira.
Lelaki itu terlihat menatap tajam Dira. Wanita muda ini seperti tak asing baginya. Dia pernah melihatnya tapi, dimana dia saja tak ingat.
"Hey, lo kalau jalan pakai mata dong. Ga tau apa ada orang lain di depan." Maki lelaki itu yang tak lain adalah Farhan.
Dira merasa kesal, dia sudah minta maaf pada lelaki muda ini. Tapi, reaksi lelaki ini malah membuat Dira menyesal karena sudah meminta maaf.
"Hey, kakak tua. Aku sudah minta maaf ya, tapi kenapa masih aja ngomel." Dira kesal.
"Apa!! Lo panggil gue kakak tua, lo tuh bocah ingusan." Ejek Farhan.
"Hey, hey. Siapa yang kamu panggil bocah ingusan. Engga liat apa, badanku sebesar ini." Dira tak mau kalah.
"Halah, badan lo emang besar. Tapi, otak lo tetap bocah ingusan."
"Dasar, kakak tua. Udah tua, bukannya pulang ke rumah malah jalan-jalan. Kasian anak istri di tinggalin."
"Hello, gue masih lajang kali."
"Ih, engga minat juga aku meski kakak tua masih lajang."
"Siapa juga yang mau sama bocah ingusan kaya lo. Buang-buang waktu berharga gue aja, kalau ketemu lagi gue pastiin lo habis sama gue, bocah ingusan." Farhan yang kesal segera berlalu meninggalkan Dira yang masih mengomel.
Dira yang masih kesal terus saja memanyunkan bibirnya. Rey yang melihat perubahan Dira terlihat bingung.
"Lo kenapa, bocah." Tanya Rey.
"Tau ah, Dira kesel banget hari ini. Kak, kita pulang aja yuk?" Ajak Dira yang sekilas meminum jus nya lalu, melangkah kakinya berniat pulang.
"Hey, bocah. Setidaknya jawab yang bener dulu pertanyaan gue. Sabar Rey, sabar. Cewek emang susah di mengerti. Emaaak..Rey lieur eung." Ucap Rey mengikuti jejak Dira yang sudah duluan pergi dari tempat mereka makan.
...****************...
BERSAMBUNG~~~~
Mohon dukungannya untuk author dengan like, coment dan vote๐ค๐ค๐ค
Jangan lupa author tunggu kehadirannya di karya author satu lagi ya.
SELAMAT MEMBACA๐๐๐
__ADS_1