Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda

Demi Adikku Aku Rela Menikah Muda
91


__ADS_3

Di lain waktu, Rey tengah berbincang dengan kedua orang tuanya tentang rencana lamaran yang akan dilakukan malam nanti.


Bu Mirna dan Pak Gunawan sudah memiliki keluarga masing-masing, dan Rey menerima dengan ikhlas keluarga baru mereka masing-masing.


"Nak, apa keputusanmu sudah bulat?" tanya Pak Gunawan meyakinkan anaknya.


"Insyaallah, Ayah. Rey siap lahir batin untuk meminang Mona!" sahut Rey.


"Apa dia wanita baik-baik?" timpal Bu Mirna.


Rey tersenyum pada Ibunya lalu berkata, " Rey tidak mungkin salah memilih, Bu! Dia bukan hanya wanita baik, tapi juga wanita yang sangat ceria dan sederhana."


"Syukurlah. Kami hanya takut kamu salah memilih calon istri! Kami hanya tidak ingin nasib pernikahaanmu sama seperti kami," ujar Pak Gunawan.


Pak gunawan tidak menyesal sama sekali pernah mengenal Bu Mirna, akan tetapi pemikiran mereka yang berbedalah yang membuat mereka mantap memilih jalan perpisahan.


Untung saja Rey memahami keadaan orang tuanya, dia dengan ikhlas merelakan keluarga yang tadinya utuh menjadi bercerai berai.


Bu Mirna mendekati anak bujangnya, dielusnya dengan lembut kepala Rey. Dia tak menyangka anak yang dulu tidak menangis sekalipun saat melihat perpisahan orang tuanya, kini akan segera membina rumah tangganya sendiri.


"Nak, setelah menikah nanti. Jagalah istrimu sebaik-baiknya, bahagiakan dia semampumu dan jadilah imam yang baik untuk wanitamu," pesan Bu Mirna.


Usia Rey yang bukan kanak-kanak lagi, akan tetapi ia tetap rindu akan sentuhan seorang Ibu. Sentuhan kasih sayang yang sudah lama tak lagi bisa ia nikmati, Rey ingin lebih lama lagi merasakan tiap sentuhan lembut tangan wanita yang sudah melahirkannya.


"Insyaallah, Bu," sahut Rey menahan air mata yang seakan ingin menerobos keluar.


"Apa semua persiapannya sudah siap?" tanya Pak Gunawan.


"Rey sudah mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari, Ayah," sahut Rey.


"Baiklah. jam delapan malam kita berangkat ke sana! Kabari pacarmu tentang rencana kita!" perintah Pak Gunawan.


Rey menganggukkan kepala tanda mengerti, ia permisi sebentar untuk menelpon Mona terlebih dahulu. Rey ke halaman depan lalu merogoh saku mengambil ponsel dan segera melakukan panggilan telepon.


"Hallo. Assalamulaiakum, Kak Rey." suara Mona terdengar merdu ditelinga Rey.


"Waalaikumsalam, Sayang," jawab Mona.


"Ada apa tumben nelepon jam segini, Kak Rey?"

__ADS_1


"Kangen!" seru Rey.


"Ih, baru engga ketemu dua hari udah kangen, gimana kalau setahun," jawab Mona.


" Jangankan setahun, sedetik aja engga ketemu aku engga kuat,"


"Mulai dah, bisa engga mulutnya dibungkam dulu biar sehari engga gombal terus!" kesal Mona.


"Mendingan ngegombal daripada ngegembel, Hahahaha." Rey tertawa lepas sampai terdengar oleh orang tuanya.


Bu Mirna dan Pak Gunawan saling berpandangan. Mereka memang belum kenal calon menantu yang disiapkan anaknya, akan tetapi rasanya mereka sudah bisa nebak jika, wanita itu mampu membahagiakan Rey. Dengar sana, Rey jarang sekali tertawa puas didepan mereka sejak perceraian itu.


"Gini, Adindaku. Aku sama orang tuaku akan kerumahmu malam ini untuk meminangmu secara resmi," beber Rey.


Mona terdiam, ia hampir lupa soal lamaran itu. Bukankah Rey sudah memberitahunya seminggu yang lalu? mengapa ia belum memberitahu Ibunya.


"Ah, yah aku sampai lupa. Maaf," sesal Mona.


"Engga mau!" nada bicara Rey sedikit meninggi, ia berpura-pura marah pada kekasihnya.


"Jangan gitu dong, Kak Rey. Aku kan engga sengaja lupa," tutur Mona.


