
Sesuatu yang indah itu tidak akan datang begitu saja. Bahkan Kamu harus merasakan lelahnya mendaki gunung terlebih dahulu, untuk bisa menyaksikan keindahan alam yang di sajikan di atas puncuk gunung.
^°^ Ciety ameyzha ^°^
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
DI tengah percakapan mereka, seorang ibu paruh baya menghampiri. Dia tersenyum ramah pada Rendy. Rendy dengan segera mencium telapak tangan wanita itu.
"Kamu baru mampir lagi ke sini, Nak?" Tanyanya pada Rendy.
"Iya, Bu. Maafkan saya, karena pekerjaan di kantor semakin banyak jadi saya jarang ke sini." Rendy tersenyum.
Wanita itu melirik ke arah Lisa. Lisa yang merasa canggung kemudian ikut mencium tangannya.
"Ini siapa, Nak?" Wanita itu bertanya kembali.
"Perkenalkan, Bu. Dia istri baruku, namanya Lisa." Rendy memperkenalkan Lisa pada wanita itu.
"MasyaAllah, kamu sudah menikah lagi. Ibu tidak tau."
"Iya, Bu. Rendy tidak menggelar pesta kok, hanya ijab qabul saja."
"Cantik sekali istrimu, Nak. Sama seperti Kayla dulu." Wanita itu tersenyum ramah.
"Oh, ya Lisa. Ini bu Darmi, dia pemilik panti asuhan ini." Ujar Rendy pada istrinya.
"Salam kenal, Bu." Sapa Lisa ramah.
"Iya, Nak. Ayo kita masuk dulu." Bu Darmi mengajak mereka masuk ke dalam panti asuhan.
Suasana panti sangatlah kondusif, anak-anak itu seakan mengerti jika mereka bukan hidup bersama orang tuanya.
Mereka menurut jika di suruh untuk makan, minum ataupun tidur. Lisa tersenyum ketika melihat salah satu bayi penghuni panti asuhan ini.
Lisa mendekat perlahan pada sang bayi yang sedang diam di dalam box. Bayi itu tengah asyik memperhatikan mainan yang di gantung di atasnya.
Lisa terrsenyum melihat betapa imutnya wajah bayi itu. Tangannya hendak meraih pipi sang bayi namun, tanpa di duga tangan bayi itu menyambut hangat tangan Lisa.
Dia seakan paham ada seseorang mendekatinya, dia tertawa kecil begitu tangan mereka saling bersentuhan.
Deg....
__ADS_1
Hati Lisa bergetar, ada sesuatu yang bergejolak di dalamnya. Betapa malangnya nasib bayi ini, harus hidup tanpa kedua orang tuanya.
Rendy yang sibuk berbicara dengan bu Darmi, mulai menyadari jika istrinya sudah tak berada di sampingnya. Dia edarkan pandangannya menjelajahi isi ruangan.
Matanya menangkap dengan jelas interaksi Lisa dan seorang bayi. Dia tersenyum, mungkin jika allah sudah memberikan mereka seorang anak. Lisa akan selembut itu menjaga anak mereka.
Bu Darmi menatap Rendy lalu, mengikuti kemana arah fokus matanya. Dia akhirnya menemukan objek yang sejak tadi menjadi pusat perhatian sang donatur tetap.
"Istrimu baik, Nak. Ibu Bahagia sekali melihatmu sudah membuka hatimu kembali?" Bu Darmi mulai membuka pembicaraan.
"Dia sama seperti Kayla kan, Bu? Wajah cantiknya, lembut sikapnya dan lihatlah senyumannya saja semanis istriku dulu." Rendy terus menatap Lisa.
"Yah, ibu saja hampir kaget saat tadi melihatnya. Dia tak berbeda jauh dengan almarhum Kayla dulu."
"Setelah menikah dengannya saya menyadari sesuatu. Seorang wanita itu sanggup meluluhkan hati seorang lelaki dingin sekalipun hanya dengan kelembutan yang mereka berikan "
"Itulah, mengapa dulu ibu selalu bilang padamu. Suatu saat akan datang seseorang yang mampu mengobati lukamu, membuka pintu hatimu sekalipun kamu menguncinya serapat mungkin." Bu Darmi tersenyum pada Rendy.
"Iya, sekarang saya paham maksud perkataan ibu dulu. Saya kira, saya akan menyendiri selamanya. Tapi, Allah berkehendak lain dengan mendatangkan wanita berhati malaikat untuk menyempurnakan hidup saya."
"Mulai sekarang nikmati kehidupanmu, Nak. Biarkan mengalir begitu saja, jika ada kekurangan dari istrimu janganlah kamu terburu-buru mencari yang lain. Karena sejatinya suami istri itu, bagaikan pakaian yang harus saling melengkapi satu sama lain."
"Iya, Bu. Saya akan mengingat pesan ibu." Rendy mengganggukan kepalanya.