"Sengaja lupa apa kamu memang sudah mulai melupakanku?" Rey berbicara sedikit lirih.


Rey mengerutkan kening, mengapa sekarang malah kekasihnya yang marah padanya. Rey pikir Mona mau membujuknya, tapi kenyataan tak sesuai ekspetasi.


"Wanita memang sulit ditebak," batin Rey.


Rey yang tidak ingin masalah konyol ini berimbas pada acara lamarannya segera membujuk Mona. Rey berkata, " Sayang, maafin aku, ya? aku cuman bercanda tadi.


Mona masih saja tidak mau berbicara, suasana hening seketika. Rey berpikir apa bercandanya sudah keterlaluan, akan tetapi dia merasa masih dalam batas wajar.


"Adindaku. Ayo, ngomong dong! Aku berasa lagi bicara sama batu engga ada jawaban," ucap Rey.


"Enak saja aku disamain sama batu. Kak Rey tuh bikin kesel orang aja." Mona kesal karena Rey menyamakannya dengan sebuah batu.


"Hahahaha. Nah, gitu dong jawab! Aku, kan jadi engga berasa ngomong sama batu," tawa Rey.


"Awas aja kalau samain aku sama batu lagi, tak buang tuh action pigur dikamar Kak Rey semua," ancam Mona.

__ADS_1


"Waduh, ampun Bang Jago!" seru Rey.


Pada akhirnya mereka tertawa bersama, hanya karena sebuah humor recehan mampu membuat hati keduanya bahagia.


"Ya, sudah. Kakanda tutup dulu teleponnya ya, Cantikku! Peluk kangen dari Kakandamu," ucap Rey.


"Hahahaha. Udah, Kak Rey. Perutku sakit tertawa terus. Kalau begitu, aku tutup duluan. Assalamualaikum." Mona menutup sambungan teleponnya terlebih dahulu.


"Waalaikumsalam," jawab Rey sembari tersenyum.


Hanya tinggal dua langkah lagi, mereka akan segera resmi menjadi sepasang suami istri. Rey sudah membayangkan hari-hari indah yang akan ia lewati bersamanya.


"Gue bahagia banget kali ini. Semoga Allah memberi kemudahaan dari niat baik gue," gumamnya pelan.


Sementar itu, Bu Mirna dan Pak Gunawan terlihat berdiskusi perihal pernikahaan anaknya.


"Saat acara pernikahaan anak kita, kita tidak boleh membawa keluarga baru kita ke acara resmi itu," usul Bu Mirna.


"Memangnya kenapa?" tanya Pak Gunawan.


"Kita harus bisa jadi orang tua sepenuhnya di hari bahagia Rey, kalau kita membawa keluarga baru masing-masing. Sudah dipastikan kita hanya sibuk dengan mereka, lalu Rey akan sangat sedih," jelas Bu Mirna.


Pak Gunawan terdiam sejenak, ia meminang usulan mantan istrinya tersebut. Dia pikiritu tidak terlalu buruk, ia hanya harus menjadi seorang ayah sepenuhnya di hari pernikahaan anak bujangnya.


"Baiklah, aku akan membicarakan soal ini dengan istriku," jawab Pak Gunawan.


"Aku harap istri barumu mau mengerti, aku tak bermaksud apa pun. Aku juga tidak berniat merembutmu kembali, aku sudah menikah juga. Hanya saja biarkan kita fokus pada anak yang sudah mau mengerti dan menerima dengan ikhlas perpisahan orang tuanya!" tegas Bu Mirna.


Pak Gunawan berdiam diri, pikirannya jauh menembus langit malam itu. Saat remaja dulu Rey selalu bilang padanya, jika menikah nanti ia ingin Pak Gunawan menyaksikan ia berucap janji dihadapan Ilahi.


Rey ingin Pak Gunawan orang yang selalu setia mendampinginya, saat ia melewati proses ijab qabul. Tak terasa air mata Pak Gunawan lolos begitu saja mengenal momen indah itu, momen yang tidak mungkin terulang kembali.


Pak Gunawan mengusap sedikit air mata dipelupuk matanya lalu berkata, " Maafkan aku, Mirna. Aku sebenarnya tidak bahagia saat berpisah denganmu. Aku sedikit menyesal telah menceraikanmu, aku sungguh tidak bahagia dengan pernikahaanku saat ini


...****************...


.


BERSAMBUNG~~~

__ADS_1


Terimakasih atas semua dukungan yang kalian berikan untuk Author🤗


Selamat membaca😍😍😍😍


__ADS_2