"Kalau begitu, saya permisi." Pamit Rendy lalu melangkah kakinya mendekati istrinya yang masih saja sibuk bermain dengan sang bayi.
Lisa tak menyadari kedatangan sang suami, dia terus saja berbicara lembut pada bayi laki-laki ini.
"Kamu cakep sekali sih. Gemes aku liatnya. Kapan ya aku bisa punya sepertimu, biar aku bisa memberikan keturunan secepatnya pada mas Rendy." Ucap Lisa pelan tapi masih bisa di dengar oleh telinga Rendy.
Hati Rendy terenyuh mendengar perkataan istrinya. Jika boleh jujur, dia juga menginginkan anak segera di rumah tangganya. Akan tetapi, dia tak ingin membebani Lisa dengan membahas soal ini.
Pernikahannya baru menginjak satu tahun bulan ini, ini masih sangat awal bagi mereka untuk cepat menyimpulkan mengapa belum ada anak di antara mereka.
"Sayang, jika aku tak bisa memberikan anak pada mas Rendy. Mungkin aku akan merasa bersalah. Bagaimana tidak, aku tau mas Rendy sangat menginginkan seorang anak dari rahimku. Dia bahkan memimpikan bisa memiliki anak kembar sekaligus." Lanjut Lisa berbicara pada bayi. Sedangkan bayi itu hanya tertawa pelan, dia pikir Lisa sedang mengajaknya bermain.
Rendy mencoba tegar mendatangi istrinya, dia akan menulikan telinganya untuk semua perkataan Lisa barusan.
"Sayang, kamu di sini rupanya. Aku mencarimu." Rendy merangkul Lisa.
"Ah, kaget mas. Maaf, aku keasyikan main sama si kecil ini." Cicit Lisa.
__ADS_1
"Sudah waktunya makan siang, kamu mau makan di sini atau nanti di perjalanan saja kita singgah di restaurant dulu."
"Aku terserah mas saja."
"Baiklah. Tapi, sebelum pulang aku ingin mengajakmu ke tempat yang indah di sini."
"Kemana, mas?"
"Ikut saja, kamu pasti suka."
"Baiklah. Adek manis, aku tinggal dulu ya. Tumbuhlah dengan baik dan jadi lelaki yang hebat." Lisa mencium kening sang bayi sehingga bayi itu kembali tertawa.
"Ayo!" Rendy menggenggam tangan Lisa. Mengajaknya ke dekat belakang panti asuhan ini.
Panti asuhan ini memang agak jauh dari keramaian kota. Jadi tidak heran masih ada tempat sejuk dan asri yang mengelilingi tempat ini.
Rendy mengajak Lisa ke sebuah taman kecil yang cukup jauh dari belakang panti asuhan. Suasananya sangat adem, pohon-pohon besar memberi keteduhan tersendiri di taman ini.
Dedaunan berjatuhan seakan bergembira menyambut mereka. Rendy mengajak Lisa duduk di bangku taman tepat berada di bawah pohon rindang.
"Duduklah!" Perintah Rendy.
Lisa menurut pada suaminya, dia duduk bersebelahan dengan Rendy. Dari sini Lisa bisa merasakan semilir angin menerpa tubuhnya.
"Sayang. Kamu ingin tau kenapa aku mengajakmu kemari?" Ujar Rendy pandangannya ia fokuskan ke depan.
"Tidak, mas." Jawab Lisa lirih.
"Di sini adalah tempat favoritnya Kayla. Ketika dia membawaku ke tempat ini untuk pertama kalinya. Saat itu aku bertanya padanya, kenapa dia membawaku ke tempat seperti ini? Ini sangat sepi bahkan mungkin orang juga tak ingin datang ke sini. Kamu ingin tahu jawabannya?"
"Iya, mas."
"Dia berkata. Suatu saat jika di antara kita pergi duluan, bawalah pasangan baru kita ke tempat ini. Bertujuan agar pasangan kita bisa merasakaan hangatnya cinta yang kita berikan." Rendy menghela nafas terlebih dahulu.
"Tempat ini mungkin sepi, jarang ada orang datang ke sini. Tapi, di sini kita bisa meluapkan segala isi hati kepada pasangan kita. Tak akan ada yang mendengarnya karena tempatnya yang sedikit terpencil. Sekalipun kita menangis, tertawa dan bercanda. Anggap saja ini adalah tempat rahasia untuk berkencan. Itu yang Kayla katakan padaku, sekaligus itu pula yang menjadi alasanku membawaku ke tempat ini." Lanjut Rendy.
Lisa menatap secara mendalam lelaki yang sedang berbicara dengannya. Sudah satu tahun pernikahan tapi, dia belum sepenuhnya tau tentang suaminya.
Tapi, Lisa patut berbahagia. Rendy begitu terbuka dengannya, setidaknya itu yang Lisa simpulkan selama perjalanan rumah tangganya.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG~~~